DakwahFebruary 24, 2007 5:06 am

Setiap perjuangan berhajat pada kader inti. Itu umum dikenal, sampai oleh para pejuang komunis-sosialis sekali pun. Keberadaan kader-kader inti bagi perjuangan Islam sangat vital. Peran dan fungsinya pun amat penting. Sebab, merekalah yang diharapkan menjadi mesin utama sekaligus pusat aktivitas dari seluruh perjuangan Islam dimaksud. Sirah Rasulullah menunjukkan, ada berbagai alternatif peran yang bisa dipilih kaum muslimin yang ingin menjadi kader inti perjuangan Islam. Adanya berbagai alternatif tersebut, memberi peluang lebih besar, bahwa setiap mukmin bisa menjadi kader inti bagi perjuangan Islam:

Pertama, Kader Terikat
Ialah mereka yang secara khusus mengikatkan diri kepada perjuangan Islam. Berjanji kepada Allah bahwa seluruh jiwanya ia peruntukkan bagi Allah, di atas jalan perjuangan menegakkan agama ini bersama para pejuang lainnya. Orang-orang seperti itu terikat oleh rencana-rencana perjuangan yang telah disusun bersama berdasarkan berbagai pertimbangan. Mereka juga terikat oleh perintah dan larangan. Terikat oleh hak dan kewajiban. Contoh operasional (amali) dari para kader terikat adalah para sahabat yang melakukan bai’at Aqabah Pertama dan Kedua. Di Aqabah kedua bahkan, mereka berjanji setia untuk membela agama Islam, melindungi Rasulullah seperti mereka melindugi anak dan istri mereka. Balasan untuk orang-orang itu, seperti ditegaskan oleh Rasulullah adalah surga.

baca selengkapnya..

DakwahFebruary 23, 2007 1:59 am

Selain melakukan dakwah secara umum, Rasulullah juga menjalankan proses kaderisasi intensif kepada sejumlah sahabatnya. Dalam sejarah disebutkan, Rasulullah SAW menggelar pertemuan rutin di Darul Arqam untuk mengikat para kader dengan pimpinan mereka yakni diri Rasulullah SAW sendiri. Selain itu, Rasulullah ingin menumbuhkan rasa percaya diri para kadernya, agar tekad melanjutkan perjalanan dakwah makin kuat.

Dalam pertemuan itu, setiap sahabat yang datang ke Darul Arqam menceritakan apa yang ia alami. Mereka juga bicara tentang perbincangan yang ia lakukan, serta sanggahan yang ia sampaikan kepada kaum kafir. Nabi SAW, lalu memberi pengarahan yang sesuai, memuji sikapnya, atau meluruskan kesalahannya.

Secara teknis, Rasulullah SAW melakukan pola-pola pendekatan yang intensif kepada para sahabat dalam rangka mencetak kader-kader dawah yang handal. Di antara pola pendekatan kaderisasi Rasulullah itu adalah:

Pertama, Rasulullah menumbuhkan suasana perkenalan antara para sahabat agar hubungan hati antar mereka kian terikat serta tumbuh rasa cinta. Rasulullah mengenal baik nama, keturunan, status sosial dan karakter para sahabatnya. Rasulullah juga kerap menanyakan bagaimana keadaan para sahabat untuk lebih mengenal mereka secara lebih jauh. Itu sebabnya, ketika ditanya tentang amal apa yang paling utama, Rasulullah memberi jawaban yang sesuai dengan penanya-nya.
baca selengkapnya..

DakwahFebruary 22, 2007 1:34 am

Menjadi penolong agama Allah merupakan profesi yang sangat mulia. Menjadi penolong agama Allah artinya kita menegakkan Islam di muka bumi ini. Menegakkannya dalam jiwa kita, dalam diri kita, dalam keluarga kita, dalam lingkungan kerja kita, dalam masyarakat kita, dalam kehidupan berbangsa kita. Bahkan juga menegakkannya dalam urusan-urusan kecil keseharian kita. Bukankah makan dengan tangan kanan adalah tuntunan agama Islam? Bukankah tersenyum kepada saudara seiman adalah ajakan agama kita? Bukankah menghormati yang lebih tua merupakan ajaran agama Allah? Bukankah berbakti dan mendo’akan ayah dan ibu kita adalah seruan agama Allah?  Bukankah membaca do’a sebelum masuk kamar kecil anjuran agama Allah? Tentu. Semua menjadi bukti bahwa tak ada yang disebut perkara remeh dalam Islam, meskipun perkara itu kecil.

Menjadi penolong agama Allah, sekali lagi, merupakan amal dan profesi yang sangat mulia. Apa dasarnya? Banyak sekali. Antara lain: Pertama, Allah sendiri telah memberikan label, bahwa menjadi penolong agama Allah – dalam bentuk berda’wah dan menyeru manusia – merupakan amal yang sangat mulia. Lihat dan perhatikan firman-Nya, yang artinya, "Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru (manusia) kepada Allah, mengerjakan amal shalih, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’” (Qs. Fushilat: 33).

baca selengkapnya..

Tarbiyah, DakwahDecember 1, 2006 11:34 pm

Da’wah adalah upaya manusia untuk mengubah diri dan lingkungannya melalui berbagai sarana yang ada. Da’wah tidak mengandalkan kekuatan di luar upaya manusia sebagai dasar kerjanya. Hanya saja seseorang yang beriman meyakini bahwa ada kekuatan-kekuatan di luar kemanusiaannya yang mampu mempengaruhi kekuatan dirinya.

Pertolongan Allah SWT akan datang seiring dengan upaya-upaya manusiawi yang dilakukan oleh orang yang beriman, Oleh karena itu ketika hijrah, Rasulullah SAW meminta bantuan seorang pemandu jalan seraya mengharapkan kemudahan perjalanan dari Rabb-nya. Beliau melakukan perjalanan yang berputar dan berliku seraya mengharapkan Allah SWT menyesatkan pengejaran orang-orang kafir. Beliau bersembunyi di dalam goa sebelum Allah menutupinya dengan sarang laba laba, Ketika berperang, Muhammad SAW dan kaumnya mempersiapkan pedang dan perbekalan seraya mengharapkan bantuan malaikat dan hujan.

Sesuatu harus diupayakan atau dikerahkan oleh orang-orang beriman dalam perjuangan da’wahnya agar kemudahan-kemudahan’da’wah datang kepadanya! Pertolongan Allah SWT tidak boleh diartikan sebagai sebuah "keajaiban dari langit" yang datang dengan tiba tiba dan begitu saja, meskipun hal itu bisa saja terjadi menurut kehendak Allah swt jua. Tetapi pertolongan Allah swt harus diartikan sebagai respon-Nya terhadap upaya-upaya yang dilakukan oleh para hamba Nya, Firman Allah SWT: "Jika kamu menolong (agama) Allah niscaya Allah akan menolong kamu dan meneguhkan langkah langkah kamu." Qs(47:7)

baca selengkapnya..

Tarbiyah, Dakwah, PotretNovember 30, 2006 5:21 pm

Keimanan sunatullahnya naik dan turun. Begitu juga kesalehan, tak dapat diukur hanya dari sepotong label berjudul ikhwan, akhwat, anak ustadz, atau sekedar ngaji tak ngaji. Keimanan dan kesalehan lebih bermuara pada hati yang bersih, niat yang ikhlas, amal yang banyak manfaat dan perilaku yang mencerminkan akhlaqul karimah. 

Seperti yang terungkap pada tulisan yang lalu, Hubungan Tanpa Status (HTS), sebuah fenomena pergaulan baru sebagai gejala rasionalisasi percintaan ala anak-anak muda yang mengaku aktivis dakwah. Ini jelas merusak kesucian hati. Mereka “punya rasa" satu sama lain, namun sedapat mungkin berupaya tidak melanggar pagar-pagar adab bergaul, yang kadang berhasil, kadang tidak. Mengaku tidak pacaran, tetapi kerap berdekatan. Secara fisik, juga emosi, Dalam rapat organisasi, dalam kegiatan kuliah, hingga aktivitas-aktivitas berlabel dakwah itu sendiri. Jalannya? Ya macam-macam. Pertemuan-pertemuan ‘tak’ disengaja, keperluan-keperluan yang terencana dengan memilih tempat-tempat umum dan terbuka bila ada perlu ‘berduaan’, atau saling telepon, sms, email hingga chatting yang bersambungan untuk bermacam urusan mulai dari yang penting hingga mengarah pada curhat soal pribadi. Itulah rasionalisasi. Makanya, meski tanpa ikrar maupun janji yang pasti, bisa dikatakan setiap orang tahu, siapa ‘punya’ siapa, atau siapa ‘ngetek’ siapa. Ya itulah yang terjadi pada ‘pelaku-pelaku’ HTS yang masih muda dan tengah menerima gempuran syahwat yang menerjang dari segala arah. 

baca selengkapnya..

DakwahNovember 24, 2006 10:51 pm

DI ANTARA prioritas yang sangat dianjurkan di sini,  khususnya dalam  bidang  pemberian  fatwa  dan  da’wah  ialah  prioritas terhadap persoalan yang ringan dan mudah atas  persoalan  yang berat dan sulit. 

Berbagai  nash yang ada di dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw menunjukkan bahwa yang mudah dan  ringan  itu  lebih  dicintai oleh Allah dan rasul-Nya.

Allah SWT berfirman: 

   "… Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…" (al-Baqarah: 185)

   "Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah." (an-Nisa’: 28) 

   "… Allah tidak hendak menyulitkan kamu…"  (al-Maidah: 6)

Rasulullah saw yang mulia bersabda,  

   "Sebaik-baik agamamu ialah yang paling mudah darinya."1

baca selengkapnya..

Tarbiyah, DakwahNovember 7, 2006 3:42 pm

Sepintas judul di atas tampak kontradiktif. Dakwah dan nyaman. Dapatkah kedua hal itu bertemu pada seseorang? Sejarah dakwah, sejak zaman para nabi, adalah sejarah perjuangan, pengorbanan, tantangan, ujian, kesulitan, dan bentuk-bentuk “penderitaan" lainnya. Tak kurang Rasulullah saw. mendapat berbagai ‘hadiah’ dari orang-orang kafir Quraisy, gara-gara beliau aktif melancarkan dakwah. Dari mulai kata-kata yang menyakitkan dan menghina sampai ancaman pembunuhan. Itu digambarkan oleh Allah swt. dalam ayat-Nya:

"Dan ingatlah ketika orang-orang kafir Quraisy membuat makar terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya." (Al-Anfal 30)

Dakwah di masa kini pun tidak akan terhindar dari hal-hal yang merenggut kenyamanan itu. Sebab adalah memang merupakan sunnatullah bahwa ajakan kebenaran akan mendapatkan perlawanan dari pecinta kebejatan; dan ajaran keadilan akan mendapatkan gempuran dari pembela kezaliman; seruan untuk mentauhidkan Allah akan mendapatkan hadangan dari para agen-agen kemusyrikan. Lebih-lebih bila dakwah yang digulirkan itu adalah dakwah yang bersifat komprehensif, holistik, integeral dan universal. Dakwah  mencita-citakan perombakan total dalam setiap aspek kehidupan.

baca selengkapnya..

DakwahNovember 1, 2006 11:07 pm

Alangkah terkejutnya Saad bin Abi Waqash ketika melihat sahabat karibnya, Umar bin Khatab berjalan begitu tergesa-gesa sambil menghunus pedang. Sejumput amarah tampak terbaca pada raut wajah satu dari dua orang yang sangat berpengaruh di Mekkah itu. Segera Saad bin Abi Waqash menghampiri Umar, “Hai, Ibnul Khattab, akan pergi kemanakah engkau?”

Umar mendengus, “Mencari Muhammad. Celaka orang itu. Ia sudah berani mendirikan agama baru dan memutuskan persaudaraan kita, memecah belah persatuan bangsa kita, membodohkan orang-orang pandai kita, mencaki maki agama nenek moyang kita, menghina tuhan-tuhan kita, dan merendahkan kemuliaan kita. Jika aku bertemu dengannya, akan langsung aku bunuh!!!”

baca selengkapnya..

DakwahSeptember 12, 2006 1:19 am

Apa arti sebuah lilin dalam kehidupan ? Mungkin ini terlalu dipertanyakan. Sebab lilin hanya sebuah benda kecil. Kegunaannya baru tampak manakala lampu listrik padam. Tapi lilin adalah cahaya. Dan cahaya adalah sebentuk materi. Kebalikannya adalah gelap. Gelap bukan materi, ia tak memiliki daya. Ia adalah keadaan hampa tanpa cahaya. Karena itu, meskipun kecil, lilin selalu dapat mengusir gelap.

baca selengkapnya..

DakwahAugust 27, 2006 5:26 am
Muqoddimah 
 
Sudah menjadi hal yang lazim bagi setiap tugas atau pekerjaan yang akan dilaksanakan oleh seseorang, harus adanya kesiapan dan persiapan terlebih dahulu. Sebagai contoh membangun sebuah rumah tidak mungkin bisa terlaksana kecuali ada ahli bangunan yang memiliki pengetahuan yang lengkap tentang semua permasalahan yang terkait dengan bangunan. Demikian pula membangun manusia dengan proses tarbiyah membutuhkan murobbi-murobbi profesional. Proses tarbiyah pekerjaan yang sangat berat lagi tidak mudah, karena tarbiyah berarti mempersiapkan manusia, membentuk dan memformatnya menjadi syakhsyiah (berkepribadian) muslimah da’iah setelah menghilangkan potensi negatif dan mengembangkan potensi positif pada dirinya.
baca selengkapnya..

«« Older Items •  Newer Items »»