UncategorizedJuly 27, 2007 3:31 pm

Dalam sebuah hadits hasan riwayat Imam Turmudzi, disebutkan sabda Rasulullah saw, "Usia umatku berkisar antara 60 sampai 70 tahun." Ibnu Hajar al Atsqalani, yang mensyarah hadits Rasulullah tersebut mengatakan, "Allah memberi toleransi kepada seseorang untuk menunda ajalnya sampai berusia 60 tahun," (Fathul Bari, 10/108).

Saudaraku,
Semoga Allah merahmati kita semua. Mari berhitung, berapa sudah usia hidup yang kita jalani? Sampai kapan taqdir Allah memberi waktu untuk kita? Bagi kita yang berusia kepala dua, sebagaimana bunyi hadits di atas, berarti kita hanya memiliki kesempatan kurang lebih 40-an tahun. Untuk kita yang berumur kepala tiga, artinya hanya tersisa sekitar 30 tahun lagi. Bagi yang berusia kepala empat, berarti kesempatan itu semakin kecil. Dan seterusnya.

baca selengkapnya..

UncategorizedJuly 26, 2007 6:07 am

Ijlis bina nu’min sa’ah. Itulah kalimat yang pernah diucapkan oleh seorang sahabat benama Muadz bin Jabal yang maksudnya kurang lebih bisa diartikan, ”Mari kita duduk sejenak untuk merekonstruksi iman kita”. Ini merupakan kalimat ajakan yang ditujukan kepada sahabat-sahabat yang lain pada waktu itu, yang bisa jadi waktu-waktu mereka banyak tersita oleh aktivitas-aktivitas yang  tidak berkaitan dengan rekonstruksi iman. Inipun menjadi pertanda bahwa urusan rekonstruksi iman tidak berbanding lurus terhadap  kedekatan mereka dengan Nabi Muhammad SAW pada kurun zaman yang bersamaan. Oleh karenanya, kita selaku umat Muhammad yang hidup berjarak 14 abad dengan masa hidup beliau SAW, tentunya harus lebih proaktif merekonstruksi iman kita masing-masing.

baca selengkapnya..

UncategorizedJuly 24, 2007 2:10 pm

Banyak hal di dunia yang bisa menyilaukan manusia. Dari yang kecil hingga yang besar. Dari yang sederhana hingga yang luar biasa. Dunia adalah titian, ada yang sukses melewatinya, banyak pula yang gagal dan terlempar. 

Beribu petuah telah dibuat. Berjuta nasehat telah diucap. Agar setiap orang berhati-hati dengan dunia. Tetapi tetap saja, banyak yang berguguran ditelan gemerlap dunia. Ini masalah serius. Karenanya, Al-Qur’an memberi penekanan khusus pada soal ini. Berkali-kali, dalam berbagai kesempatan berbeda, Al-Qur’an menegaskan tentang pentingnya berhati-hati dengan dunia, tidak mudah silau, apalagi terjebak di dalamnya. Beberapa catatan berikut, menunjukkan hal-hal yang secara khusus ditegaskan Al-Qur’an, tentang apa-apa yang bisa menipu dan memukau manusia.

baca selengkapnya..

UncategorizedJuly 21, 2007 2:00 pm

Hari itu, Abdullah bin Mas’ud masuk ke rumah Rasulullah. Sebuah ruangan yang lebih layak disebut bilik kecil, di sisi Masjid Nabawi. Terlihat olehnya Rasulullah sedang lelap dalam tidurnya. Dalam ruangan yang sangat sederhana itu, Rasulullah tidur begitu saja. Hanya beralaskan tikar kasar. Tidak ada kasur, tidak juga tumpukan batal yang nyaman dan menenangkan. baca selengkapnya..

UncategorizedJuly 20, 2007 5:02 am

Perempuan oh perempuan! Pengalaman batin para pahlawan dengan mereka ternyata jauh lebih rumit dari yang kita bayangkan. Apa yang terjadi, misalnya, jika kenangan cinta hadir kembali di jalan pertaubatan seorang pahlawan? Keagungan!

Itulah, misalnya, pengalaman batin Umar bin Abdul Aziz. Sebenarnya Umar seorang ulama, bahkan seorang mujtahid. Tapi ia besar di lingkungan istana Bani Umayyah, hidup dengan gaya hidup mereka, bukan gaya hidup seorang ulama. Ia bahkan menjadi trendsetter di lingkungan keluarga kerajaan. Shalat jamaah kadang ditunda karena ia masih sedang menyisir rambutnya.

baca selengkapnya..

UncategorizedJuly 19, 2007 4:12 pm

Di antara keajaiban hati para pahlawan mukmin sejati adalah cara mereka mengapresiasi karya-karya mereka. Mereka tidak pernah memandang karya-karya besar mereka secara berlebihan, tapi mereka juga tidak pernah meremehkan pekerjaan-pekerjaan kecil yang mereka lakukan.

Besar kecilnya suatu karya atau pekerjaan tidaklah ditentukan oleh satu faktor saja. Misalnya, faktor kemampuan. Ada banyak faktor yang mempengaruhi cara penilaian terhadap suatu karya dan pekerjaan seorang pahlawan. Misalnya, tingkat kebutuhan saat itu, kesinambungannya dengan pekerjaan-pekerjaan sebelumnya, dengan pekerjaan-pekerjaan sesudahnya, luas wilayah distribusi manfaat, tingkat kemampuan pelaku, tingkat keterlibatan orang lain, banyaknya daya dukung, dan seterusnya. Kata kunci yang dapat menyimpul semua faktor tersebut adalah ketepatan. Yaitu bahwa pekerjaan itu tepat pada waktunya, tepat pada sasarannya, tepat pada tempatnya, tepat pada orangnya, tepat pada niatnya, tepat pada caranya, tepat pada cost-nya.

baca selengkapnya..

UncategorizedJuly 18, 2007 1:34 am

Perspektif Sosial

Para pakar ilmu sosial menyatakan bahwa kenyataan hari ini adalah mimpi kemarin, dan mimpi hari ini akan menjadi kenyataan esok hari. Pandangan itu dibenarkan oleh realitas dan dikuatkan dengan banyak alasan. Bahkan sesungguhnya kemajuan kemanusiaan dan perjalanannya menuju puncak kejayaan tersimpan dalam pandangan ini. Siapa yang dapat menyangka sebelumnya kalau para ilmuwan akan sampai pada penemuan penemuan dahsyat seperti yang kita lihat sekarang? Para ilmuwan itu sendiri pada mulanya bahkan tidak percaya, sampai akhirnya kenyataan membuat mereka yakin. Sebenarnya banyak contoh bisa dikemukakan untuk membuktikan itu. Namun pandangan ini telah menjadi aksioma dan karenanya tidak perlu dijelaskan lebih lanjut.

baca selengkapnya..

UncategorizedJuly 17, 2007 4:22 pm

Saudaraku,
Dalam kafilah da’wah ini, kita mutlak membutuhkan persahabatan. Persahabatan - mungkin lebih tepatnya ukhuwah- adalah nikmat yang sangat mahal bagi kita. Raga boleh terdera, darah, air mata dan peluh boleh mengucur. Tapi semuanya tak bisa memupus nikmat persahabatan, persaudaraan, ukhuwah di jalan-Nya. Kesulitan di sepanjang jalan ini, tak lebih berupa anugerah dan karunia Allah yang sangat besar dan hanya dirasakan oleh kaum beriman yang saling memelihara persaudaraan atas nama Allah. Tapi bagaimana kita bisa memiliki nikmat persahabatan itu?

baca selengkapnya..

UncategorizedJuly 10, 2007 2:55 pm

Tak ada kata terlambat untuk melakukan kebajikan. Itulah prinsip yang terpatri dalam hati saya. Itu pula yang mendorong saya untuk menghafal Al-Qur’an, meski usia saya sudah dua puluh enam tahun dan hampir selesai kuliah. Keluarga yang jauh dari nilai-nilai agama juga menjadi cambuk semangat saya.

Sejak itu saya banyak membaca buku tentang keutamaan dan teknik menghafal Al- Qur’an. Lalu menghafal, menghafal, dan menghafal. Untuk memperkuat hafalan, saya berusaha bangun sholat malam dan membaca ayat-ayat yang sudah dihafal. Hal sama saya lakukan bila shalat sunnah. Ayat yang mirip, lebih sering saya ulangi.

baca selengkapnya..

UncategorizedJuly 9, 2007 2:02 am

Shalih dalam aqidah.
Ini merupakan inti dan ruh ketegaran. Untuk memperoleh keshalihan aqidah, seorang muslim harus memiliki keyakinan dan aqidah yang kuat bahwa Allah Yang Menciptakan alam semesta ini adalah Tuhan Yang Maha Bijaksana, Maha Kuasa dan Maha Mengetahui. Allah SWT mustahil menciptakan sesuatu sia-sia. Setiap peristiwa pasti memiliki hikmah dan manfaat yang besar. Namun begitu tidak mungkin seseorang memahami kehendak Allah dalam segala peristiwa itu secara detail. Semua keadaan harus dikembalikan kepada Allah swt dengan seluruh sifat-sifat kesempumaan-Nya.
baca selengkapnya..

«« Older Items •