Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka ketika Thalut dan orang-orang yang beriman bersamanya telah menyeberanginya, mereka berkata: "Tak ada daya bagi kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya."
(AI-Baqarah: 247)
Apa yang membedakan Barat dan Timur, Utara dan Selatan? Salah satu jawaban mungkin; Barat (dulu) punya daya jelajah yang kuat dan jauh, sementara Timur punya daya tahan banting yang tangguh. Lihatlah, begitu banyak kepedihan tak mampu menjerumuskan si kulit berwarna ke jurang putus asa, sementara si bule terjerumus menuju neraka khamr dan narkotik, atau bunuh diri. Kebanggaan teknologi menjadi trade mark sejarah yang semu. Sementara harga peradaban yang tinggi melambung, tetap disikapi dengan ‘acuh tak acuh’ bangsa timur.
Lama sudah Iqbal menggaungkan untuk bangsa timur, semangat jelajah yang kuat, karena mereka punya lempung yang alot dan bahan baku yang selalu menghadirkan keindahan dan kesimbangan. Tetapi jari mana yang bisa memilin lempung menjadi tembikar peradaban yang indah dan ’sempurna’. Dan lempung mana yang tabah dibakar, sehingga laik digelar di pasar dunia?
Sekarang, timur yang tahan banting dan sabar masihkah seperti dulu? Lihatlah revolusi demi revolusi yang dilahirkannya dan kemudian memangsanya. Tengoklah kini anak-anak timur memilih seni mati paling tragis; mandi minyak lalu menyulut diri atau meminum obat serangga atau seutas tali di leher, mati sia-sia dalam cengkeraman AIDS. Daya tahannya rapuh sementara daya jelajahnya masih jauh tertinggal. Nilai ujian nasional mereka begitu rendah, nyontek sudah menjadi gaya belajar dan anggaran riset cuma gurauan.
Pendiriikan yang tak menumbuhkan semangat bertarung positif (ruhut tahaddi), hanya akan membuahkan pribadi yang terapung antara daya tahan minus daya jelajah atau daya jelajah minus kendali diri. Di suatu hari Ied Rasulullah SAW menyaksikan kaum Ahbasy berolah tempur, beliau support mereka, "Dunakum Bani Arfidah" (Kejar wahai Bani Ar-fidah), (HR. Bukhari). Suatu generasi yang tangguh dan berdaya jelajah, mutlak diperlukan.
Ada masa orang ingin membangun kembali dunia dengan slogan yang simpatik, "Back to Nature", tetapi pelaksanaannya menyeramkan; tinggalkan sekolah, pergi mengasingkan diri untuk menyatu dengan alam, tanpa mesin, unsur cyber, bahkan akhirnya tanpa pakaian.
Kesucian Pribadi dan Limbah Lingkungan
Bahasa menunjukkan bangsa, demikian kata pepatah. Dan itu benar. Bangsa apa kita ketika menyebut rumah rawat dengan sebutan rumah sakit, sementara orang Arab menyebutnya mustasyfa (rumah sehat atau rumah rawat) dan orang Inggris menyebutnya dengan Hospital. "Berapa ongkos Jakarta-Surabaya pulang pergi?" belum lagi pergi resahkan pulang. Betapa keringnya kata reward dan betapa melimpahnya kosa kata punishment.
Ada analisa, mengapa ranah Mekkah tak cukup subur bagi Da’wah pra hijrah dan mengapa Madinah begitu cepat menerima dan memenangkannya? Karena Mekkah tak pernah mengalami perang besar yang melahap segala yang kering dan yang basah. Sedangkan Madinah, sampai lahir Rasulullah SAW masih menyisakan perang besar yang lama, 120 tahun, perang Buats. Kota yang menyaksikan kematian banyak puteranya selama 120 tahun menjadi pragmatis dan lahan gersang bagi kelestarian adat lama pusaka usang. Ia menjadi lahan subur bagi dakwah dan perubahan. Mekkah merawat datuk-datuk dan tengku-tengku dengan apik dan telaten, sehingga seorang pemuda usia 40-an tahun yang diutus kepada mereka, serta merta ditolak. Padahal semua syarat dan kelaikan; jujur, amanah, tabligh dan fathanah, santun, cerdas, berani, setia.
Tetapi apakah latar belakang menjadi sangat dominan untuk dihadapkan kepada komitmen dan pengabdian sejati? No way. Kita dapat menta’lil (memberi alasan) bagi tambahan perhatian untuk memenangkan dakwah di suatu kawasan, tetapi tidak untuk membuat alasan berdiam diri. Karena alasan bahan baku manusia yang dari tanah itu, cukup sudah untuk membuatnya mundur, karena kompetitor abadi ialah iblis yang bahan bakunya dari api. Atau bahan baku malaikat yang dari cahaya serta karakter dasarnya yang tak pernah melawan, selalu dalam taat. Justru karena itulah naluri berani merespon tantangan (ruhut tahaddi) yang Ia tanamkan dalam diri manusia, telah membuatnya berani mencoba. Dan ia menang.
Ranah Bahasa yang Gersang Iman
Apa yang bergetar di hati seorang beriman ketika ia temukan dalam buku biologi anak-anaknya kalimat berikut: "Alam telah memberikan kita zat antibodi untuk mengusir benih-benih penyakit". Atau "Alam telah memberikan kita karunia yang besar, berupa sel-sel yang akan menjadi otak, jantung, kulit dan berbagai-bagai lainnya". Mungkin
mereka tak mempertuhankan alam. Mereka terlalu modern untuk membodohkan diri menyembah batu. Tetapi siapa yang mengingkari betapa melimpahnya orang yang dengan pasrah menyerahkan diri pada sabda alam seraya minum racun serangga bersama kekasih, karena alam telah menghendaki mereka tak bisa bersatu di dunia. Komunikasi keilmuan dan kebudayaan yang dikosongkan dari nilai-nilai Ilahiyah akan melahirkan manusia congkak, psudo mandiri dan tercerabut dari nilai-nilai kehambaan. Semua dipandang sebagai benda yang mendatangkan keuntungan atau menolak perjuangan.
Betapa keringnya lidah dari kesejukan dzikir, kalau tidak ada sejumlah anak generasi yang tak malu-malu menyebut-Nya dengan mantap atau hanya berani mengucapkannya sebagai dzikir politik. Itu kekalutan sekularisme di satu sisi, sementara di sisi lain pesimisme dan fatalisme menjamur dalam bahasa ungkapan seperti ‘rumah sakit’ dan ‘pulang pergi’. Mereka benar-benar tak berani menjabarkan bahaya di depan, sehingga mengungkapkannya dengan ungkapan ‘demi menjaga hal yang tak diinginkan‘ atau ungkapan orang Betawi, ‘takut kenape-nape‘.
Dimana tanggung-jawab pria atas wanita yang dihamilinya ketika warga diajak mengungkapkan itu sebagai ‘kecelakaan’. Dimana sikap pembelaan yang sungguh-sungguh bila penjamin mengungkapkan pembelaan dengan ‘backing’ atau ungkapan "jangan takut, aku di belakangmu." Kalau pelindung di belakang, maka tembakan musuh di depan tentu akan mengenai yang dilindungi. Betapa terangnya angka 166 triliun korupsi dan betapa gelapnya siapa yang bertanggungjawab. Betapa terangnya sosok kapal keruk dan kapal angkut yang merampoki pasir laut di Riau dan betapa jelasnya ‘penadah’, yaitu Singapore. Tetapi betapa gelapnya siapa penanggung jawab penghancuran lingkungan, ekonomi, politik dan martabat bangsa itu.
Tak Ada Perbaikan tanpa Taubat
Kaum beriman mampu bertahan dalam kekurangan, bahaya atau bencana, tetapi juga dalam senang, bahkan dalam meyakinkan maryarakat bahwa mereka itu pemenang. Mujamalah sedekah kata adalah energi besar yang melipat-gandakan produktifitas. Setiap orang merasa diperhatikan dan didukung oleh kanjeng Nabi SAW. Mujamalahnya adalah doa, bukan basa-basi kosong pemanis pertemuan.
Tetapi moralitas hedonik telah merasuki ranah pemikiran dan perasaan kita seperti limbah beracun meresapi tanah yang tak lagi memiliki jaringan alamiah dari akar pepohonan, karena akar-akar beton telah menggantikannya. Popularitas di panggung telah jadi harapan tertinggi orang tua bagi anak-anaknya. Kekayaan halal atau haram menjadi tujuan hidup. Haji, umrah, korupsi dan selingkuh silih berganti, tanpa sesalan dan luka hati. Pemikiran dan perasaan orang-orang yang hanya mengenal Tuhan yang pengasih tanpa sifat tegas dan kekuasaan menghukum, telah meninggalkan biang karat yang menghancurkan, kebanggaan dalam pembangkangan. Wallahu’alam
Bacaan lainnya:
Membangun dan membina militansi
