Semua orang lahir sebagai manusia biasa. Tidak membawa kecerdasan istimewa, apalagi keshalihan istimewa, kecuali apa yang dibawa dari trah darah dan keringat orang tua dan siapa saja yang ada pada jalur silsilah nasabnya. Ayah, kakek, orang tua kakek, dan seterusnya ke atas. Juga ibu, nenek, orang tua nenek, dan seterusnya. Rasulullah SAW bersabda, "Pilihlah (tempat yang baik) untuk (menyimpan) nutfah kalian karena watak orang tua itu bisa muncul (pada anak)”. Dalam riwayat lain, "Karena watak orang tua itu tajam (bisa menurun kepada anak)." (HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim)."
Seorang anak yang baru lahir belum bisa dikatakan sebagai anak yang shalih. Mungkin ia membawa potensi dan bakat keshalihan. Tetapi pertarungan untuk mewujudkan potensi itu masih panjang, melawan segala godaan hawa nafsu dan bisikan syetan. Apalagi selain potensi kebaikan juga ada potensi keburukan. Keduanya kekuatan dalam jiwa yang saling berlawanan dan bisa saling mengalahkan: "MakaAllah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan don ketakwaannya."(QS. Asyams: 8 ). Karenanya anak yang belum baligh belum menerima perintah menjalankan Islam kecuali sebagai sebuah pembiasaan. Ia tidak wajib shalat, tapi dianjurkan untuk dibiasakan shalat. Bila seorang anak melakukan tindakan yang merugikan orang lain, maka walinya yang mengganti kerugian itu.
baca selengkapnya..
