Televisi dalam keluarga kadang seperti pisau bermata dua. Bisa positif, bisa juga negatif. Semua bergantung pada pemahaman dan kepekaan para pemimpin keluarga. Masalahnya, tidak semua pemahaman bisa kokoh ketika berhadapan dengan yang namanya hobi.

 

KELUARGA mana di negeri ini yang bisa terisolasi dari tayangan televisi. Dari yang miskin hingga kaya, dari yang preman sampai yang ikut pengajian; nyaris tak luput dengan keberadaan televisi. Cuma bedanya, ada yang paham; ada juga yang buta.

Repotnya, tidak semua yang paham bisa terus paham ketika televisi menjadi begitu memikat. Dan yang pernah paling menyulap pemirsa adalah tayangan bola dunia. Karena bola, malam jadi seperti siang, dan siang seolah sebagai malam. Hal itulah yang pernah  dirasakan Pak Gugun.

baca selengkapnya..