Bahwa akhlaq seorang bapak itu akan menurun kepada anaknya,
dan akhlaq yang buruk seperti asal yang buruk.”
(Riwayat dari Ibnu Abbas dalam Syu’abul Iman).
Sam, Ham, dan Jafits adalah kisah tentang karakter keluarga yang tersambung. Bapaknya seorang Rasul. Bahkan Rasul pertama: Nuh ‘alaihissalam. Anak-anak itu turut serta dalam kapal ayahnya, bersama dengan sangat sedikit orang lainnya. Kapal kehidupan, sekaligus kapal keimanan. Kapal kehidupan, sebab yang ikut di kapal itu saja yang hidup. Kapal keimanan, sebab yang naik di kapal itu saja yang beriman. Mereka yang di atas kapal itu saja yang menerima ajakan menyembah Allah, menerima seruan kenabian. Sesudah itu babakan baru tentang sejarah karakter dimulai kembali.
Babakan baru itu di antaranya adalah sambung menyambungnya sebuah karakter keluarga: karakter kenabian. "…. dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebagian dari keturunannya yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Zakariya, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shalih. Dan Ismail, Alyasa’, Yunus, dan Luth. Masing-masingnya Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya). (dan Kami lebihkan pula derajat) sebagian dari bapak-bapak mereka, keturunan-keturunan mereka dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus."
>Babakan baru karakter keluarga itu tidak saja karakter kenabian, tapi juga teladan kebajikan yang bisa ditiru oleh orang-orang sesudah itu. Bila karakter kenabian adalah karunia terbatas, maka karakter kebajikan adalah kesempatan yang terhampar luas. Termasuk kebajikan dalam bentuk mengikuti kebajikan para Nabi dan Rasul itu. Maka Allah pun menjelaskan, "Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka."
Tapi Nuh juga mengalami saat-saat pahit di mana tidak semua anaknya menyambungkan diri dengan karakter keluarga itu: karakter keshalihan itu, karakter keimanan itu. Anaknya yang lain, Qan’aan, memilih untuk tidak memilih jalan iman. Menyambut panggilan dengan tidak mau menyambut ajakan iman. Maka Qan’aan adalah kisah lain tentang karakter,keluarga yang terputus. Istri Nuh bahkan diabadikan di dalam Al-Qur’an, sebagai contoh buruk bagi perempuan pembangkang.
Di tengah gelombang setinggi gunung, Nuh memanggil-manggil anaknya yang terus menjauh dan terpencil. "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir." Anaknya menjawab, ”Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah”. Nuh menyahut, "Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang." Sesudah itu gelombang menghantam dan Qan’aan benar-benar tenggelam.
Nuh mencoba mengadu kepada Allah. Tentang anaknya, yang ia yakini sebagai bagian dari dirinya. Ini sesungguhnya pengaduan agar karakter itu tetap tersambung. "Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar…" Allah menjelaskan, "Hai Nuh, sesungguhnya.dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan); sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik…."
Memahami apa arti karakter keluarga, kira-kira seperti dengan mudah memahami perkataan seorang ayah kepada anaknya yang bandel, "Kelakuanmu itu bukan karakter keluarga besar kita." Atau seperti memahami sikap orang-orang dahulu yang tidak bisa mengerti takdir yang diberikan Allah untuk Maryam, yang tiba-tiba mengandung seorang anak. Mereka mencoba mengaitkan ini dengan karakter keluarganya. Maka mereka berkata, "Hai saudari Harun (Maryam), ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina."
Maryam mengandung dan itu menurut mereka aneh; dari perspektif ketersambungan karakter keluarga. Tetapi Maryam tetap seorang perempuan yang terhormat, yang menyambung karakter ayah dan ibunya yang juga seorang perempuan terhormat. Orang-orang itu hanya tidak mengerti pada mulanya, tentang ketersambungan karakter seorang perempuan terhormat, anak dari seorang ibu yang terhormat pula, dalam bentuk takdir Allah yang terkesan asing: mengandung anak tanpa suami. Sesudah itu sejarah menjelaskan, seperti dinyatakan Rasulullah, Maryam adalah satu dari empat wanita terbaik dan termulia di seluruh penjuru bumi hingga akhir masa, bersama Asiah istri Fir’aun, Fatimah, dan Khadijah.
Karakter keluarga adalah garis-garis kepribadian, jati diri, dan juga keterhormatan seperti apa yang kita pilih. Bagi orang-orang beriman, pada mulanya adalah kefahaman, niat, kehendak luhur. Lalu sesudah itu adalah perilaku-perilaku kebajikan. Melalui perkawinan yang beranak-pinak, kanal-kanal kebajikan itu lantas turut mengalir menjadi nilai-nilai yang tersambung, lebih tepatnya sengaja kita sambung, atau warisan kemuliaan yang kita bagi sejak dini untuk anak-anak. Itulah karakter itu. Sesudah itu ada nama luhur dan pengabdian untuk selalu membela nama baik keluarga. Dengan terus menyambung karakter-karakter kebajikan itu.
Bagi seorang Mukmin, karakter keluarga besar adalah pilihan nilai-nilai hidup yang diusung, sebagai sebuah tempat melabuhkan kepuasan batin. Ini bukan soal darah biru yang nisbi. Tapi karakter kontributif yang berdayaguna. Semestinya keluarga kita adalah persemaian bagi tumbuhnya sebuah karakter, lahan bagi terbangunnya identitas diri, dan rumah dimana kita mendapatkan spirit untuk berarti. Kebanggaan atas nama keluarga ada kebolehannya dalam batas tertentu yang menyemangati, bukan kebanggaan keluarga yang feodal, fanatis, dan arogan.
Muara jauh membangun dan menjaga karakter keluarga, bagi seorang Mukmin adalah memimpikan reuni keluarga besar orang-orang beriman di akhirat kelak. "Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan, orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik). (yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan dengan orang-orang yang shalih dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu. (sambil mengucapkan):" salamun ‘alaikum bima shobartum". Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu."
Tujuan akhirnya adalah reuni akhirat, bersama bapak-bapak yang shaleh, isteri-isteri, anak cucu yang shaleh. Tempatnya di surga, dengan do’a dan ucapan selamat dari para malaikat. Tetapi seperti apakah karakternya? Karakter spiritual-vertikalnya adalah keluarga pencari ridha Allah yang sabar dan pendiri shalat. Karakter sosial-horizontalnya adalah keluarga dermawan lagi tidak suka dengan kemungkaran. Bahkan segera mengganti perbuatan jahat dengan perbuatan baik. Karenanya, membangun kesinambungan karakter keluarga, sama artinya dengan membangun kesinambungan harapan. Harapan nun jauh di sana, pada reuni keluarga besar itu.
Menjadi keluarga besar yang berkarakter, tidak selalu harus berkumpul secara teritorial. Satu atap satu tanah. Dengan filosofi "Mengumpulkan tulang belulang yang terpisah." Atau filosofi "Makan tidak makan yang penting kumpul." Tidak harus seperti itu. Yang lebih penting adalah bagaimana karakter keluarga itu tersambung. Bila pun ada yang harus berpisah, semua tetap teguh menjaga karakter keluarga besar itu. Sebab yang dijaga, pada dasarnya adalah karakter-kebajikan, identitas kemuliaan, dan jati-diri keimanan.
Di luar keluarga mungkin kita bisa mendapat apa saja, pengetahuan, modernitas, tantangan, kawan, sahabat, dan temuan-temuan baru tentang pelajaran hidup. Tapi keluarga dalam pengertian karakter jati diri, identitas, dan mata rantai harapan untuk sebuah reuni keluarga besar di akhirat, tak ada gantinya di luar sana. Orang lain sedekat apapun adalah orang lain. Tapi sebuah nasab, keturunan, titisan darah dimana gen dan keringat kepribadian kita tersambung secara organik dengan orang tua kita, paman, saudara, kakek nenek kita, akan senantiasa memberi makna yang signifkan. Makna pengaruh-mempengaruhi, maupun makna pembelaan untuk dan atas nama cita-cita reuni, kelak di akhirat, bagi sebuah keluarga besar yang berkarakter.
Kita sadar bahwa semuanya berpacu, bersama peradaban individualis yang terus menggerus. Banyak orang yang tak pernah mengerti arti keluarga. Apalagi memahami maksud karakternya. Dunia memang hiruk pikuk yang melenakan. Tapi bagaimana pun, kita harus terus menyadari bahwa keluarga adalah karakter sebelum tempat untuk berteduh. Keluarga adalah identitas sebelum ruang berbagi cerita.
Karakter itu adalah garis-garis kepribadian dan jati diri kita. Juga jalan keterhormatan yang secara rela dan sadar kita tempuh, kita bela, dan kita pertahankan sepanjang hayat di kandung badan. Tak jadi soal di bumi mana kita harus bertempat. Tak jadi soal apakah kita hidup sekampung dengan keluarga atau merantau di negeri orang. Tak jadi soal apakah orang tua kita masih hidup atau telah tiada. Sebab, keluarga besar kita (seharusnya) adalah karakter jati diri kita. Wallahu’alam
