Pendidikan anakJanuary 29, 2009 9:27 am

Anak unggulan pasti jadi dambaan tiap orang tua. Unggul di luar, unggul di dalam. Luar, jika dinilai dari bentuk fisik dan kesehatannya. Dan dalam, diukur dari tingkat kecerdasan dan kesalehannya.

Memang, ada keunggulan-keunggulan yang mesti diupayakan. Bisa dari gizi, lingkungan rumah, dan mutu pendidikan. Tapi, ada juga yang memang ’sudah dari sananya’. Begitu orang tua di saat kecil, begitu pula keadaan sang anak. Jadi, nggak usah heran jika anak berperilaku rewel. Karena boleh jadi, begitulah keadaan ayah atau ibunya ketika kecil.

Masalahnya, dari pihak mana sifat rewel itu muncul. Dari ibu, atau dari ayah. Karena umumnya, orang cuma mengakui sifat turunan positif. Dan melupakan semua yang negatif. Motonya sederhana, "Rewel? Nggak pernah tuh!" Rasa itulah yang kini dialami Bu Heni. baca selengkapnya..

Pendidikan anakJune 24, 2008 10:55 pm

Pak Dodi tersenyum tipis saat menyaksikan tiga pengamen cilik beraksi. Bis yang ditumpanginya sedang berhenti di lampu merah perempatan Cikampek menuju tol Jakarta. Kegiatan dadakan di bis non-AC jurusan Semarang-Jakarta itu tiba-tiba membuai pikirannya menuju rumah.

Ah, gimana ya keadaan tiga anakku. Baru tiga hari dua malam, rasanya seperti tiga bulan. Kangen banget. Si sulung Fikri yang suka mandi lama. Saking lamanya, mandi Fikri selalu jadi biang keladi telat ke sekolah. Kalau tidak dimarahi, Fikri terlihat santai di kamar mandi. Ada saja yang dilakukan. Jari-jemarinya sering terlihat seperti membelai-belai air di kolam. Kadang, gayung yang sudan dipegangnya pun jadi bahan mainan. Gayung itu diangkat, diturunkan, diangkat, dan akhirnya diturunkan lagi. Seolah, ia seperti sedang memegang sebuah pesawat mainan.

baca selengkapnya..

Pendidikan anak, Mawas diriApril 17, 2008 2:43 am

"SUDAHLAH! Jangan ngoyo, kita nggak akan berhasil!" Kata-kata seperti ini mungkin pernah kita dengar pada saat orang atau kelompok orang menyusun rencana dan target kerja.

Ada dua kemungkinan mengapa kata-kata ini keluar dari mulut seseorang. Pertama, rencana yang dibuat memang tak realistis. Kedua, ada orang yang selalu memandang berat setiap masalah. Alasan kedua inilah yang biasa disebut sebagai sikap pesimis.

baca selengkapnya..

Pendidikan anak, Rumah tanggaApril 16, 2008 2:52 am
Anak menangkap pesan kekerasan melalui komunikasi yang dibangun lingkungannya setiap hari. Perlahan tapi pasti, komunikasi dengan kekerasan akan merusak fitrah anak yang penuh dengan kelembutan. Mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang sulit diatur, pembangkang, dan keras hati.

 

baca selengkapnya..

Pendidikan anak, Mawas diriOctober 19, 2006 12:01 am

Dua kelompok anak SD diminta untuk membaca suatu tulisan. Satu kelompok diberitahu bahwa mereka akan diuji mengenai bacaan mereka; kelompok lain tidak diberitahu mengenai ujian tersebut. Saat kedua kelompok itu diuji, kelompok yang diberitahu akan ada ujian menunjukkan ingatan mekanik yang lebih baik, tapi kelompok yang tidak diberitahu akan ada ujian memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai konsep yang terkandung didalam bacaan. Yang menarik, satu minggu setelah ujian, para peneliti kembali lagi untuk menguji masing-masing kelompok tadi. Seperti yang mereka kira, tidak satupun dari anak-anak itu mengingat bacaan sebanyak ujian yang pertama. Meskipun begitu, yang mengherankan adalah, anak-anak yang pada awalnya diberitahu akan ada ujian sudah banyak yang lupa daripada anak-anak yang hanya membaca bacaan tanpa diminta ikut ujian. baca selengkapnya..

Pendidikan anakOctober 14, 2006 4:50 pm

Jika anak-anak yang dididik tanpa sekolah tidak terikat untuk mengikuti kurikulum tertentu dan tidak perlu mengerjakan tugas pelajaran formal, lalu bagaimana mereka menghabiskan waktu mereka? Jika orang tua tidak mengawasi anak-anak yang belum mengerjakan pekerjaan rumah serta tidak mengevaluasi apa saja yang telah mereka pelajari, apa yang terjadi? Seperti apa rumah yang memberikan pendidikan tanpa sekolah?

Pendidikan tanpa sekolah relatif jauh lebih mudah dari pada pendekatan belajar yang lebih terstruktur, karena ada sedikit tugas formal yang harus dikerjakan. Tidak ada jadwal pelajaran, tidak ada tugas yang perlu diberikan, tidak ada tes tertulis untuk dinilai. Namun pendidikan tanpa sekolah juga lebih sulit dalam hal bahwa setiap orang harus selalu siap untuk belajar. Apa saja, kapan saja dan dimana saja bisa diubah menjadi kegiatan belajar dan mendidik. Jadi pendidikan tanpa sekolah jauh dari anggapan ’tidak melakukan apa-apa’. Bahkan para orang tua yang memilih cara pendidikan tanpa sekolah akan sangat terlibat dalam setiap jenak proses pembelajaran anak-anak mereka. Tetapi bedanya, proses itu bukan proses yang dipaksakan kepada anak-anak mereka, melainkan merupakan proses yang sangat kolaboratif dengan semangat kerjasama. Bukan pengawasan yang bersifat memaksa dan royal dalam memberi hukuman, bentakan, cubitan, sabetan rotan, jepretan karet bahkan tamparan sebagai bentuk kemarahan orang tua yang melihat anaknya tak mau mengerjakan PR atau tak mampu mengerjakannya.

baca selengkapnya..

Pendidikan anak 9:40 am

Di dalam buku Frames of Mind yang terbit tahun 1983, seorang psikolog bernama Howard Gardner menyimpulkan hasil risetnya yang mengatakan bahwa sedikitnya ada tujuh jenis kecerdasan:

  1. Kecerdasan linguistik, berkaitan dengan kemampuan bahasa dan penggunaannya. Orang-orang yang berbakat dalam bidang ini senang bermain-main dengan bahasa, gemar membaca dan menulis, tertarik dengan suara, arti dan narasi. Mereka seringkali pengeja yang baik dan mudah mengingat tanggal, tempat dan nama.
  2. baca selengkapnya..

Pendidikan anakJuly 22, 2006 7:48 am

oleh Rika Yuana Kusumah Dewi 

Tiap orangtua tentu akan berusaha memberikan pendidikan yang terbaik buat putra-putrinya bahkan sejak usia prasekolah. Peranan pendidikan prasekolah dianggap makin penting karena diyakini bisa memberikan landasan yang kuat untuk tingkatan sekolah selanjutnya.


BELAKANGAN ini, di Indonesia ada banyak sekali tawaran program pendidikan bagi anak-anak usia prasekolah, seperti kelompok bermain (play group) dan taman kanak-kanak (TK). Orangtua harus memilihkan anaknya pendidikan prasekolah yang tepat. Karena, jika keliru memilih tempat, tak hanya berarti kerugian secara finansial, juga risiko mempertaruhkan anak menghadapi masa depannya. Lalu, bagaimanakah memilih tempat pendidikan prasekolah yang tepat yang sesuai dengan keinginan dan juga kemampuan keuangan keluarga?

baca selengkapnya..

Pendidikan anak, TarbiyahApril 30, 2006 10:46 am

Salah satu aspek yang sering kita lupakan dalam mendidik anak-anak adalah tarbiyah ruhiyah. Jangankan untuk anak, untuk diri sendiri pun kita sering lupa dengan tarbiyah bentuk ini. Padahal, seperti halnya akal dan pikiran perlu mendapat pendidikan, ruh kitapun wajib mendapatkan haknya.

baca selengkapnya..

Pendidikan anakApril 20, 2006 10:21 pm

Ada 3 Macam Pola asuh yang selama ini digunakan dalam masyarakat yakni Pola Asuh Koersif, Pola Asuh Permisif dan Pola Asuh dialogis.

Pola -pola Asuh ini tidak pernah lepas dari konteks sosial suatu masyarakat. Dan bahkan tingkah laku anak hanya dapat dipahami dengan konteks sosialnya.

Ketiga bentuk pola asuh ini datang silih berganti, sejarahnya sudah 8000 tahun. Kadang-kadang koersif lebih dominan, lalu menyusul permisif kemudian datanglah dialogis untuk mengembalikan manusia ke jalan para nabi dan Rasul .

Pola Asuh Koersif berasal dari satu fase masyarakat otokratis. Suatu masyarakat yang meyakini bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk mengatur perilaku kelompok lain( yang inverior) karena merasa memiliki superioritas .

Sebagian besar kita para orang tua mewarisi pola Asuh yang kita dapatkan secara turun temurun dari orang tua kita.

Lalu sering kali timbul dalam benak kita, dulu orang tua kita menggunakan pola Asuh koersif dan ternyata mereka berhasil menghantarkan kita seperti apa yang kita rasakan saat ini. Namun pada saat kita mencoba menerapkan persis apa yang telah orang tua kita polakan kepada kita kenapa yang terjadi tidak seperti yang kita harapkan ?

Ternyata penyebabnya adalah karena telah terjadi pergeseran nilai tatanan dalam masyarakat tempat anak-anak kita dibesarkan yang ternyata jauh berbeda dengan masyarakat tempat dahulu kita dan orang tua kita dibesarkan.

Dahulu masyarakat berada pada fase otokrasi sedang sekarang sudah cenderung kepada fase permisif, sehingga banyak orang tua dibuat tak berdaya oleh anak-anak mereka yang beberapa tahun lalu masih nunut saja dengan keinginan mereka, sekarang sudah mahir untuk membrontak dan lebih-lebih lagi mereka dilindungi oleh undang-undang.

1. Pola Asuh Koersif : tertib tanpa kebebasan

Pola Asuh koersif hanya mengenal Hukuman dan Pujian dalam berinteraksi dengan anak. Pujian akan diberikan mana kala anak melakukan sesuai dengan keinginan orang tua. Sedangkan hukuman akan diberikan manakala anak tidak melakukan sesuai dengan keinginan orang tua.

Akibat penerapan pola asuh koersif ini akan muncul empat tujuan anak berperilaku negatif yakni :

Mencari perhatian, Unjuk kekuasaan , Pembalasan dan Penarikan diri.

Ketika seorang anak dipaksa untuk melakukan perbuatan yang sesuai dengan keinginan orang tua dan dengan cara yang dikehendaki olah orang tua maka anak akan kembali menuntut orang tuanya untuk memberikan perhatian atau pujian kepadanya. Sebaliknya jika anak tidak dapat memenuhi tuntutan orang tuanya maka dia akan merasa hidupnya tidak berharga maka dia akan menarik dirinya dari kehidupan.

Pada saat orang tua menghukum anak karena anak tidak mematuhi keinginannya maka anak akan belajar untuk mencari kekuasaan karena dia merasakan bahwa karena dia tidak memiliki kekuasaanlah dia jadi terhina, jika dia tidak mendapatkan kekuasaan tersebut maka dia akan menanti-nanti saat yang tepat baginya untuk membalasi semua perilaku tak enak yang dia terima selama ini.

Orang tua yang koersif beranggapan bahwa mereka dapat merubah perilaku anak yang tidak sesuai dengan nilai yang mereka anut dengan cara mencongkel perilaku itu lalu menggantikannya dengan perilaku yang mereka kehendaki tanpa memperdulikan perasaan anaknya.

2. Pola Asuh Permisif : bebas tanpa ketertiban.

Pola asuh ini muncul karena adanya kesenjangan atas pola asuh. Orang tua merasa bahwa pola asuh koersif tidak sesuai dengan kebutuhan fitrah manusia, sebagai pengambil keputusan yang aktif, penuh arti dan berorientasi pada tujuan dan memiliki derajat kebebasan untuk menentukan perilakunya sendiri. Namun disisi lain orang tua tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan terhadap putra putir mereka, sehingga mereka menyerahkan begitu saja pengasuhan anak-anak mereka kepada masyarakat dan media masa yang ada. Sambil berharap suatu saat akan terjadi keajaiban yang datang untuk menyulap anak-anak mereka sehingga menjadi pribadi yang soleh dan sholehah.

Di satu sisi orang tua tidak tahu apa yang baik untuk anaknya, disisi yang lain anak menafsirkan ketidak berdayaan orang tua mereka dengan "orang tua tidak punya pengharapan terhadap mereka."

Akibatnya anak akan terjebak kepada gaya hidup yang serba boleh persis tepat dan sesuai dengan pola yang berlaku pada masyarakat tempat dia dibesarkan saat ini. Di satu sisi orang tua akan selalu menanggung semua akibat perilaku anaknya tanpa mereka sendiri menyadari hal ini.

3. Pola Asuh Dialogis : tertib dengan kebebasan.

Pola Asuh ini datang sebagai jawaban atas ketiadaannya pola asuh yang sesuai dengan fitrah penciptaan manusia . Dia merupakan pola asuh yang diwajibkan oleh Allah swt terhadap para utusannya. Berpijak kepada dorongan dan konsekuensi dalam membangun dan memelihara fitrah anak. orang tua menyadari bahwa anak adalah amanah Allah swt pada mereka dia merupakan makhluk yang aktif dan dinamis. Aktivitas mereka bertujuan agar mereka dapat diakui keberadaannya, diterima kontribusinya dan dicintai dan dimiliki oleh keluarganya.

Dalam memperbaiki kesalahan ,anak orang tua menyadari bahwa kesalah itu muncul karena mereka belum trampil dalam melakukan kebaikan, sehingga mereka akan mencoba untuk membangun ketrampilan tersebut dengan berpijak kepada kelebihan yang anak miliki, lalu mencoba untuk memperkecil hambatan yang mebuat anak berkecil hati untuk memulai kegiatan yang akan menghantarkan mereka kepada kebaikan tersebut. Lalu juga orang tua akan berusaha menerima keadaan anak apa adanya tanpa membanding-bandingkan mereka dengan orang lain atau bahkan saudara kandung mereka sendiri, atau teman bermainnya.

Orang tua akan membiasakan diri berdialog dengan anak dalam menemani pertumbuh -kembangan anak mereka. setiap kali ada persoalan anak dilatih untuk mencari akar persoalan, lalu diarahkan untuk ikut menyelesaikan secara bersama.

Dengan demikian anak akan merasakan bahwa hidupnya penuh arti sehingga dengan lapang dada dia akan merujuk kepada orang tuanya jika dia mempunyai persoalan dalam kehidupannya. Yang berarti pula orang tua dapat ikut bersama anak untuk mengantisipasi bahaya yang mengintai kehidupan anak-anak setiap saat.

Selain itu orang tua yang dialogis akan mebrusaha mengajak anak agar terbiasa menerima konsekuensi secara logis dalam setiap tindakannya. sehingga anak akan menghindari keburukan karena dia sendiri merasakan akibat perbuatan buruk itu, bukan karena desakan dari orang tuanya.

«« Older Items •