UncategorizedJuly 7, 2007 3:35 am

Keteguhan orang-orang shalih adalah buah dari keyakinan kuat, yang kemudian melahirkan inspirasi yang jernih dalam memandang berbagai masalah. Sorot mata mereka jauh ke depan melewati dimensi ruang dan waktu. Pandangan (bashirah) mereka selalu berdiri pada keutamaan ukhrawi sebagai kehidupan hakiki yang akan mereka jalani. Mereka tidak memandang problematika hidup sebagai beban besar yang menggelayut hingga menahan gerak langkahnya untuk beramal demi kehidupan akhirat itu. Persis seperti yang disabdakan Rosulullah saw dalam sebuah hadits shahih, "Jadilah engkau di dunia seperti seorang asing (yang bukan berada di negerinya sendiri) atau seorang musafir."

Syarah hadits itu, menurut Imam Nawawi, adalah anjuran agar setiap manusia beriman menjadikan dunia hanya sebagai tempat singgah. Bukan tujuan akhir. Kenapa disebutkan seperti seorang asing? Lantaran tabiat orang yang berada di sebuah daerah yang bukan daerahnya akan sangat berhati-hati dari berbagai kemungkinan buruk. Ia akan berjalan di daerah itu dengan penuh waspada, hingga ia sampai pada tujuannya. Begitupun seorang musafir. Seorang musafir, petualang dan pengembara, tidak akan membebani diri dengan beban yang justru akan menghalanginya mencapai tujuan. Perbekalan yang dibawa hanyalah perbekalan yang secukupnya agar ia sampai pada tujuan, dan sama sekali tidak boleh memberatkan perjalanannya.
baca selengkapnya..

UncategorizedJuly 6, 2007 11:14 am

Semua orang lahir sebagai manusia biasa. Tidak membawa kecerdasan istimewa, apalagi keshalihan istimewa, kecuali apa yang dibawa dari trah darah dan keringat orang tua dan siapa saja yang ada pada jalur silsilah nasabnya. Ayah, kakek, orang tua kakek, dan seterusnya ke atas. Juga ibu, nenek, orang tua nenek, dan seterusnya. Rasulullah SAW bersabda, "Pilihlah (tempat yang baik) untuk (menyimpan) nutfah kalian karena watak orang tua itu bisa muncul (pada anak)”. Dalam riwayat lain, "Karena watak orang tua itu tajam (bisa menurun kepada anak)." (HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim)."

Seorang anak yang baru lahir belum bisa dikatakan sebagai anak yang shalih. Mungkin ia membawa potensi dan bakat keshalihan. Tetapi pertarungan untuk mewujudkan potensi itu masih panjang, melawan segala godaan hawa nafsu dan bisikan syetan. Apalagi selain potensi kebaikan juga ada potensi keburukan. Keduanya kekuatan dalam jiwa yang saling berlawanan dan bisa saling mengalahkan: "MakaAllah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan don ketakwaannya."(QS. Asyams: 8 ). Karenanya anak yang belum baligh belum menerima perintah menjalankan Islam kecuali sebagai sebuah pembiasaan. Ia tidak wajib shalat, tapi dianjurkan untuk dibiasakan shalat. Bila seorang anak melakukan tindakan yang merugikan orang lain, maka walinya yang mengganti kerugian itu.
baca selengkapnya..

UncategorizedJuly 2, 2007 1:46 am

Setiap manusia pasti mempunyai sifat isti’jal. Sebuah sifat ingin menuai hasil sebelum waktunya. Memetik buah bagi pemilik kebun, menuai padi bagi petani, menerima gaji bagi pegawai atau karyawan adalah saat-saat menggembirakan. Seolah-olah jerih payah yang telah berlalu tidak begitu dirasakan lagi. Itulah buah penantian yang ditunggu-tunggu.

Namun, terkadang selama masa penantian itu banyak orang yang tidak sabar. Gelisah, menghitung-hitung hari hingga tiba memanen. Bahkan tidak malu lagi memohon kepada Allah SWT supaya perjalan hari dipercepat, agar hasil jerih payah kita bisa segera didapat. Seolah-olah setiap kita telah berusaha dan yakin bahwa usahanya tinggal menunggu hasilnya saja.

baca selengkapnya..

Newer Items »»