UncategorizedJune 30, 2007 10:47 pm

Peristiwa yang menyayat hati itu terjadi lagi. Di Malang, seorang ibu membunuh empat orang anaknya dengan racun potasium. Setelah keempat anaknya tewas, giliran si ibu yang menenggak racun itu. Dia pun tewas.

Masyarakat sekitar gempar. Mereka menemukan empat mayat anak tersusun rapi, dengan mayat si ibu terbujur di sisi mayat-mayat itu. Mereka tak habis mengerti, mengapa Merci, nama wanita itu, sampai nekat berbuat demikian? Bahkan sekalipun mereka mengetahui beban yang menghimpit kehidupan keluarga itu, mereka tetap sulit menerimanya.

Membunuh siapapun tak pernah dianggap sebagai tindakan yang tepat dalam menghadapi masalah. Bagi kita, itu adalah tindakan lari dari masalah yang hanya akan menimbulkan masalah baru yang jauh lebih besar, pertanggungjawaban di akhirat. 

baca selengkapnya..

UncategorizedJune 29, 2007 2:30 pm

Kau tentang Tuhan dan nampakkan cinta Dia
Demi Allah, ini perkara luar biasa
Bila sungguh cintamu benar tentulah kau taat Dia
Karena setiap kekasih kepada Kekasihnya pastilah setia

(Imam Syafi’i RA)

 

Tak satupun orang suka dibohongi, terlebih bila itu menyangkut cinta dan kesetiaan. Dimana saja kebohongan dan pengkhianatan dibenci, termasuk di kalangan para bandit dan mafia yang notabene kerja mereka disekitar kejahatan. Syirik adalah bentuk dusta yang paling besar, yang banyak menghasilkan dusta-dusta susulan. Ketika Allah menyebutkan salah satu misi Rasulullah saw adalah memberi peringatan kepada mereka yang mengatakan Allah berputera, Ia berkata: "Mereka dan bapak-bapak mereka tidak berilmu, alangkah buruknya ucapan yang keluar dari mulut mereka. Tak lain yang mereka katakan kecuali dusta"(QS. 18:5)

baca selengkapnya..

UncategorizedJune 21, 2007 2:26 pm

Saudaraku,
Dalam menempuh perjalanan bersama kafilah da’wah ini, pasti kita mengenal dan memiliki banyak saudara. Dalam komunitas inilah kita harus bersentuhan dengan ratusan, ribuan, bahkan jutaan karakter jiwa dari berbagai latar belakang, suku, keturunan, lingkungan sosial, pendidikan, kecenderungan, kebiasaan, kecerdasan dan seluruh aspek yang membentuk karakter pribadi masing-masing. Namun kafilah ini telah membingkai perbedaan-perbedaan tersebut dalam kesatuan visi aqidah dan misi perjuangan da’wah ilallah. Sehingga orang-orang itu menjadi rekan perjalanan (ikhwanu thariq) menuju ridha Allah dalam parade du’at ilallah. Merekalah yang akan menemani kita meretas perjalanan ini, mendaki gunung, menembus belukar, dan menyeberangi lautan. baca selengkapnya..

Uncategorized 1:33 am

Seseorang disebut pahlawan karena timbangan kebaikannya jauh mengalahkan timbangan keburukannya, karena kekuatannya mengalahkan sisi kelemahannya. Jika engkau mencoba menghitung kesalahan dan kelemahannya, niscaya engkau menemui bahwa kesalahan dan kelemahan itu "tertelan" oleh kebaikan dan kekuatannya.

Tapi kebaikan dan kekuatan itu bukanlah untuk dirinya sendiri, melainkan merupakan rangkaian amal yang menjadi jasanya bagi kehidupan masyarakat manusia. Itulah sebabnya tidak semua orang baik dan kuat menjadi pahlawan yang dikenang dalam ingatan kolektif masyarakat atau apa yang kita sebut sejarah. Hanya apabila kebaikan dan kekuatan menjelma jadi matahari yang menerangi kehidupan, atau purnama yang merubah malam jadi indah, atau mata air yang menghilangkan dahaga.

baca selengkapnya..

UncategorizedJune 18, 2007 10:31 pm

Para pahlawan mukmin sejati tidak membuang energi mereka untuk memikirkan seperti apakah ia akan ditempatkan dalam sejarah manusia. Yang mereka pikirkan adalah bagaimana mereka meraih posisi paling terhormat di sisi Allah swt. Itulah sejarah yang sebenarnya. Kalau suatu ketika sejarah manusia memberi mereka posisi yang terhormat, itu hanya -seperti kata Rasulullah saw- "berita gembira yang dipercepat".

Ridha Allah dan tempat yang terhormat di sisi-Nya. Itulah cita-cita sejati para pahlawan mukmin. Dan itulah ambisi yang sebenarnya, ambisi yang disyariatkan, ambisi yang mendorong lahirnya semangat kompetisi yang tak habis-habis. Di sini medan kompetisi itu sangat berbeda dengan kompetisi di medan lain. Yang membedakannya adalah luas wilayah kompetisi yang tak terbatas kecuali oleh batasan kebaikan itu sendiri, karena hadiah yang disediakan untuk para kompetitor juga tak terbatas.

baca selengkapnya..

TarbiyahJune 14, 2007 2:32 am

Pertanyaan apakah kita sudah tarbiyah atau belum dapat dijawab dengan berbagai jawaban. Kita dapat mengiyakannya dengan berbagai alasan formal. Alasan formal yang kerap menggoda untuk kita munculkan adalah:

 

a. kita telah tarbiyah, karena kita telah memiliki murabbi,

b. kita telah tarbiyah, karena kita telah memiliki liqa’ pekanan,

c. kita telah tarbiyah, karena kita telah mendapatkan materi yang berkelanjutan.

 

Benarkah kita telah tarbiyah karena alasan-alasan tersebut di atas? Benarkah sesungguhnya kita telah tarbiyah dengan ’sekadar’ memiliki murabbi? Apakah dengan ’sekadar’ memiliki liqa’ pekanan dan menerima materi tarbiyah, kita telah tarbiyah? Adakah parameter yang lebih dapat dipertanggungjawabkan pada masa depan kita dan tentu saja dapat dipertanggungjawabkan pula di hadapan Allah Swt.?

baca selengkapnya..

TarbiyahJune 11, 2007 1:37 am

Kegagalan tarbiyah bisa terjadi ketika proses tarbiyah itu sedang dilakukan, atau juga dapat terjadi di awal proses. Kesalahan persepsi tentang tarbiyah memberi andil besar dalam membelokkan substansi tarbiyah sejak awal. Ada lima kesalahan persepsi tentang tarbiyah.

Pertama, tarbiyah dipandang semata-mata sebagai transfer materi. Oleh karena itu, yang dimaksudkan dengan sudah atau belum ‘menyampaikan materi’ adalah sudah atau belum memperdengarkan atau menyajikan materi tersebut kepada mad’u. Di sisi yang lain, mutarabbi merasa sudah mendapat materi ketika sudah pernah mendengar paparan. Persepsi ini menyederhanakan tujuan tarbiyah sebagai pengawal dalam pembentukan fikrah dan harakah.

baca selengkapnya..

UncategorizedJune 9, 2007 5:15 am

Seketika mata tua itu berbinar senang seraya menatap anak laki-lakinya. Terlintas di pikirannya, gubuk kecil ini akan penuh dengan limpahan kebahagiaan. Ditemankan seorang gadis cantik yang kelak menjadi menantunya, hingga terbayang pula celoteh, canda dan tawa cucu-cucu yang memenuhi setiap sudut rumah.

Ditatapnya kembali pemuda tanggung yang berdiri dengan gagah di depannya. Ia telah tumbuh besar, bukan lagi bocah kecil yang dulu sering dijewer telinganya saat nakal. Tak pula sepotong kue yang disodorkan akan membuatnya menghentikan tangisan.

baca selengkapnya..

UncategorizedJune 8, 2007 1:48 pm

Apa yang Tuan fikirkan tentang seorang laki-laki berperangai amat mulia, yang lahir dan dibesarkan di celah-celah kematian demi kematian orang-orang yang amat  mengasihinya? Lahir dari rahim sejarah, ketika tak seorangpun mampu mengguratkan kepribadian selain kepribadiannya sendiri. Ia produk ta’dib Rabbani (didikan Tuhan) yang menantang mentari dalam panasnya dan menggetarkan jutaan bibir dengan sebutan namanya, saat muaddzin mengumandangkan suara adzan. 

Di rumahnya tak dijumpai perabot mahal. Ia makan di lantai seperti budak, padahal raja-raja dunia iri terhadap kekokohan struktur masyarakat dan kesetiaan pengikutnya. Tak seorang pembantunya pun mengeluh pernah dipukul atau dikejutkan oleh pukulannya terhadap benda-benda di rumah. Dalam kesibukannya ia masih bertandang ke rumah puteri dan menantu tercintanya, Fathimah Azzahra dan Ali bin Abi Thalib. Fathimah merasakan kasih sayangnya tanpa membuatnya jadi manja dan hilang kemandirian. Saat Bani Makhzum memintanya membatalkan eksekusi atas jenayah seorang perempuan bangsawan, ia menegaskan; "Sesungguhnya yang membuat binasa orang-orang sebelum kamu ialah, apabila seorang bangsawan mencuri mereka biarkan dia dan apabila yang mencuri itu seorang jelata mereka tegakkan hukum atas-nya. DemiAllah, seandainya Fathimah anak Muhammad mencuri, maka Muhammad tetap akan memotong tangannya."

baca selengkapnya..

UncategorizedJune 5, 2007 1:16 pm

Tidak ada keberanian yang sempurna tanpa kesabaran. Sebab kesabaran adalah nafas yang menentukan lama tidaknya sebuah keberanian bertahan dalam diri seorang pahlawan. Maka dahulu ulama kita mengatakan: "Keberanian itu, sesungguhnya hanyalah kesabaran sesaat." 

Resiko adalah pajak keberanian. Dan hanya kesabaran yang dapat menyuplai seorang pemberani dengan kemampuan untuk membayar pajak itu terus menerus. Dan itulah yang dimaksud Allah swt dalam firman-Nya: ”Jika ada di antara kamu dua puluh orang penyabar, niscaya mereka akan mengalahkan dua ratus orang. Dan jika ada di antara kamu seratus orang (penyabar), niscaya mereka akan mengalahkan seribu orang kafir."(QS. 8: 65).
baca selengkapnya..

«« Older Items •