Karakter keluarga tidak dibangun dari material yang rapuh. Yang belum lagi punya makna. Yang tidak peduli pada tujuan. Karakter keluarga terbangun dari bongkahan-bongkahan kebiasaan yang punya akar dan alasan kuat. "Tanamkan pemikiran, dan kamu akan memanen tindakan. Tanamkan tindakan, dan kamu akan memanen kebiasaan. Tanamkan kebiasaan, dan kamu akan meraih karakter. Tanamkan karakter dan kamu akan memanen tujuan," begitu Samuel Smiles (1887) mencatat dalam bukunya Life and Labor.

Di banyak rumah-rumah sunyi ada berbagai keluarga yang berkumpul tapi tak pernah bersatu. Bersama tapi tak pernah sama-sama merasa. Hidup adalah rutinitas yang menghela usia. Tak ada waktu untuk bercengkerama, mendongeng, apalagi mewariskan keluhuran kakek nenek dan orang tua mereka. Yang lebih berat, kita sering tergerus bangunan pemikiran yang tidak jelas, yang belum sempat kita yakini keunggulannya namun sudah merambah memasuki rumah kita, memasuki kamar anak-anak kita, memasuki ruang tidur kita, bahkan memasuki mimpi-mimpi kita. Maka membangun karakter keluarga yang tetap pada relnya, mungkin terasa amat berat.

Sulit. Tapi bukan mustahil. Kita hanya perlu memulai. Membangun karakter keluarga, bisa artinya melanjutkan, bisa juga harus membangun ulang. Bahkan, pada sebagian orang, itu sama artinya dengan merintis karakter baru, lantaran karakter keluarga besarnya sudah berantakan. Apapun kondisi dimana kita berada hari ini, kita hanya harus memulai. 

Dari bangunan karakter keluarga yang kokoh itu, kita akan menuai tujuan. Semua sungguh tak ternilai. Karena dari bangunan karakter itu, kita dan keluarga akan memanen warna-warna hidup pilihan kita. Kemudian, kita kelak akan memanen "warna-warna" itu di akherat. Warna buram, atau terang benderang. Itu terpulang pada kita. Terpulang pula pada bagaimana kita membangun karakter keluarga kita.

Tentu, kita tidak sedang berhenti pada apa-apa yang sudah terlanjur. Karena kalimat ‘berhenti’ sebenarnya tidak ada bagi orang-orang yang masih hidup. Dari titik nol, bahkan dari minus sekali pun, kita tetap bisa memulai lagi. Penciptaan karakter keluarga yang kuat dalam berbagai pilihan muatan, sebenarnya masih terbuka luas. 

Mungkin pula, ketika menoleh ke belakang, kita terperangah karena jejak-jejak karakter keluarga kita ternyata pernah punya arah jelas. Mungkin orang-orang terdahulu dalam keluarga kita sebenarnya mempunyai karakter keilmuan mendalam. Atau karakter kepedulian yang indah. Atau karakter-karakter lainnya yang mulai terlupakan. Bahkan mulai terputus. Jika demikian, di masa kini lah, sekarang juga, kita akan memulai merintis jalan itu.

Pilihannya tentu sangat beragam dan merdeka. Di jalan mana kita akan menyambung karakter keluarga besar kita. Namun kita tahu landasan karakter keluarga yang jelas dan kuat, akan memberi akar amat memadai untuk menunjang pilihan-pilihan itu. Dengan bingkai karakter itu, peran yang digdaya atau pun yang terkesan sederhana, tak jadi soal. Selama landasannya sama: mencapai lautan tujuan, tujuan prestasi kebaikan. 

Di masa lalu, dalam sejarah emas negeri kita, tercatat seorang pejuang bernama Diponegoro. Pejuang yang namanya abadi itu ternyata tumbuh sebagai lelaki berkarakter, melalui persambungan dan pewarisan yang dilakukan neneknya. Pendidikan agama yang diberikan neneknya sangat mempengaruhi kepribadian Diponegoro. Sejak kecil Diponegoro diasuh dan dididik neneknya, Ratu Ageng, janda Sultan Hamengku Buwono I, yang dikenal sholehah. Sikap sebagai seorang Muslim ditunjukkan Diponegoro ketika awal tahun 1823, ia difitnah oleh Belanda sebagai penyebab kematian Sultan HB IV. Dia menyelesaikan masalah besar ini dengan banyak tafakur, berdzikir dan berkonsultasi dengan para ulama dan kiai. Saat berperang melawan Belanda, Diponegoro dan pengikutnya menyebut perang melawan Belanda sebagai "Perang Suci" melawan kejahatan dan kedzaliman. Bahkan Diponegoro dijuluki sebagai amirul mu’minin ing tanah Jawi (pemimpin orang beriman di tanah Jawa).

Tak heran kalau kemudian muncul berbagai keistimewaaan. Meski putra raja, Diponegoro yang sewaktu kecil bernama Ontowiryo lebih suka tinggal bersama rakyat di Desa Tegalrejo daripada di keraton. Pecahnya Perang Diponegoro (1825-1830) salah satunya disebabkan perlawanannya atas perampasan tanah milik rakyat oleh perkebunan pengusaha Belanda. Pembelaannya yang besar kepada rakyat membuahkan dukungan luas dari kaum bangsawan, ulama dan petani. 

Perang Diponegoro dicatat sebagai perlawanan rakyat terbesar yang dialami Belanda selama menjajah Jawa. Belanda menyebutnya Java Oorlog atau Perang Jawa. Dalam sejarah Asia, perang ini disebut pemberontakan rakyat dan petani. Kecintaan rakyat yang besar pada Diponegoro menjadikan mereka tidak menggubris tawaran menggiurkan Belanda: 20.000 ringgit bagi siapa yang bisa menangkap Diponegoro hidup atau mati. Demikianlah. Karakter yang tertanam kuat, pada gilirannya akan melahirkan tujuan-tujuan yang gemilang.

Nenek itu telah memulai. Sesudah itu berjuang menjaga konsistensi. Pada setiap waktunya ada lelah dan hambatan. Itu pasti. Tapi kesudahannya adalah karakter yang abadi, hingga kini.

Kebajikan Yang Diwariskan Adalah Karakter, Meski Sederhana

"Jangan tutup pintu ini." Begitulah nasehat ayahnya yang selalu diingat Ningsih (59). Pintu yang diminta ayahnya jangan pernah ditutup itu, membatasi rumah kontrakan Ningsih dengan pengontrak lainnya, yang kondisi keuangannya jauh di bawah Ningsih.

Saat itu, setiap berkunjung, sang ayah juga berpesan agar Ningsih jangan pernah mengunci lemari makanan dan lemari lain yang berisi bahan kebutuhan sehari-hari. Supaya tetangganya itu dapat mengambil jika membutuhkan. Bertahun-tahun mengontrak, Ningsih memaknai landasan itu. Tercipta kedekatan. Tercipta ketenangan. Tercipta latihan kesabaran. Ketika Ningsih pindah kontrakan, pintu pembatas dikunci oleh pengontrak yang menggantikannya. Tak pernah lagi dibuka. Cerita penuh makna itu pun terhenti.

Tapi tidak bagi Ningsih dan keluarganya. Semakin mengenali nasehat dan pendidikan ala ayahnya, membuat Ningsih menyadari, karakter kepedulian yang dibangun ayahnya, ternyata sudah ada ketika sang ayah muda. Di masa lalu, ayahnya yang baru saja menikah, begitu saja mau menukarkan rumahnya yang berada di pinggir jalan dengan rumah adik iparnya. Alasannya sederhana, sang adik ipar yang membuka usaha jual beli barang bangunan, memerlukan rumah yang berada di pinggir jalan. Sementara ayahnya sebagai seorang pegawai, tidak masalah tinggal di rumah yang letaknya di dalam kampung. Meski rumah itu lebih luas, namun jika menghitung mated, harganya berada di bawah rumah di pinggir jalan itu. 

Sungguh sulit dibayangkan keputusan seperti ini. Tapi bagi orang-orang tertentu, kesejatian berbagi itu mungkin sudah menjadi semacam kebiasaan. Kebiasaan yang dengan pekat diturunkan pada generasi berikutnya. Dan terbangun menjadi karakter. Tidak selalu mudah dimengerti. Tidak dalam waktu sekejap dapat dihayati. Tapi adanya orang-orang yang memilihnya, menjalaninya, membuktikan bahwa semua itu adalah mungkin.

Kini, Ningsih yang hampir semua anak-anaknya sudah menikah, berupaya menurunkan karakter yang dibangun ayahnya pada anak-anak dan cucu-cucunya. Sejak anak-anaknya kecil, mereka terbiasa dengan kedatangan para janda yang terkena kesulitan ekonomi. Jika tidak mempunyai uang, Ningsih memberikan mereka beras. Jika tidak mempunyai beras, ia memberikan mereka lauk yang ada hari itu. Anak-anaknya pun selalu diminta Ningsih membuatkan teh manis untuk tamu dari kalangan talk mampu itu. "Kami tidak kaya. Tapi saya berusaha membangun karakter peduli pada anak-anak saya, seperti ayah saya dulu membangun itu pada saya dan adik-adik saya," ujar. 

Persoalannya bukan pada di mana atau sebagai apa kita berkiprah, namun karakter seperti apa yang kita pegang. Karakter seperti apa yang kita bangun untuk keluarga kita. Tapi kini, boleh jadi, bahkan sekadar teringat untuk membangun karakter positif keluarga, kita belumlah sampai.

Karakter adalah Harapan, Awali dari Mana pun Ingin Memulai

Imam Al-Ghazali menyatakan, meskipun ada pengecualian-pengecualian, tetapi pada umumnya baik buruknya perilaku seseorang sangat ditentukan oleh pendidikan yang diperoleh pada waktu kecil dalam keluarganya. Pembentukan karakter-karakter positif, karenanya, memang amatlah niscaya. 

Namun kini, yang kerap terjadi justru kebalikan semua itu. Bahkan untuk sesuatu yang dianggap sebagai awal mula tertanamnya harapan, yakni dalam pemberian nama anak-anak buah hati kita, kita masih tersandung-sandung. Seperti diberitakan salah satu harian ibukota akhir April lalu, seorang ayah menamakan anaknya sama dengan kesebelasan sepak bola yang ia gandrungi.

Dalam suatu perbincangan, seorang perempuan muda yang berprofesi sebagai wartawan bertutur. Namanya yang terdengar "baru" ternyata diambil ayahnya dari sebuah biro perjalanan. Ketika ia lahir, sang ayah tengah berdiri di depan kantor sebuah biro perjalanan. Jadilah anak itu ia namakan sesuai nama biro itu. "Makna dari nama kini memang cenderung menyempit. Pada nama, tak lagi digantungkan harapan. Kini orang memberi nama anaknya lebih untuk mengejar keindahan bunyi," ujar antropolog Dr Lono Lastoro Simatupang. 

Kita tentu tidak sedang "menghakimi" seputar pemberian-pemberian nama. Jauh di atas itu. Kita tengah meresapi, bahwa upaya membangun karakter keluarga, semestinya dimulai sedini mungkin. Dalam cara-cara positif yang terkesan sederhana sekali pun. ’’Itulah yang ingin kita arungi. Mulai sekarang.

Wallahu’alam