Betapa dahsyatnya api yang melahap hutan belantara, menghabiskan bangunan yang tegak berabad-abad dan segala tabungan yang dihimpun bertahun-tahun. Betapa berdayanya air yang memadamkan api, menopang dan -pada saat yang sama- melanda kehidupan. Betapa besarnya energi angin, ketika mengawinkan unsur-unsur bunga menjadi buah, menggerakkan uap dan udara, mengirimkan badai dan memporakporandakan kota dan desa.

Alangkah teguhnya gunung yang bertahan dari terpaan hujan, serbuan taufan dan rakusnya manusia. Teguh bagai gunung, menjadi pepatah yang menyimpan begitu banyak makna. Namun akhirnya semua kalah dihadapan para rijal al-haq, para pejuang kebenaran, yang tak hanyut di air, tak hangus di api, tak melayang diterpa angin, tak terangsang liurnya oleh tumpukan harta, kemilau tahta dan rayuan wanita. Kiprah mereka hanya satu: teguh dalam gerak dan gerak dalam teguh.

baca selengkapnya..