UncategorizedJuly 31, 2008 9:05 am

Sejarah telah diwarnai, dipenuhi dan diperkaya oleh orang-orang yang sungguh-sungguh. Bukan oleh orang-orang yang santai, berleha-leha dan berangan-angan. Dunia diisi dan dimenangkan oleh orang-orang yang merealisir cita-cita, harapan dan angan-angan mereka dengan jiddiyah  (kesungguh-sungguhan) dan kekuatan tekad. baca selengkapnya..

Rumah tanggaJuly 20, 2008 10:39 pm

Rumahku surgaku." Indah nian harapan yang disiratkannya. Harapan, karena banyak juga ungkapan lain yang bernada pesimis, bahkan putus asa. Dimana salahnya bila ada orang bersungut menggerutui nasib: "Gagasan tumbuh di jalan, berkembang di kantor dan mati di rumah," desahnya.

baca selengkapnya..

TarbiyahJuly 19, 2008 3:34 pm

Menilai orang lain sesungguhnya merupakan perilaku yang telah menyatu pada fitrah setiap manusia dari sejak kecil hingga dewasa, bahkan sepanjang umurnya. Secara sadar ataupun tidak, saat berinteraksi dengan orang lain, seketika itu juga benak kita akan menilai lawan interaksi kita tersebut. Sejumlah faktor yang bisa memunculkan penilaian atas diri orang lain antara lain bisa berupa: penampilan, cara berpakaian, merk busana, paras wajah, gambar tato dikulit, gelang tangan, gaya bicara, bahasa tubuh, tingkat tanggung jawab, tingkat komitmen, track record, latar belakang pendidikan, kedudukan, salary/harta, tingkat perhatian/empati, sikap ataupun cara penyelesaian terhadap suatu persoalan, dan banyak ragam lagi faktor yang bisa dinilai. Jadi, aktivitas menilai orang lain bukanlah hal yang asing ataupun aneh dan tabu. Di rumah, di lingkungan tempat tinggal, di sekolah, di kampus, di perusahaan, di instansi pemerintah baik yang departemen maupun yang non departemen, bahkan hampir didalam semua institusi formal, yang namanya mekanisme fit and proper test lazim dilakukan pada sejumlah orang kandidat dalam rangka promosi jabatan ataupun sekedar rekrutment karyawan atau anggota baru. Semua itu tak lain adalah bentuk aktifitas menilai manusia yang dilakukan oleh manusia yang lain. Sebuah contoh kejadian menilai manusia bisa dibaca pada kisah berikut ini (silakan klik disini). baca selengkapnya..

UncategorizedJuly 17, 2008 2:36 pm

Para pahlawan mukmin sejati mempunyai pendengaran jiwa yang sangat peka. Ia dapat menangkap semua panggilan kepahlawanan, darimana pun datangnya panggilan itu, dan sekecil apa pun suara panggilan itu. Panggilan kepahlawanan itu senantiasa menciptakan getaran dalam jiwanya, getaran yang senantiasa menggodanya untuk mengepakkan sayap cita memenuhi panggilan itu.

baca selengkapnya..

Mawas diriJuly 14, 2008 11:11 pm

Amal-amal kita, tidak hanya dicatat para malaikat. Karena cerita-cerita dan kesan yang kita tinggalkan di dunia setelah mati, serupa cermin nilai dari prilaku kita selama hidup. Alangkah indahnya, sebuah kematian yang bisa meninggalkan cerita-cerita baik pada keluarga. Alangkah bahagianya, sebuah kematian yang mengesankan jejak hidup yang menjadi pelajaran kebaikan bagi mereka yang masih menjalani hidup. Alangkah gembiranya, bila kematian kita menyisakan kesan dari amal-amal saleh yang bermanfaat untuk orang lain.

baca selengkapnya..

Uncategorized 12:20 am

Ada ungkapan yang sangat dalam maknanya, disampaikan Syaikh Abi Madiin dalam kitab Tahdzib Madarijus Salikin. Katanya, "Orang yang telah benar-benar melakukan hakikat penghambaan (ubudiyah), akan melihat perbuatannya dari kaca mata riya. Melihat keadaan dirinya dengan mata curiga. Melihat perkataannya dengan mata tuduhan." Ia lantas menjelaskan bahwa kondisi seperti itu muncul karena semakin besarnya tuntutan kesempurnaan dalam diri seseorang. "Semakin tinggi tuntutan dalam hatimu, maka semakin kecillah kamu memandang dirimu sendiri. Dan akan semakin mahal harga yang harus ditunaikan untuk memperoleh tuntutan hatimu itu." (Tahdzib Madarijus Salikin, 119)

baca selengkapnya..

UncategorizedJuly 10, 2008 9:44 pm

Akhirat. Kampung tempat segalanya berkesudahan. Mengakhiri jalan panjangnya. Rumah penghabisan, tempat segala hiruk pikuk dunia ditimbang, lalu ditunaikan hak orang-orang yang punya hak. Serta diambilkan bayaran kekurangan orang-orang yang berbuat curang. baca selengkapnya..

AkhlaqJuly 2, 2008 11:11 pm

Hidup kadang seperti petani yang berharap menanti hujan. Ketika awan gelap membumbung menutup langit, halilintar menyambar-nyambar memecut bumi; ketakutan pun muncul. Padahal, di balik gelapnya langit dan kilatan path, di situlah tercurah hujan.

Di masa kekhalifahan Umar bin Khaththab, pernah terjadi gempa besar. Orang-orang panik. Korban pun berjatuhan. Beberapa saat setelah kejadian itu, Khalifah menyampaikan pesannya. "Kalian suka melakukan bid’ah yang tidak ada dalam Alquran, sunah Rasul, dan ijma (kesepakatan umum) para sahabat Nabi, sehingga kemurkaan dan siksa Allah turun lebih cepat." (Sunan Al-Baihaqi diriwayatkan dari Shafiyah binti Ubaid)

baca selengkapnya..