AkhlaqMay 18, 2006 3:07 pm
Makna Itsar

Secara bahasa itsar berarti mementingkan orang lain lebih dari diri sendiri. Dari segi fitrah setiap manusia yang masih terjaga fitrah kemanusiaannya juga dapat berbuat mulia, mementingkan orang lain dan bukan diri sendiri serta menolong orang lain tanpa memikirkan diri sendiri. Di Inggris pernah terjadi kasus penyelamatan seorang anak yang jatuh di rel kereta api oleh seorang laki-laki. Alhamdulillah anak itu bisa diselamatkan, namun sebelah tangan laki-laki itu putus tersambar kereta api yang melaju kencang. Mungkin seumur hidupnya anak tersebut takkan bisa melupakan jasa seseorang yang rela mengorbankan sebelah tangannya untuk menyelamatkan nyawanya.

baca selengkapnya..

Akhlaq 11:44 am

Dalam menghadapi sesuatu yang tidak disenangi, seorang hamba mempunyai dua kemungkinan sikap: rela atau sabar. Rela adalah sikap utama yang di-sunnahkan, sedangkan sabar adalah sikap yang wajib bagi seorang Mukmin. 

baca selengkapnya..

Tarbiyah, AkhlaqMay 9, 2006 4:31 am
Cinta itu indah. Karena ia bekerja dalam ruang kehidupan yang luas. Dan inti pekerjaannya adalah memberi. Memberi apa saja yang diperlukan oleh orang-orang yang kita cintai untuk tumbuh menjadi lebih baik dan berbahagia karenanya.
baca selengkapnya..

Tarbiyah, AkhlaqApril 27, 2006 12:01 am
Hubungan yang baik antara manusia yang satu dengan lain, dan khususnya antara muslim yang satu dengan muslim lainnya merupakan sesuatu yang harus dijalin dengan sebaik-baiknya. Hal ini karena, Allah Swt telah menggariskan bahwa mu’min itu bersaudara. Itu sebabnya, segala bentuk sikap dan sifat yang akan memperkokoh dan memantapkan persaudaraan harus ditumbuhkan dan dipelihara, sedangkan segala bentuk sikap dan sifat yang dapat merusak ukhuwah harus dihilangkan. Agar hubungan ukhuwah islamiyah itu tetap terjalin dengan baik, salah satu sifat positif yang harus dipenuhi adalah  husnuzh zhan (berbaik sangka).
baca selengkapnya..

Tarbiyah, AkhlaqApril 25, 2006 2:12 am

Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya. Banyak orang cepat datang ke shaf shalat layaknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi. Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan tuhannya. Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada izin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang Allah berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan Allah atasmu.

baca selengkapnya..

AkhlaqApril 16, 2006 12:19 am
Para pahlawan mukmin sejati selalu unggul dalam kekuatan spiritual dan semangat hidup. Senantiasa ada gelombang gairah kehidupan yang bertalu-talu dalam jiwa mereka. Itulah yang membuat sorot mata mereka selalu tajam, dibalikkelembutan sikap mereka. Itulah yang membuat mereka selalu penuh harapan di saat virus keputusasaan mematikansemangat hidup orang lain. Itulah vitalitas.
 
Tidak pernahkah kesedihan menghingggapi hati mereka? Tidak adakah jalan bagi ketakutan menuju jiwa mereka? Pernahkah mereka tergoda oleh keputusasaan untuk mengendurkan diri dari pentas kepahlawanan? Adakah disaat-saat dimana mereka merasa lemah, cemas, dan merasa tidak mungkin memenangkan pertempuran?
 
Para pahlawan itu tetaplah manusia biasa. Semua gejala jiwa yang dirasakan oleh manusia biasa juga dirasakan parapahlawan. Ada saat dimana mereka sedih. Ada saat dimana mereka takut. Jenak-jenak kelemahan, keputusasaan, kecemasan, dan keterpurukan juga pernah mendera jiwa mereka.


Tapi yang membedakan dengan manusia biasa adalah bahwa mereka selalu mengetahui bagaimana mempertahankan viatalitas, bagaimana melawan ketakutan-ketakutan, melawan kesedihan-kesedihan, bagaimana mempertahankan harapan dihadapan keputusasaan, bagaimana melampaui dorongan untuk menyerah dan pasrah di saat kelemahan mendera jiwa mereka. Mereka mengetahui bagaimana melawan gejala kelumpuhan jiwa.
 
Vitalitas hidup biasanya di bentuk dari paduan keberanian, harapan hidup, dan kegembiraan jiwa. Tapi ketiga hal ini dibentuk paduan keyakinan-keyakinan iman dan talenta kepahlawanan dalam diri mereka. Dari sini saya kemudian menemukan bahwa para pahlawan mukmin sejati selalu memilki tradisi spiritual yang khas Mereka mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang khas di bentuk oleh keyakinan yang unik terhadap keghaiban. Dengan cara itu merekamereka mempertahankan stamina perlawanan yang konstan. Kebiasaan-kebiasaan yang khas itu biasanya berbentuk ibadah mahdhah, tapi biasanya disertai dengan perilaku-perilaku tertentu yang sangat pribadi. Misalnya dua contoh berikut ini :
 
Dalam suatu peperangan kaum Muslimin menemukan betapa kekuatan Ibnu Taimiyah melampaui para mujahidin lainnya. Mereka pun menanyakan rahasia kekuatan itu pada Ibnu Taimiyah. Beliau menjawab:"Ini adalah buah dari Ma’tsurat yang selalu saya baca di pagi hari setelah shalat subuh sampai terbitnya matahari. Saya selalu menemukan kekuatan yang dahsyat setiap setelah melakukan wirid itu. Tapi jika suatu saat saya tidak melakukannya, saya akan merasa lumpuh pada hari itu."

 

Suatu saat - dalam perang Yarmuk - Khalid bin Walid menyuruh dengan marah beberapa pasukannya untuk mencari topi perangnya yang hilang dari kepalanya. Beberapa saat kemudian pasukannya muncul dan melaporkan kalau topi Khalid tidak berhasil ditemukan. Khalid pun marah dan menyuruh mereka mencarai kembali. Akhirnya mereka menemukannya. Tapi Khalid merasa perlu menjelaskan sikapnya yang unik itu. "Dibalik topi perang saya ini ada beberapa helai rambut Rasulullah SAW. Tidak pernah saya memasuki suatu peperangan dan memakai topi ini melainkan pasti saya merasa yakin bahwa Rasulullah SAW selalu mendoakan kemenangan bagi saya."

 

Itu hanyalah sebentuk hubungan yang sangat pribadi dengan Rasulullah yang pernah menggelarinya "Pedang Allah Yang Senatiasa Terhunus."

 


Anis Matta, Lc 
Akhlaq 12:06 am

Ada sisi lain yang menarik dari pengalaman emosional para pahlawan yang berhubungan dengan perempuan. Kalau kebutuhan psikologis dan biologis terhadap perempuan begitu kuat pada para pahlawan, dapatkah kita bayangkan seandainya mereka tidak mendapatkannya?

Rumah tangga para pahlawan selalu menampilkan atau bahkan menjelaskan, banyak sisi dari kepribadian para pahlawan. Dari sanalah mereka memperoleh energi untuk bekerja dan berkarya. Tapi jika mereka tidak mendapat sumber energi itu, maka kepahlawanan mereka adalah keajaiban di atas keajaiban. Tentulah ada sumber energi lain yang dapat menutupi kekurangan itu, yang dapat menjelaskan kepahlawanan mereka.

Ibnu Qoyyim menceritakan kisah Sang Imam, Muhammad bin Daud Al-Zhahiri, pendiri mazhab Zhahiriyah. Beberapa saatmenjelang wafatnya, seorang kawan menjenguk beliau. Tapi ternyata Sang Imam justru mencurahkan isi hatinya kepada sang kawan, tentang kisah kasihnya yang tak sampai. Ternyata beliau mencintai seorang gadis tetangganya, tapi entah bagaimana, cinta suci dan luhur itu tak pernah tersambung jadi kenyataan. Maka curahan hatinya tumpah ruah dalam bait-bait puisi sebelum wafatnya.

Kisah Syyid Quthub bahkan lebih tragis. Dua kalinya ia jatuh cinta, dua kali pula ia patah hati, kata Dr. Abdul Fatah Al-Khalidi yang menulis tesis master dan disertasinya tentang Sayyid Quthub. Gadis pertama berasal dari desanya sendiri, yang kemudian menikah hanya tiga tahun setelah Sayyid Quthub pergi ke Kairo untuk belajar. Sayyid menangisi peristiwa itu.

Gadis kedua berasal dari Kairo. Untuk ukuran Mesir, gadis itu tidak termasuk cantik kata Sayyid. Tapi ada gelombang yang unik yang menyirat dari sorot matanya, katanya menjelaskan pesona sang kekasih. Tragedinya justru terjadi pada hari pertunangan. Sambil menangis gadis itu menceritakan bahwa Sayyid adalah orang kedua yang telah hadir dalam hatinya. Pengakuan itu meruntuhkan keangkuhan Sayyid, karena ia memimpikan seorang yang perawan fisiknya, perawan pula hatinya. Gadis itu hanya perawan pada fisiknya.

Sayyid Quthub tenggelam dalam penderitaan yang panjang. Akhirnya ia memutuskan hubungannya. Tapi itu membuatnya makin menderita. Ketika ia ingin rujuk, gadis itu justru menolaknya. Ada banyak puisi yang lahir dari penderitaan itu. Ia bahkan membukukan romansa itu dalam sebuah roman.

Kebesaran jiwa, yang lahir dari rasionalitas, realisme dan sangkaan baik kepada Allah, adalah keajaiban yang menciptakan keajaiban. Ketika kehidupan tidak cukup bermurah hati mewujudkan mimpi mereka, mereka manambahkan harapan kepada sumber segala harapan, Allah!

Bagitulah Sayid Quthub menyaksikan mimpinya hancur berkeping-keping, sembari berkata, Apakah kehidupan memang tidak menyediakan gadis impianku, atau perkawinan pada dasarnya tidak sesuai dengan kondisiku? setelah itu ia berlari meraih takdirnya, dipejara 15 tahun, menulis Fii Dzilalil Quran dan mati di tiang gantungan! Sendiri! Hanya sendiri!

(Tarbawi Edisi 53 th.4/Dzulhijjah 1423 H/20 Pebruari 2003-02-27.)

Penulis adalah Sekertaris Jenderal DPP PK-Sejahtera.

Tarbiyah, AkhlaqApril 15, 2006 11:52 pm

PRIORITAS AMALAN HATI

Imam Ibnu Al Qayyim mengklasifikasikan ibadah dalam 3 (tiga) bagian, yaitu :

1. Amalan Hati, seperti : Tawakkal kepada Allah SWT., mahabatullah, tawadhu`, khusyû`, niat ikhlash, raja` dan lain sebagainya.

2. Amalan Lisan, seperti : Mengucapkan dua kalimat syahadatain, tasbîh, istighfar, bersumpah atas nama Allah SWT. , berdo`a dan lain sebagainya.

3. Amalan Anggota Badan, seperti : Shalat, puasa, jihad, menuntut ilmu, berdagang, berladang, dan lain sebagainya.

Amalan yang paling diprioritaskan atau paling afdhal di antara 3 (tiga) jenis amalan tersebut adalah amalan hati yang dilakukan oleh hati manusia beriman. Ada beberapa alasan asasi (dasar) yang menjadi dasar dari prioritas ini:

1. Amalan hati merupakan penentu sah atau tidaknya suatu amalan

Sesungguhnya amalan lahiriyah yang dilakukan oleh lisan dan anggota tubuh lainnya tidak akan diterima oleh Allah SWT., selama tidak disertai dengan amalan hati (niat) yang merupakan dasar bagi diterimanya suatu amal lahiriah. Sabda Rasûlullah SAW:

"Sesungguhnya seluruh amalan harus disertai dengan niat." (Muttafaqun `Alaihi dari Umar bin al-Khaththab ra.)

Karena itu suatu amal atau pekerjaan atau aktifitas (apapun bentuknya) sangat bergantung dan terkait dengan niatnya. Suatu amal tanpa disertai dengan suatu niat yang benar, seperti halnya badan tanpa ruh atau seperti pohon tanpa buah, tidak berfungsi, dan tidak menguntungkan sedikitpun.

Hatilah yang dinilai oleh Allah SWT, karena bila bersih niatnya, maka Allah SWT. akan menerima amalannya dan apabila kotor hatinya (niatnya tidak benar atau berbau syirik atau tidak ikhlash), maka dengan sendirinya amal tersebut akan ditolak, sabda Rasûlullah SAW:

"Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat kepada bentuk tubuh dan rupamu, tetapi Dia melihat kepada hatimu sambil Beliau mengarahkan jari-jariNya ke dadanya" (H.R. Muslim dari Abû Hurairah ra ).

2. Hati merupakan cerminan hakikat pemiliknya

Dalam shahîh Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Nabî SAW bersabda:

"Ketahuilah sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal darah, apabila dia baik maka baiklah seluruh tubuhnya, dan apabila dia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu ialah hati." (Muttafaqun `Alaihi, dari Nu`man bin Basyîr).

Untuk lebih memperjelas pemahaman hadîts di atas marilah kita mengingat kembali firman Allah SWT yang termuat dalam surat Asy-Syams, ayat 8 - 10 :

"Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan, (QS. 91:8) sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, (QS. 91:9) dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS. 91:10)."

Dalam hati manusia terdapat dua jenis "bibit penentu", yang satu kita sebut saja sebagai "bibit kebaikan" yang merangsang dan mendorong manusia untuk melakukan amal kebaikan atau perbuatan yang mendekatkan dirinya kepada Allah SWT., sedang yang lainnya kita sebut dengan "bibit kejahatan" yang merangsang manusia untuk melakukan melakukan perbuatan fahsya (keji) atau kemungkaran kepada Allah SWT.

Al-Fujûr merupakan "benih kejahatan" yang dengan istilah lainnya dikenal sebagai nafsu syahwat syaithaniyah yang senantiasa membisiki dan menghembusi manusia untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan tercela lagi berdosa yang akan mengantarkannya ke jalan kefasikan dan berhilir di neraka. Sedang at-Taqwa merupakan "benih kebaikan" yang senantiasa memotifasi dan memobilisasi manusia untuk melakukan amal kebajikan dan pekerjaan yang mendekatkan dirinya kepada Allah SWT.

Dari sini kita dapat mengetahui bahwa pada hati manusia terdapat 2 (dua) kekuatan yaitu kekuatan "Fujur" dan "Taqwa" (sebagaimana yang dipaparkan dalam surat Asy-Syams di atas) yang selalu bertempur untuk saling mengalahkan satu dengan yang lainnya sehingga salah satu dari keduanya menjadi pemenang atau lebih mempunyai pengaruh dalam menentukan perilaku kehidupan "tuannya". Apabila setiap rangsangan "benih kebaikan (At-Taqwa)" ini yang timbul dalam diri manusia selalu direspon dalam bentuk amal shalih secara benar dan kontinue (berkesinambungan) maka dengan sendirinya "benih kebaikan" akan semakin berkembang dan akan mendominasi atau mengusai hati "tuannya". Sehingga ide, pola fikir, keperibadian dan seluruh anggota tubuhnya akan menjadi baik karena mengikuti instruksi-instruksi yang datang dari hati yang dipenuhi dengan "benih kebaikan". Maka jadilah "tuannya" ini termasuk orang-orang beruntung yang mampu membersihkan jiwanya dari nafsu syahwat syaithaniyah karena ia hanya mau merespon bisikan dan panggilan kebaikan (taqwa) saja. Sebagaimana firman Allah SWT:

"Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, (QS. 91:9)

Dan sebaliknya bagi manusia yang lebih sering merespon tuntutan nafsu syahwat syaithaniyahnya maka tindakan tercela lagi berdosa itu dengan otomatis memberikan kontribusi dan mempercepat pertumbuhan serta peluasan "benih-benih kejahatan (fujûr)" sehingga benih ini akan mendominasi hatinya. Dari Abû Hurairah ra bahwa Rasûlullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya orang mukmin, ketika ia berbuat dosa maka (saat itu juga) akan menempel titik hitam di hatinya, jika ia bertaubat dan mencabut (dirinya dari perbuatan dosa tersebut) dan memohon ampunan maka hatinya (kembali) bersih, jika ia menambahinya (dengan perbuatan dosa lagi) maka titik hitam itu bertambah pula di dalam hatinya. Selanjutnya itulah "ran" yang disebutkan dalam firman Allah SWT:

"(Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka)."

Hadits hasan, dikeluarkan oleh Ibnu Majah dalam "Kitab Az-Zuhd, bab Dzikru Adz-Dzunûb.

Pada saat hati manusia dikuasai oleh "benih-benih kejahatan (fujûr)" maka ide, pola fikir, keperibadian dan seluruh anggota tubuhnya akan menjadi buruk karena mengikuti instruksi-instruksi yang datang dari hati yang dipenuhi dengan "benih kejahatan", sehingga jadilah ia termasuk orang-orang yang merugi karena ia telah mengotori dan mencemari jiwanya dengan selalu menuruti nafsu syahwat syaithani, sebagaimana firman Allah SWT:

"Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS. 91:10)."

Dalam kitab Minhajul Qashidîn dikatakan:

Bahwa sesuatu yang paling berharga, paling bernilai dan paling mulia pada diri manusia adalah hatinya. Sedang anggota tubuh hanya sekedar mengikuti dan menjadi pelayan hati, sebagaimana seorang tuan yang memerintahkan hamba sahayanya sebagai pelayannya.

Wallahu’alam

Tarbiyah, Akhlaq 11:28 pm
Ada sebuah fenomena yang terus menggelitik benak saya. Betapa produktifnya para penyanyi menciptakan syair-syair lagu cinta. Dari yang lembut seperti gayanya Ebiet atau Katon, hingga yang kocak dan kadang kelewatan seperti Iwan Fals dan Doel Sumbang. Kalau mendengar lirik-lirik lagu dangdut, bukan main, benar-benar diaduk-aduk emosi cinta itu sedemikian rupa. Dan, sungguh, banyak orang menjadi penggemar dan hanyut dalam lirik-lirik lagu itu.
 
Saya juga melihat fenomena larisnya film-film tema cinta remaja. Jaman saya remaja, dunia layar lebar dihiasi Gita Cinta dari SMA, Kabut Sutra Ungu, dan judul-judul lain yang saya sudah lupa. Beberapa diantara film itu diangkat dari cerbung-cerbung Eddy D. Iskandar dan di-sound track-i lagu-lagu Chrisye. Beberapa tahun lalu diantara film yang dianggap menjadi momentum kebangkitan kembali perfileman nasional adalah Ada Apa dengan Cinta dan dilanjutkan film lain seperti Eiffel, I’m in Love. Saya tidak tahu apa film yang ngetop saat ini. Yang saya dengar televisi kebanjiran sinetron-sinetron Korea dan Jepang yang memang sangat dalem ketika menyibak suasana kejiwaan orang yang kasmaran. Winter Sonata misalnya, bukan hanya menggocang Indonesia, tapi juga di banyak negara Asia lain.
 
Ya, saya bertanya-tanya kenapa tema cinta tak pernah ada habis- habisnya ditulis, disusun liriknya dan kemudian dinyanyikan atau difilemkan. Sampai kemudian saya menemukan tulisan-tulisan Anis Matta dalam Thumuhat (Gelora) Cinta pada majalah Tarbawi. Dia cukup sering mengangkat kisah dari tulisan Ibnul Qayyim; Sampai kemudian seorang sahabat saya memperlihatkan "Taman Orang-orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu" yang ditulis Ibnul Qayyim.
 
Ya, ya … saya menemukan masalah cinta ini disibak Ibnul Qayyim dengan sangat detil dan gamblang. Tadinya saya menduga beliau akan menulis bahwa cinta tertinggi itu bagi Allah dan cinta lain haruslah demi cinta pamuncak itu, selebihnya tulisan akan mengungkap penjabarannya. Saya salah. Ternyata beliau terus menuliskan sisi-sisi kejiwaan orang-orang yang jatuh cinta. Jadi buku ini betul-betul berbicara tentang manusia yang tak mungkin lepas dari jatuh cinta dan merindukan orang yang dicintai.
 
[Saya membuka lagi halaman-halaman awal buku. Cinta dalam bahasa Arab diwakili dengan lima puluh kata berbeda. Tidak! Bahkan ada banyak lagi kata yang bermakna cinta, hanya saja beliau membatasi pada kata-kata yang terkait dengan bahasannya pada buku itu.]
 
Oh, ternyata para ulama dulu pun bicara cinta. Cinta buta, cinta yang membuat gila, cinta yang membuat sakit dan bahkan membuat si pencinta mati karenanya. Ibnul Qayyim engungkapkan gejolak-gejolak cinta yang melanda seorang pemuda yang terkenal shalih dan wara’ kepada seorang perempuan yang ia dengar suara nyanyiannya hingga tanya jawab seorang khalifah kaum muslimin dengan para ulama seputar makna cinta buta. Untuk itu di beberapa tempat pandangan Aristoteles pun dikutipnya. Beliau juga mengangkat tanya-jawab dan fatwa-fatwa ulama terkenal seputar cinta. Bahkan kisah cinta buta ini dijumpai pada masa ketika Nabi Muhammad saw masih hidup, pada kisah Mugits yang begitu tergila-gila mencintai Barirah. Dan Nabi mendiamkan kondisi Mugits dan memakluminya. Ini menjadi salah satu diskusi yang dikembangkan Ibnul Qayyim pada topik apakah cinta buta itu takdir atau sesuatu yang dibuat.
 
Kesimpulan sementara yang saya fahami, cinta itu bak penyakit yang menyerang jiwa. Si pencinta tak pernah tahu kapan cinta merasuk jiwanya dan gejolak cinta itu akan terus mendorongnya untuk memuaskan hasrat cintanya. Karenanya Anis Matta pernah menulis satu kolom berjudul "Kasihanilah Para Pencinta" pada Thumuhat-nya. Tahulah saya tema cinta itu tak akan pernah sepi dari kehidupan manusia. Tema cinta bukanlah untuk dihentikan, tapi untuk diarahkan.
 
Saat saya menulis ini, buku Taman Orang-orang yang Jatuh Cinta tidak di dekat saya, sehingga saya tidak bisa mengutip syair-syair cinta yang buanyak tersebar di dalamnya. Ada beberapa yang saya ingat maknanya. Ini salah satunya:
 
cinta itu membuat engkau buta
akan cela yang dicinta
dan engkau rela
pada apapun keadaannya
cinta itu ketika menghujam membuatmu siap
berkorban untuk yang dicinta
 
Saya masih membaca buku itu (maklum dibaca ketika sudah agak malam saja, sepulang dari kampus). Ada beberapa tujuan. Yang paling dekat adalah untuk memahami diri sendiri yang belakangan kok sedang jatuh cinta (lagi) dan juga sesak memendam rindu … . Yang berikutnya adalah untuk memahami anak-anak yang menjelang remaja. Saya ingin mengajarkan makna cinta yang indah ini secara benar kepada mereka. Jangan sampai mereka menyimpulkan cinta dari tontonan dan bacaan yang tidak benar atau paling tidak manipulatif. Yang berikutnya lagi, saya cukup sering bertemu sahabat-sahabat yang dirundung penyakit cinta dan rindu. Kisah cinta dan rindu ini nampaknya sederhana, tapi setelah diselami permasalahannya tidak sesimpel yang ibayangkan. Dan berikutnya yang terakhir, paling tidak untuk menutup tulisan ini, masalah cinta ini menjadi masalah sosial yang akut. Bukan hanya menimpa para remaja yang terseok-seok atau tersesat ketika mencoba memahaminya, akan tetapi juga pada keluarga-keluarga yang sudah lama menikah tapi masih saja penuh kesulitan saling mengeja arti cinta di rumah masing-masing.
 
Wa Allahu a’lamu bish shawwab.
 
Ust. Adi Junjunan Mustafa, Chiba, Jepang
AkhlaqApril 8, 2006 9:49 am
Daya cipta material adalah kekuatan. Pengorbanan adalah kekuatan. Tapi apa yang dilakukan seorang pahlawan mukmin jika harta dan sarana yang diciptakannya, dan ingin dikorbankannya di jalan cita-citanya, ternyata tidak sampai memenuhi total kebutuhannya?
 
Itu adalah sisi kepahlawanan yang lain. Apa yang teruji dalam situasi itu adalah seberapa percaya ia kepada dirinya sendiri, kepada cita-citanya, kepada Allah, di tengah semua keterbatasan itu, seberapa ‘nekat’ ia melawan tekanan keterbatasan itu, seberapa cerdas ia mensiasati keterbatasan itu, seberapa efesien ia dalam keseluruhan hidupnya.
 
Melahirkan sebuah karya kepahlawanan di tengah keterbatasan itu adalah kepahlawanan yang lain. Tapi ini memaksa kita mencari penafsiran, yang lebih utuh, tentang semua faktor yang mempengaruhi proses penciptaan karya kepahlawanan tersebut. Pertanyaannya adalah, jika kecukupan sarana dan harta terhadap kebutuhan penciptaan karya kepahlawanan tidak seimbang, maka faktor apakah yang menjelaskan lahirnya karya tersebut?
 
Berkah. Inilah rahasianya! Semua arti berkah bertemu pada makna pertumbuhan dan pertambahan. Berkah terjadi pada waktu, ilmu dan harta. Intinya: produktivitas yang tercipta dari waktu, ilmu dan harta melampaui nilai nominalnya. Berkah terjadi pada sesuatu yang sedikit namun menghasilkan banyak.
 
Inilah yang terjadi pada Thalut ketika melawan jalut. Ini yang terjadi pada Rasulullah SAW di hampir semua pertempurannya. Ini yang terjadi pada Umar bin Khattab sa at meruntuhkan Persi dan merebut banyak wilayah Romawi. Inilah yang terjadi ketika Shalahuddin merebut kembali Palestina dari tangan pasukan salib. Inilah yang terjadi pada Muzaffar Quthuz ketika merontokkan serangan pasukan Tartar dalam pertempuran Ain jalut.
 
Tapi dari manakah datangnya berkah? Berkah adalah karunia Ilahiyah -yang biasanya- diberikan pada puncak spiritualitas seorang pahlawan mukmin; pada puncak keikhlasannya, kejujurannya, keberaniannya, tawakkalnya, kesungguhannya; pada puncak dimana ia melakukan segalanya secara habis-habisan.
 
Sebab kita, kata Umar dalam sebuah suratnya kepada Amru Bin Ash di Mesir, tidak akan pernah sanggup mengalahkan orang-orang kafir dengan kecukupan sarana dan banyaknya jumlah tentara kita. Kita hanya dapat mengalahkan mereka karena kita beriman dan mereka kafir, karena kita bertakwa sementara mereka bermaksiat. Berkah adalah rahasia para pahlawan mukmin; rahasia yang menjelaskan hukum tentang yang sedikit namun menghasilkan banyak; rahasia tentang kerja aqidah dan iman dalam dunia materi kita.
 
oleh: Anis Matta, Lc 
Sumber: Tarbawi, edisi 62/26 Juni 2003
«« Older Items •  Newer Items »»