-Kami Tak Ingin Disebut ’Pacaran’-
Saya paham bahwa dalam Islam kita harus menjaga pandangan dan tidak boleh bersentuhan. Namun, dalam kondisi tertentu hal tersebut sulit dijalankan. Saya pernah memiliki perasaan suka yang berbalas dengan seorang ikhwan. Saya adalah tipe orang yang dengan kondisi perasaan berbalas akan cenderung mengungkapkan perasaan saya agar hati saya lega. Awalnya hubungan kami dimulai dari SMS, yang kemudian berlanjut dengan saling telepon. Pembicaraan pun awalnya tentang organisasi yang sama-sama kami ikuti, kemudian kegiatan sehari-hari. Lama-kelamaan, pembicaraan berkembang ke seputar hal yang sebenarnya tidak penting, yang lebih menjurus kepada pribadi masing-masing. Hubungan kami pun lebih dari teman biasa. Kata-kata yang meluncur dalam pembicaraan kami pun, yah, selayaknya orang pacaran. Namun tetap, kami tidak ingin hal itu disebut pacaran. Ketika menjalani hubungan tersebut, saya merasa tidak nyaman. Saya bagai penjahat di antara orang-orang baik. Saya memang merasakan adanya kesenangan dari hubungan ini. Diperhatikan, diajak bicara, dan sang ikhwan pun memang menyatakan bahwa proses ini adalah ta’aruf versi dia. Lumrah kan? Namun, karena lingkungan kami yang memang dekat dengan nilai agama, kami pun menyembunyikan hubungan kami. Guru ngaji dan teman-teman satu pengajian tidak ada yang mengetahui. Saat rapat organisasi pun, kami berusaha menekan perasaan, sehingga tidak nampak hubungan dekat di antara kami. Jadi, ketika keluarga saya mulai bertanya-tanya mengenai hubungan kami, saya pun bisa dengan mudah menjawab bahwa kami banya teman, karena statusnya memang tidak ada. (Akhwat,21 tahun, mahasiswi di Jakarta) baca selengkapnya..
Saat-saat menjelang berbuka puasa di bulan ramadhan adalah saat-saat yang paling menyenangkan. Apalagi bila bisa dilakukan bersama-sama teman-teman dekat. Alhamdulillah, pada hari Jum’at tgl 6 Oktober 2006 yang lalu, saya mendapat undangan mengikuti acara Grand Ifthor Ramadhan 2006 di Departemen Fisika, FMIPA-UI. Acara ini dihadiri oleh kurang lebih 600 orang dari kalangan mahasiswa dan staf pengajar di lingkungan Departemen Fisika. Subhanallah, saya bersyukur bisa hadir dan bisa menikmati siraman ruhani yang sangat menyentuh dan menggugah semangat motivasi untuk beramal sholeh. Sesuatu yang sangat mahal untuk didapat selama tinggal di Fukuoka, Jepang.
baca selengkapnya..Ini kisah berangkat dari keprihatinan, setelah mencermati berbagai kelakuan anak manusia di ITC-Depok.
Pernahkah Anda iseng mencermati di Mal atau supermarket, bagaimana kelakuan anak-anak manusia dalam mengumbar hawa nafsu dan hasrat kebinatangannya?
baca selengkapnya..Oleh: Rhenald Kasali
Saya baru saja memeriksa ujian mahasiswa saya. Ketika akan menyerahkan nilai akhir Mereka, saya terpaksa menoleh kepada berita acara ujian yang mencantumkan nama beserta tanda tangan mereka masing-masing. Astaga. Tak Ada satu pun nama yang dapat saya kenali dari tanda tangannya. Hal ini mengingatkan saya pada peristiwa unik yang saya alami hampir tujuh tahun silam ketika baru saja memulai program doktoral saya di AmerikaSerikat.
baca selengkapnya..
Penulis : Mahfuz Sidik
Seorang murabbi yang baru saja membuka acara liqo tarbawinya, tiba-tiba menerima SMS dari mutarabbinya. Isinya singkat : "Afwan ustadz, saya tidak bisa hadir, sedang ada urusan lain."
Saat liqo itu berjalan setengah main, salah seorang anggota halaqoh menerima SMS, isi pesan ternyata dari teman sesama aktivis dakwah kampus berbunyi : "Akh, saya dapat forward SMS, katanya aleg kita di DPRD minta fasilitas mobil. Murabbi antum kan orang DPP, tanyain ya…?" Ketika SMS itu dikonfirmasi ke sang murabbi, anggota yang lain menimpali, "Iya… saya juga dapat SMS yang senada. Katanya malah dari anggota Dewan Syari’ah!" Walhasil, diskusi di liqo bukan lagi tentang materi tarbiyah, tetapi beralih ke soal SMS.
baca selengkapnya..
WARNING : Syahwat Lawan Jenis !!!
A. MUKADIMAH
Islam adalah nizam (aturan) hidup yang paripurna, universal, dan integral. Tidak ada satu dimensi kehidupan pun yang tidak tersentuh oleh nilai-nilai kebenaran ilahiah yang ada dalam Islam. Islam sendiri merupakan solusi atas problematika kehidupan manusia, seperti demoralisasi yang saat ini menggelembung dalam kisi-kisi kehidupan masyarakat. Tidak ada solusi yang paling baik dan benar selain Islam untuk mengatasi dekadensi moral yang merambah setiap dimensi: mulai dari kehidupan pribadi, keluarga, hingga kehidupan masyarakat; mulai dari dimensi politik sampai dimensi sosial-budaya; dan mulai dari dimensi ekonomi hingga dimensi militer. Seluruhnya hanya dapat diatasi dengan kembali berpegang teguh kepada nilai-nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan Islam. Al-Qur`an menjelaskan,
baca selengkapnya..