PotretMay 11, 2007 3:21 am
Mengenang Elang Mulya, Hery Hertanto,
Hendriawan Lesmana dan Hafidhin Royan

 

Empat syuhada berangkat pada suatu malam,
gerimis air mata tertahan di hari keesokan,
telinga kami lekapkan ke tanah kuburan
dan simaklah itu sedu-sedan.

 

Mereka anak muda pengembara tiada sendiri,
mengukir reformasi karena jemu deformasi,
dengarkan saban hari langkah sahabat-sahabatmu beribu menderu-deru.

 

Kartu mahasiswa telah disimpan dan tas kuliah turun dari bahu.
Mestinya kalian jadi insinyur dan ekonom abad dua puluh satu.

 

Tapi malaikat telah mencatat indeks prestasi kalian tertinggi di Trisakti bahkan di seluruh negeri, karena kalian berani mengukir alfabet pertama dari gelombang ini dengan darah arteri sendiri,

 

Merah Putih yang setengah tiang ini,
merunduk di bawah garang matahari,
tak mampu mengibarkan diri karena angin lama bersembunyi,

 

Tapi peluru logam telah kami patahkan dalam doa bersama,
dan kalian pahlawan bersih dari dendam,
karena jalan masih jauh dan kita perlukan peta dari Tuhan.

 

 

TI,1998
UncategorizedMay 10, 2007 3:20 am

Pernahkah Anda merasa begitu gundah? Kehilangan arah kemana langkah diayunkan? Lalu tiba-tiba segalanya menjadi kacau? Hampir semua orang pernah mengalami masa-masa sulit itu. Ibarat air laut, hidup ini kadang pasang naik, kadang pasang surut. Ibarat samudera luas, kadang gelombangnya bergulung-gulung, kadang ia berubah sangat  tenang. Seperti juga roda yang selalu berputar, kadang hidup kita di atas, di lain waktu berpindah ke bawah. 

Bisa jadi kita menganggap itu semua hanya rutinitas hidup belaka. Ya, itu hanya rutinitas tak berarti bila kita memang tak bisa mencari arti di balik semua itu. Itu hanya  mekanisme alam, yang tak menyimpan rahasia apa-apa, bila kita tidak mencari tahu rahasianya apa. 

Lalu, apa arti dan rahasia dari semua itu? Banyak sekali. Yang paling mendasar di antaranya, bahwa di balik rutinitas itu ada hubungan istimewa antara kita dengan Allah. Antara hamba dengan sang Pencipta-Nya. Yaitu bahwa kita sangat lemah dan Allah sangat Maha Perkasa. Bahwa kita memerlukan pertolongan Allah, sedang Allah tak perlu sedikitpun kepada kebaikan kita. “Dan manusia telah diciptakan dalam keadaan yang lemah.” Dalam soal rezeki, Allah berfirman, “Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan (rezeki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaaan Allah) bagi kaum yang beriman.”(QS. Ar-Rum: 37).

baca selengkapnya..

UncategorizedMay 9, 2007 1:32 am

Pertolongan Allah itu pasti. "Jika kalian menolong (agama) Allah, maka Allah pasti akan menolong kalian dan mengokohkan pijakan kalian," (Qs. Muhammad: 7).  

Firman Allah tersebut menegaskan rumus pertolongan Allah yang bersifat aksioma,  sebagai konsekuensi dari loyalitas yang tinggi kaum beriman. Bantuan dan perolongan Allah tidak datang begitu saja. Allah tidak akan memberi bantuan itu secara cuma-cuma. 

Allah SWT menghendaki bahwa pembelaan-Nya kepada orang-orang beriman terwujud dengan adanya upaya dari mereka sendiri, agar mereka mencapai kematangan dari celah-celah kesulitan yang mereka alami. Seseorang akan mencapai kematangan di saat potensi dan kekuatan terpendamnya bangkit. Dan kondisi itu takkan terwujud kecuali tatkala ia berhadapan dengan marabahaya. Ketika seseorang melakukan upaya membela diri dan menghimpun seluruh tenaganya untuk berhadapan dengan sesuatu yang mengancam aqidah, prinsip dan kehidupannya, di sanalah seluruh sel kekuatannya akan bangkit.

baca selengkapnya..

UncategorizedMay 8, 2007 1:40 am

Ini kisah nyata, bagian dari rentetan sejarah orang-orang shalih. Yang dengan keshalihan itu Allah menurunkan rahmatnya: Pertolongan yang menembus segala batas. 

Pada malam hijrah ke Madinah, Rasulullah SAW ditemani Abu Bakar radhiyallahuanhu sempat bersembunyi di dalam Gua Tsur. Orang Quraisy berhasil mengejar keduanya hingga di mulut gua. Abu Bakar sempat khawatir. Tapi Rasulullah menenangkannya. Maka turunlah pertolongan Allah, menembus logika militer pasukan kafir Quraisy itu. Di depan gua ada burung dan laba-laba, salah satu jenis makhluk yang paling lemah.

Sementara itu, Musa punya kisahnya sendiri. Saat Fir’aun dan bala tentaranya mengejar Musa, Musa dan beberapa orang pengikutnya terus berlari dan berlari. Hingga akhirnya mereka sampai kelaut Merah. Pengikut Musa sudah pesimis. Tetapi jiwa kerasulan Musa tak terpengaruh. “Sesungguhnya Tuhanku besertaku. Kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (Qs. Asyu’ara’: 62). Maka Allah menyuruh Musa memukulkan tongkatnya. Dan laut itu pun terbelah. Musa dan pengikutnya bisa menyeberangi. 

baca selengkapnya..

UncategorizedMay 7, 2007 3:28 am

K.H. Rahmat Abdullah (Alm)

Tak ada perintah meminta tambahan seperti perintah meminta tambahan ilmu. Bahkan perintah itu diarahkan kepada Rasul pilihan SAW. Dan katakanlah: “Ya Rabbi, tambahkan daku ilmu (Qs. 20:114).

Bagi Ashabul Kahfi, sesudah iman tambahan ni’mat berupa Huda (petunjuk) itu pada hakikatnya juga ilmu. Kecuali efek kesombongan yang sebenarnya bukan anak kandung ilmu, seluruh dampak ilmu adalah kebajikan. Bahkanpun ketika seseorang terlanjur salah jalan, ilmu mengambil peran pelurus. Ia selalu jujur, asal si empunya mau jujur. “Lewat beberapa masa, aku menuntut ilmu dengan motivasi yang salah, tetapi sang ilmu tak pernah mau dituntut kecuali karena Allah,” kata Al-Ghazali.

baca selengkapnya..

UncategorizedMay 2, 2007 6:35 am

Da’wah mesti dipikul secara bersama. Kebersamaan itu harus diwujudkan dalam kerjasama (amal jama’i) yang rapi. Dari sini kemudian, kebutuhan da’wah akan jama’ah yang solid sangat penting. Tidak saja demi kepentingan tugas da’wah, tapi juga untuk melindungi para da’i dan da’wah itu sendiri dari berbagai gangguan-gangguan. 

Tekanan dan serangan dari luar jama’ah da’wah, betapapun dahsyatnya tak akan  menimbulkan permasalahan berarti, manakala kondisi internal bangunan jama’ah da’wah telah kokoh. Sebaliknya, bangunan itu bisa saja runtuh, hanya karena rongrongan fitnah dari dalam. Ancaman dari dalam ini lebih bahaya. Bila tak dibenahi, ia bisa menjadi bom waktu yang dapat meledakkan bangunan da’wah.

baca selengkapnya..

UncategorizedMay 1, 2007 5:41 am

Kemesraan ukhuwah dibangun atas tiga hal: saling kenal (ta’aruf), saling memahami (tafahum), dan saling berbagi beban (takaful). Ketiganya merupakan pilar ukhuwah yang tak boleh luput dari roda perjalanan da’wah.

Ta’aruf bermula dari pengenalan secara fisik, karakter, kadar keseriusan taqarrub kepada Allah, atau hal-hal lahiriyah lainnya. Rasulullah saw bersabda, “Seorang mukmin itu makhluk yang cepat akrab, maka tidak ada kebaikan pada orang yang tidak cepat akrab dan tak bisa diakrabi.” (HR. Ahmad dan Thabrani).

baca selengkapnya..

Newer Items »»