TarbiyahJune 11, 2007 1:37 am

Kegagalan tarbiyah bisa terjadi ketika proses tarbiyah itu sedang dilakukan, atau juga dapat terjadi di awal proses. Kesalahan persepsi tentang tarbiyah memberi andil besar dalam membelokkan substansi tarbiyah sejak awal. Ada lima kesalahan persepsi tentang tarbiyah.

Pertama, tarbiyah dipandang semata-mata sebagai transfer materi. Oleh karena itu, yang dimaksudkan dengan sudah atau belum ‘menyampaikan materi’ adalah sudah atau belum memperdengarkan atau menyajikan materi tersebut kepada mad’u. Di sisi yang lain, mutarabbi merasa sudah mendapat materi ketika sudah pernah mendengar paparan. Persepsi ini menyederhanakan tujuan tarbiyah sebagai pengawal dalam pembentukan fikrah dan harakah.

baca selengkapnya..

TarbiyahApril 20, 2007 1:24 am

Hari-hari menjelang kedatangan Rasulullah SAW dari Tabuk sangat menegangkan. Setidaknya bagi Ka’ab bin Malik. Kalau saja ia berada dalam rombongan Rasulullah, tentu lain ceritanya.

Seperti biasa, setiap pulang dari perjalanan, Rasul lebih dulu ke masjid. Ternyata, sekitar 80-an orang munafik telah menunggu di sana. Mereka memohon kepada Rasulullah agar meminta ampunan kepada Allah karena tidak ikut perang. Mereka juga berharap agar Rasul sendiri mau memaafkan. Permintaan itu dikabulkan Rasul. Tapi, tiba-tiba wajah beliau berubah merah. Seulas senyum sinis tersungging, ketika Ka’ab bin Malik menemuinya. “Mengapa kamu tidak ikut ke Tabuk? Bukankah kamu telah membeli kendaraan untuk itu?" tanya Rasulullah. Wajar Rasulullah bersikap seperti itu. Ka’ab termasuk jajaran para sahabat terhormat, punya track record yang baik sebagai penulis wahyu, dan relatif tanpa cacat nama baik. Tidak ikut ke Tabuk menjadi sesuatu yang tak logis untuk ukuran seorang kader yang ditarbiyah oleh Rasul.

baca selengkapnya..

TarbiyahMarch 20, 2007 2:39 pm

Dalam kitab Thariqud-da’wah; bainal ashalah wal inhiraf, Syekh Musthafa Masyhur mengatakan:“Pribadi muslim adalah batu bata asasi dalam al bina’ (pembinaan), baik pembinaan al bait al muslim (keluarga muslim), atau al mujtama’ al muslim (masyarakat muslim), atau al hukumah al muslimah dan ad-daulah. Sesuai dengan kadar yang diterima oleh pribadi dalam hal tarbiyah, sesuai itu pula kekokohan bina’ (bangunan)-nya.

Aqidah dan iman yang kuat adalah asas bina’ syakhshiyyatul fardi al muslim (asas pembentukan pribadi muslim), karenanya, taqshir (keteledoran) di bidang tarbiyah terhitung sebagai kelemahan dalam al asas, dan menghadapkan bangunan kepada keambrukan, cepat atau lambat.

baca selengkapnya..

Tarbiyah, DakwahMarch 19, 2007 2:51 pm

Kita tarbiyah dalam lingkungan manusia. Sebagai sebuah konsekuensi dari struktur sosial masyarakat, diferensiasi sosial akan senantiasa ada. Atau dengan kata lain, diferensiasi sosial adalah keniscayaan bagi sebuah struktur sosial masyarakat. Dengan diferensiasi sosial masing-masing elemen, kelompok atau komponen masyarakat memiliki status dan perannya yang khas. Misalnya, status pengurus sebuah organisasi akan menciptakan peran yang berbeda dengan orang lain yang berstatus sebagai anggota organisasi. Demikian pula halnya dengan diferensiasi sosial dalam keluarga, perusahaan, kantor, instansi, dan lain-lainnya. Pendek kata, untuk setiap status sosial tersedia pula peran sosial yang khas atau spesifik.

Banyak pihak menuding diferensiasi sosial sebagai biang konflik. Diferensiasi sosial dipandang sebagai lawan kata dari ketertiban sosial (social order). Keragaman struktur dan strata dalam masyarakat dituding sebagai pemicu konflik yang terjadi di masyarakat. Paham materialisme yang demikian populer saat ini mengajarkan apa yang disebut dengan perspektif sosial konflik. Pandangan ini mencoba menyakinkan kita bahwa setiap individu atau kelompok memiliki tujuan yang berbeda-beda. Oleh karenanya, individu atau kelompok dalam masyarakat sulit untuk melakukan konsensus. Masyarakat diyakini lebih mudah melakukan konflik daripada harus melakukan kompromi.

baca selengkapnya..

TarbiyahFebruary 3, 2007 3:49 pm

Tiada arti sebuah keberhasilan proses tarbiyah rasmiyah (pendidikan: formal) tanpa di barengi kemampuan seorang mutarabbi (anak didik) dalam mengaktualisasikan dirinya sebagai nukhbah (kader) yang dinamis, sensitif dan bijak (hay, hassas, hakim). Cermatilah kecermelangan tarbiyah dzatiyah (pendidikan diri) tokoh-tokoh sejarah berikut.

Keluarga Nabi Ibrahim, AS.

Ummu Ismail tak berhasil mencari jawaban dari Nabi Ibrahim kenapa sang suami tega meninggalkan mereka di lembah tak bertanaman, tanpa kerabat dan bekal, kecuali sekantung makanan dan minuman untuk hari itu. Maka ia mencoba mencari pertanyaan lain yang mencairkan segala yang beku, membukakan segala yang buntu, dan memudahkan segala yang mustahil, “Allah kah yang menyuruhmu meninggalkan kami disini?" tanya Ummu Ismail. “Ya,” jawab Ibrahim. "Bila demikian, pastilah Ia tak akan menyia-nyiakan kami”, sahut Ummu Ismail.

Pada kondisi paling kritis dan dilematis itu, ia berhasil mengambil keputusan terbaik. Padahal sangat manusiawi, bila ia meminta agar Allah melimpahkan bahan makanan. Tapi yang dilakukan justru berdoa agar keturunannya menegakkan shalat, agar sebagian umat manusia mencintai mereka, baru kemudian ia minta agar Allah memberikan mereka rezeki buah-buahan (QS. 14;37). Ia memang pemimpin visioner. 

Atau betapa bijaknya Ismail alaihissalam ketika ayahnya mengungkapkan, “Aku melihat dalam mimpi, bahwa aku menyembelihmu." Ismail menjawab, “Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan temukan daku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. 37:102)

baca selengkapnya..

TarbiyahJanuary 13, 2007 2:57 pm

MUQODDIMAH
Sudah menjadi hal yang lazim bagi setiap tugas atau pekerjaan yang akan dilaksanakan oleh seseorang. Harus adanya kesiapan dan persiapan terlebih dahulu. Sebagai contoh membangun sebuah rumah tidak mungkin bisa terlaksana kecuali ada ahli bangunan yang memiliki pengetahuan yang lengkap tentang semua permasalahan yang terkait dengan bangunan. Demikian pula membangun manusia dengan proses tarbiyah membutuhkan murobbi-murobbi profesional.

Mengawal proses tarbiyah adalah pekerjaan yang sangat berat lagi tidak mudah, karena tarbiyah berarti mempersiapkan manusia dengan membentuk dan memformatnya menjadi orang yang memiliki syakhsyiah muslimah da’iah (kepribadian muslim) setelah menghilangkan potensi negatif dan mengembangkan potensi positif pada dirinya.

Tarbiyah berarti berinteraksi dengan manusia, makhluk yang memiliki banyak dimensi dan permasalahan yang kompleks. Orang yang berinteraksi dengan makhluk selain manusia dengan mudah dapat menundukkan dan mengendalikannya namun berinteraksi dengan manusia tidak dapat disamakan dengan berinteraksi dengan binatang atau makhluk lainnya. Oleh karena itu tidak semua orang dapat mentarbiyah, bahkan orang yang sudah memiliki pemahaman yang bagus, latar belakang ilmiah yang memadai, kemampuan berbicara dan kemampuan berdialog yang baik sekalipun belum cukup untuk menjadi murobbi sukses.

Mengingat mentarbiyah manusia bukan pekerjaan yang ringan maka para murobbi dituntut untuk terus melakukan peningkatan kualitas diri agar menjadi murobbi yang profesional.

baca selengkapnya..

TarbiyahJanuary 2, 2007 2:01 am

Halaqah adalah sebuah istilah yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan, khususnya pendidikan atau pengajaran Islam (tarbiyah Islamiyah). Istilah halaqah (lingkaran) biasanya digunakan untuk menggambarkan sekelompok kecil muslim yang secara rutin mengkaji ajaran Islam. Jumlah peserta dalam kelompok kecil tersebut berkisar antara 3-12 orang. Mereka mengkaji Islam dengan minhaj (kurikulum) tertentu. Di beberapa kalangan, halaqah disebut juga dengan mentoring, ta’lim, pengajian kelompok, tarbiyah atau sebutan lainnya.

Halaqah adalah sekumpulan orang yang ingin mempelajari dan mengamalkan Islam secara serius. Biasanya mereka terbentuk karena kesadaran mereka sendiri untuk mempelajari dan mengamalkan Islam secara bersama-sama (amal jama’i). Kesadaran itu muncul setelah mereka bersentuhan dan menerima dakwah dari orang-orang yang telah mengikuti halaqah terlebih dahulu, baik melalui forum-forum umum, seperti tabligh, seminar, pelatihan atau dauroh, maupun karena dakwah interpersonal (dakwah fardiyah).

baca selengkapnya..

TarbiyahDecember 12, 2006 9:14 pm

Suatu hari, di hadapan panglima Rustum. Para penasehat Panglima Rustum telah membuat gapura pendek. Tujuannya jelas, agar panglima Muslim, Ribi bin Amir terpaksa menghadap kepada Rustum dengan cara membungkuk. Ini cara lain untuk membuat kehinaan. Namun, apa yang membuat Ribi bin Amir tidak langsung saja maju ke hadapan Panglima Rustum dengan membungkukkan kepala? Hanya dalam hitungan detik, Ribi memutar tubuhnya dan membungkuk. Akibatnya sangat fatal bagi sang Rustum. Ribi bin Amir telah datang dengan benar-benar membungkuk, namun mendahulukan belakang tubuhnya.  

Sebagai kisah mungkin hal ini masih dapat diperdebatkan, namun ribuan fakta masa kini dan masa lalu serta masa depan, insya Allah, menunjukkan bahwa hal semacam itu bukan barang langka di dunia kita. Inilah kasus tuan makan senjata. Jangan coba-coba memberi hina kepada pemilik izzah, karena Ia akan balik mengembalikan hina kepada penghinanya, tanpa delik hukum. Yang lahir dalam badai tak takutkan raungan angin. Yang selalu menggenggam api jangan ancam dengan percikan air. Tanpa izzah imaniyah, sukar membayangkan seorang Sayid Quthub menggoreskan bait-bait tegar yang kerap dilantunkan anak-anak muda di hampir seluruh dunia:

baca selengkapnya..

Tarbiyah, Mawas diriDecember 8, 2006 11:22 pm

Suara hati memang sangat penting. Pendapat apapun yang disampaikan orang terhadap suatu perkara, suara hati tetap harus lebih diutamakan. Karena sejatinya, dialah yang paling jernih menentukan langkah yang benar atau salah.

Ada perkataan Imam Nawawi yang menarik dalam hal ini. “Jika engkau menerima hadiah dari seorang yang hartanya lebih banyak berasal dari yang haram, dan hatimu ragu-ragu untuk memakannya karena ketidakjelasan antara halal dan haramnya makanan tersebut. Kemudian ada seorang mufti (pemberi fatwa) memberi fatwa halal dan tidak melarang memakannya, maka status syubhat dari makanan itu tetap tidak hilang dengan fatwa tersebut." Artinya, meninggalkan makanan tersebut lebih utama dan lebih menenangkan hati, ketimbang mengikuti fatwa namun membuat hati gelisah. Begitulah istimewanya hati.

baca selengkapnya..

Tarbiyah, DakwahDecember 1, 2006 11:34 pm

Da’wah adalah upaya manusia untuk mengubah diri dan lingkungannya melalui berbagai sarana yang ada. Da’wah tidak mengandalkan kekuatan di luar upaya manusia sebagai dasar kerjanya. Hanya saja seseorang yang beriman meyakini bahwa ada kekuatan-kekuatan di luar kemanusiaannya yang mampu mempengaruhi kekuatan dirinya.

Pertolongan Allah SWT akan datang seiring dengan upaya-upaya manusiawi yang dilakukan oleh orang yang beriman, Oleh karena itu ketika hijrah, Rasulullah SAW meminta bantuan seorang pemandu jalan seraya mengharapkan kemudahan perjalanan dari Rabb-nya. Beliau melakukan perjalanan yang berputar dan berliku seraya mengharapkan Allah SWT menyesatkan pengejaran orang-orang kafir. Beliau bersembunyi di dalam goa sebelum Allah menutupinya dengan sarang laba laba, Ketika berperang, Muhammad SAW dan kaumnya mempersiapkan pedang dan perbekalan seraya mengharapkan bantuan malaikat dan hujan.

Sesuatu harus diupayakan atau dikerahkan oleh orang-orang beriman dalam perjuangan da’wahnya agar kemudahan-kemudahan’da’wah datang kepadanya! Pertolongan Allah SWT tidak boleh diartikan sebagai sebuah "keajaiban dari langit" yang datang dengan tiba tiba dan begitu saja, meskipun hal itu bisa saja terjadi menurut kehendak Allah swt jua. Tetapi pertolongan Allah swt harus diartikan sebagai respon-Nya terhadap upaya-upaya yang dilakukan oleh para hamba Nya, Firman Allah SWT: "Jika kamu menolong (agama) Allah niscaya Allah akan menolong kamu dan meneguhkan langkah langkah kamu." Qs(47:7)

baca selengkapnya..

«« Older Items •  Newer Items »»