Tarbiyah, DakwahJune 16, 2008 11:02 pm

Komitmen terhadap dakwah hingga akhir hayat tidak akan terjadi tanpa adanya pilar tajarrud. Secara lughawi tajarrud bermakna: mengosongkan, membersihkan, melepaskan, atau menanggalkan.

Makna syar’i tajarrud adalah: membersihkan dan melepaskan diri dari segala ikatan selain dari ikatan Allah dan segala keberpihakan selain kepada Allah. Tajarrud menuntut kita untuk:

baca selengkapnya..

DakwahApril 4, 2008 10:46 am

Ketika da’wah tidak hanya bergulir di ruang-ruang masjid, namun juga dalam berbagai lembaga profesi dan kantor yang sarat formalisme (aturan baku yang mengikat) dan kecanggihan infrastruktur. Maka persoalan metode da’wah menjadi bahan renungan sangat penting. Salah satu dari metode itu ialah membasiskan seruan dan da’wah tersebut di atas prinsip-prinsip profesionalitas. Sesuatu yang di dalam Islam sering diistilahkan dengan itqon.

baca selengkapnya..

Tarbiyah, DakwahJanuary 27, 2008 3:28 pm

Kepribadian yang Islami tidaklah muncul seketika. Ia adalah hasil tempaan yang memakan waktu proses yang relatif cukup lama. Bagaikan lukisan berkelas, yang merupakan perpaduan antara ide, imaginasi, kecerdasan dan cita rasa yang tinggi. Jadi, membina seseorang agar pada dirinya tumbuh kepribadian yang islami, tidaklah sesederhana menggoreskan cat minyak di atas kanvas putih. Perlu waktu dan kesabaran. baca selengkapnya..

Tarbiyah, DakwahJanuary 21, 2008 3:53 pm

Syakhsiyah Islamiyah (kepribadian yang islami) tidak tumbuh seketika. Bagaikan bibit tanaman, ia perlu dipelihara dan ditumbuhkan secara bertahap berkesinambungan. Ia perlu dijaga dari hama yang bisa mematikan pertumbuhannya. Ia perlu disirami agar tetap segar dan terus tumbuh. Ia perlu dikenai sinar matahari agar senantiasa berkembang dengan normal. Bahkan suatu bibit tanaman perlu dipilihkan lahan yang subur yang bisa menjamin dirinya agar bisa terus tumbuh, berkuncup, berkembang dan berbuah.

baca selengkapnya..

DakwahAugust 2, 2007 1:25 am

"Berdakwah untuk menyeru manusia kepada kebaikan, jika disertai dengan penyimpangan perilaku para da’i, merupakan penyakit yang akan menimbulkan kebimbangan dalam diri. Tidak hanya pada diri seorang da’i, tetapi juga terhadap dakwah. Hal inilah yang mengacaukan hati dan pikiran masyarakat karena mereka mendengar kata-kata yang indah tetapi menyaksikan perbuatan yang buruk. Saat itulah, mereka bingung untuk menilai ucapan dan perbuatan.

baca selengkapnya..

DakwahMay 29, 2007 2:44 am

Kehidupan kini dipenuhi dengan nilai-nilai jahili materialistik, membuat bingung dan kehilangan pegangan hidup. Mereka membutuhkan ajakan yang dapat mengembalikan kesucian diri sebagai manusia.

Sementara itu, dakwah untuk mengembalikan ummat manusia kepada fitrahnya, nampak kehilangan ruh (hakekat dan semangat dakwah). Sehingga, dakwah tidak memiliki manhaj, pedoman dan arahan yang jelas. Terutama untuk menjadikan kaum muslimin sebagai khairu ummah, yang dapat memainkan peran utama dalam kancah kepemimpinan dunia.

Maka ummat Islam harus menyadari dan kembali kepada pemahaman dakwah yang benar, yaitu Dakwah Rabbaniyyah. Dakwah yang dibenarkan Islam dan merupakan satu-satunya dakwah yang dapat memperbaiki ummat dan mengembalikan kaum muslimin menjadi pemimpin dunia. Karena dakwah ini berdiri di atas jalan Islam yang lurus dan siapa mengikuti jalannya, mereka tidak akan pernah mengalami kesesatan. 

baca selengkapnya..

DakwahMay 19, 2007 5:23 pm

Da’wah akan berhadapan dengan dimensi masyarakat, yang dari kurun ke kurun berkembang dan memiliki karakternya masing-masing. Da’wah yang efektif tentu harus cerdas dalam memainkan peran dan fungsinya agar fungsi rahmatan lil `alamin yang dipikulnya dapat bekerja optimal. Dengan kata lain, modal da’wah pada setiap zaman tentu akan berbeda, karena mesti dibawakan, dikomunikasikan, disesuaikan dengan karakter zamannya. Pesan Rasulullah SAW sangat jelas, "khotibunnasi ‘ala qodri `uqulihim‘; "khotibunnas ‘ala lughotihim" Da’wah harus mampu berkomunikasi secara efektif, disesuaikan dengan kondisi dan karakter masyarakat yang menjadi obyek da’wahnya. Bila cara dan muatan da’wah tidak "match" dengan situasi/kondisi dan tuntutan da’wah, sangat mungkin da’wah tersebut ditinggalkan orang.  baca selengkapnya..

DakwahMarch 26, 2007 5:58 am

Di samping patokan-patokan dasar berupa tuntunan akhlaq Islami yang mengatur pola hubungan antar manusia dan manusia dengan lingkungannya kiranya dibutuhkan juga beberapa kiat praktis agar kita sukses dalam berinteraksi atau berhubungan dengan siapapun.

Dalam Al-Qur’an surat 9:128, Allah SWT menerangkan tentang sifat-sifat mulia yang dimiliki Rasulullah SAW yang membuatnya berhasil dalam berda’wah, berinteraksi dan merebut hati manusia banyak: “Laqad jaa-akum rasulun min anfusikum, ‘azizun alihi maa ‘anittum, harisun ‘alaikum bil mu’minina raufur rahim” (Telah datang seorang rasul kepadamu dari golonganmu sendiri. Terasa amat berat apa yang kamu derita, ia sangat menginginkan kebaikan bagimu. Terhadap mu’min ia santun lagi kasih sayang).

baca selengkapnya..

Tarbiyah, DakwahMarch 19, 2007 2:51 pm

Kita tarbiyah dalam lingkungan manusia. Sebagai sebuah konsekuensi dari struktur sosial masyarakat, diferensiasi sosial akan senantiasa ada. Atau dengan kata lain, diferensiasi sosial adalah keniscayaan bagi sebuah struktur sosial masyarakat. Dengan diferensiasi sosial masing-masing elemen, kelompok atau komponen masyarakat memiliki status dan perannya yang khas. Misalnya, status pengurus sebuah organisasi akan menciptakan peran yang berbeda dengan orang lain yang berstatus sebagai anggota organisasi. Demikian pula halnya dengan diferensiasi sosial dalam keluarga, perusahaan, kantor, instansi, dan lain-lainnya. Pendek kata, untuk setiap status sosial tersedia pula peran sosial yang khas atau spesifik.

Banyak pihak menuding diferensiasi sosial sebagai biang konflik. Diferensiasi sosial dipandang sebagai lawan kata dari ketertiban sosial (social order). Keragaman struktur dan strata dalam masyarakat dituding sebagai pemicu konflik yang terjadi di masyarakat. Paham materialisme yang demikian populer saat ini mengajarkan apa yang disebut dengan perspektif sosial konflik. Pandangan ini mencoba menyakinkan kita bahwa setiap individu atau kelompok memiliki tujuan yang berbeda-beda. Oleh karenanya, individu atau kelompok dalam masyarakat sulit untuk melakukan konsensus. Masyarakat diyakini lebih mudah melakukan konflik daripada harus melakukan kompromi.

baca selengkapnya..

DakwahFebruary 25, 2007 8:38 am

Sejarah menunjukkan, jumlah kader inti perjuangan da’wah selalu sedikit. Namun itulah sesungguhnya rahasia kekuatan mereka. Seperti terlihat dalam peperangan yang dilakukan Rasulullah:

Perang Badar
Inilah perang pertama yang dilakukan kaum muslimin. Sekaligus peristiwa paling penting bagi sejarah perkembangan da’wah Islam. Meski dengan kekuatan yang jauh lebih kecil dibanding kekuatan musuh, dengan pertolongan Allah, kaum muslimin berhasil menang menaklukkan pasukan kafir.

Rasulullah SAW berangkat bersama tigaratusan orang sahabat dalam perang Badar. Ada yang mengatakan mereka berjumlah 313, 314, dan 31 7 orang. Mereka kira-kira terdiri dari 82 atau 86 Muhajirin serta 61 kabilah Aus dan 170 kabilah Khazraj. Kaum muslimin memang tidak berkumpul dalam jumlah besar dan tidak melakukan persiapan sempurna. mereka hanya memiliki dua ekor kuda, milik Zubair bin Awwam dan Miqdad bin Aswad al-Kindi. Di samping itu mereka hanya membawa tujuh puluh onta yang dikendarai secara bergantian, setiap onta untuk dua atau tiga orang. Rasulullah saw sendiri bergantian mengendarai onta dengan Ali dan Murtsid bin Abi Murtsid Al-Ghanawi.

baca selengkapnya..

«« Older Items •