Keteguhan orang-orang shalih adalah buah dari keyakinan kuat, yang kemudian melahirkan inspirasi yang jernih dalam memandang berbagai masalah. Sorot mata mereka jauh ke depan melewati dimensi ruang dan waktu. Pandangan (bashirah) mereka selalu berdiri pada keutamaan ukhrawi sebagai kehidupan hakiki yang akan mereka jalani. Mereka tidak memandang problematika hidup sebagai beban besar yang menggelayut hingga menahan gerak langkahnya untuk beramal demi kehidupan akhirat itu. Persis seperti yang disabdakan Rosulullah saw dalam sebuah hadits shahih, "Jadilah engkau di dunia seperti seorang asing (yang bukan berada di negerinya sendiri) atau seorang musafir."
Syarah hadits itu, menurut Imam Nawawi, adalah anjuran agar setiap manusia beriman menjadikan dunia hanya sebagai tempat singgah. Bukan tujuan akhir. Kenapa disebutkan seperti seorang asing? Lantaran tabiat orang yang berada di sebuah daerah yang bukan daerahnya akan sangat berhati-hati dari berbagai kemungkinan buruk. Ia akan berjalan di daerah itu dengan penuh waspada, hingga ia sampai pada tujuannya. Begitupun seorang musafir. Seorang musafir, petualang dan pengembara, tidak akan membebani diri dengan beban yang justru akan menghalanginya mencapai tujuan. Perbekalan yang dibawa hanyalah perbekalan yang secukupnya agar ia sampai pada tujuan, dan sama sekali tidak boleh memberatkan perjalanannya.
baca selengkapnya..
