UncategorizedApril 29, 2007 3:37 pm

Luruskan Niat

Sahabat-sahabat Rasulullah adalah generasi terbaik ummat ini. Mereka terus belajar dari Rasulullah apa-apa saja yang harus dikerjakan dan apa saja yang mesti mereka tinggalkan. Soal menjaga lurusnya niat di dalam hidup dan perjuangan mereka, tak bosan-bosan para sahabat itu berguru kepada Rasulullah. Seperti dikisahkan oleh Umamah radhiyallahu ‘anhu, ada seorang laki-laki yang datang menemui Rasulullah dan bertanya, “Wahai Rasulullah, Apakah pendapat engkau tentang seseorang yang berperang dengan tujuan mencari pahala dan popularitas diri. Kelak, apa yang akan ia dapat di akhirat?” Rasulullah menjawab, “Dia tidak mendapatkan apa-apa.”Orang itu mengulangi lagi pertanyaannya sampai tiga kali. Tetapi Rasulullah tetap menjawabnya, “Ia tidak menerima apa-apa!” Kemudian beliau bersabda, Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amal perbuatan, kecuali yang murni dan yang mengharapkan ridha-Nya. (HR. Abu Daud dan Nasa’i). 

baca selengkapnya..

UncategorizedApril 26, 2007 3:15 pm

Suatu malam menjelang fajar, dalam inspeksi rutinnya, Khalifah II Umar bin Khattab mendengar dialog menarik antara seorang ibu dengan gadis kencurnya. “Cepatlah bangun, perah susu kambing kita dan campurkan dengan air sebelum orang bangun dan melihat kerja kita.” “Bu, saya tak berani, ada yang selalu melihat gerak-gerik kita.” “Siapa sih sepagi ini mengintai kita?” sang ibu balik bertanya, “Bu, Allah tak pernah lepas  memperhatikan kita.” Khalifah segara kembali dengan satu tekad yang esok dilaksanakannya, melamar sang gadis untuk puteranya, ‘Ashim bin Umar. Kelak dari pernikahan ini lahir seorang cucu: Umar bin Abdul Aziz, khalifah kelima.

Tuan dan Nyonya Da’wah yang saya hormati,

Tentu saja istilah baitu da’wah ini tidak dimaksudkan sebagai rumah tempat warganya setiap hari berpidato. Juga bukan keluarga dengan aktifitas belajar mengajar seperti laiknya sebuah sekolah formal. Ia adalah sebuah wahana tempat pendidikan berlangsung secara mandiri dan alami namun bertarget jelas.

baca selengkapnya..

UncategorizedApril 21, 2007 2:41 pm

Membangun kekuatan da’wah mutlak memerlukan prajurit yang memiliki visi perjuangan yang jelas. Sebab, pemahaman dan persepsi seseorang sangat berpengaruh pada sikapnya.

Pemahaman terhadap visi perjuangan, adalah fondasi sebuah bangunan da’wah. Dua lainnya adalah kekuatan niat dan amal. Fikrah tersebut akan memberi aliran semangat yang tak pernah lemah bagi para juru da’wah.

Tanpa memiliki fikrah yang jelas, da‘wah akan kehilangan bashirah, miskin ketajaman langkah, mudah terjebak oleh kondisi yang menipu, serta rawan fitnah.

Perjalanan da’wah yang panjang, berikut karakteristik fase yang dilaluinya, harus disadari oleh setiap da’i. Tidak sedikit, orang gugur di jalan da’wah, karena tak paham dengan langkah-langkah dan strategi umum da’wah. Ada ketidaksabaran dan ketergesaan yang mendorong seseorang memetik buah sebelum masak. Ada juga sebaliknya, yang justru terseok-seok tak mampu mengikuti dinamika da’wah. Tak ada kreativitas, inovasi, apalagi kerja keras. Mereka adakalanya terlampau jumud, selalu menunggu diperintah, bagaikan gong, yang tak akan bunyi bila tak dipukul.

baca selengkapnya..

Uncategorized 6:01 am

Iman adalah sumber kekuatan. Ia merupakan penjaga sekaligus pemelihara seseorang dari sikap meremehkan dosa yang berbuntut kelemahan. Orang yang lalai dan suka dengan maksiat sebenarnya ia tak punya kekuatan. Krisis iman merupakan akar dari segala krisis. Karena jiwa yang kosong dan senyap dari keimanan tidak akan bisa menuntun pemiliknya ke jalan yang benar. Begitu juga lemahnya interaksi, keterlibatan, dan tanggung jawab seorang muslim terhadap berbagai kewajiban Islam dan da’wah hanyalah cermin dari krisis iman yang bersemayam dalam hati.

Itulah inti taujih Rasulullah, tatkala seorang sahabat bertanya kepadanya “Kenapa Anda melakukan puasa terus menerus?” Rasul menjawab, "Siapakah di antara kalian yang seperti aku. Aku bermalam dan Tuhanku memberiku makan dan minum."(HR. Bukhari)

baca selengkapnya..

TarbiyahApril 20, 2007 1:24 am

Hari-hari menjelang kedatangan Rasulullah SAW dari Tabuk sangat menegangkan. Setidaknya bagi Ka’ab bin Malik. Kalau saja ia berada dalam rombongan Rasulullah, tentu lain ceritanya.

Seperti biasa, setiap pulang dari perjalanan, Rasul lebih dulu ke masjid. Ternyata, sekitar 80-an orang munafik telah menunggu di sana. Mereka memohon kepada Rasulullah agar meminta ampunan kepada Allah karena tidak ikut perang. Mereka juga berharap agar Rasul sendiri mau memaafkan. Permintaan itu dikabulkan Rasul. Tapi, tiba-tiba wajah beliau berubah merah. Seulas senyum sinis tersungging, ketika Ka’ab bin Malik menemuinya. “Mengapa kamu tidak ikut ke Tabuk? Bukankah kamu telah membeli kendaraan untuk itu?" tanya Rasulullah. Wajar Rasulullah bersikap seperti itu. Ka’ab termasuk jajaran para sahabat terhormat, punya track record yang baik sebagai penulis wahyu, dan relatif tanpa cacat nama baik. Tidak ikut ke Tabuk menjadi sesuatu yang tak logis untuk ukuran seorang kader yang ditarbiyah oleh Rasul.

baca selengkapnya..

UncategorizedApril 18, 2007 1:41 am

Pernahkah kita bertanya pada diri sendiri, kenapa kita perlu bertaubat? Apa reaksinya? Apakah kita merasa perlu bertaubat sesekali, atau melakukannya terus menerus? Mungkin, ada orang yang menganggap tidak perlu bertaubat terus menerus. Ada juga yang justru merasa sangat perlu melakukan-nya. Bahkan jika mungkin, ingin melakukan-nya setiap saat.

Bagi yang merasa tidak perlu mengulang-ulang taubat, alasannya, pasti karena mereka merasa tidak ada kesalahan yang menjadikan-nya perlu senantiasa memperbarui taubat. Tapi bagi yang merasa sangat mementingkan taubat, itu dilandasi kesadaran sebagai manusia mereka tidak terlepas dari kekhilafan. Apalagi kesalahan kepada Allah Maha Pencipta.

Bila kita melakukan kesalahan terhadap seseorang, cara terbaik untuk menyelesaikannya, adalah dengan meminta maaf. Meminta maaf, awalnya memang sangat berat. Sebabnya adalah rasa malu, segan dan sebagainya. Tapi apabila dilakukan, ternyata itu lebih bermanfaat. Pikiran menjadi lebih tenang, dan jiwa menjadi tentram. Suasana hati pun otomatis menjadi damai. Itu pasti. Sebaliknya, andai kita menunda permintaan maaf kepada orang tersebut, hati kita akan penuh dengan perasaan galau, gelisah.

baca selengkapnya..

UncategorizedApril 8, 2007 3:12 pm

Bingung, bimbang, kegelisahan adalah tiga serangkai yang biasanya cukup membuat seseorang tersiksa dalam hidupnya. Tidak ada yang mau dihinggapi perasaan itu. Setiap kita selalu ingin kejelasan, ketenangan dan kepastian hidup.

Tetapi ternyata tidak selamanya bingung membawa bencana. Adakalanya bingung, bimbang dan gelisah adalah merupakan anugerah. Kenikmatan yang akan membawa kita kepada kenikmatan yang lain.

Bingung adalah merupakan bagian proses kehidupan. Proses yang akan menghantarkan kita kepada suatu tujuan. Tujuan kebaikan dan kesenangan. Untuk mencapai tujuan itu, kita harus melalui terminal bingung tersebut.

baca selengkapnya..

UncategorizedApril 4, 2007 4:38 am

Dan ingatlah tatkala Tuhannu memaklumatkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu; dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”” (Surah Ibrahim:7)

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kita kepada Allah atas nikmat iman, nikmat sehat, nikmat umur, nikmat ukhuwah, serta nikmat lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu, sehingga kita dapat dipertemukan dalam acara tasyakuran ini, yang mudah-mudahan Allah mencatat segala langkah ibu dan bapak sekalian untuk hadir di sini, sebagai pemberat timbangan kebaikan di hari akhirat kelak.

Salawat dan salam juga kita sampaikan kepada Rasulullah SAW, tauladan kehidupan kita, kepada keluarganya, para sahabatnya, serta para pengikutnya yang senatiasa berupaya melaksanakan segala syariatnya.

baca selengkapnya..

UncategorizedApril 3, 2007 2:46 am

Keutamaan Al-Qur’an yang terbesar bahwa ia merupakan kalam Allah SWT. Al-Qur’an adalah kitab yang diturunkan dengan penuh berkah. Al-Qur’an memberikan petunjuk manusia kepada jalan yang lurus. Tidak ada keburukan di dalamnya, oleh karena itu sebaik-baik manusia adalah mereka yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya. Rasulullah SAW bersabda, ”Sebaik-baik orang diantara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhori).

Rasulullah SAW selalu membaca Al-Qur’an. Beliau juga suka mendengarkan bacaan dari sahabatnya, khususnya sahabat Ibnu Mas’ud. Beliau berlinang air matanya bila membaca dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an, seperti yang dikisahkan dalam sebuah hadist dari Ibnu Mas’ud: Suatu ketika Rasulullah SAW meminta Ibnu Mas’ud untuk membacakan Al-Qur’an. Ibnu Mas’ud berkata: “Ya Rasulullah, bagaimanakah saya membacakan untukmu, padahal Al-Qur’an diturunkan kepadamu?”. Dijawab nabi SAW: “Saya ingin mendengar dari orang lain”. Ibnu Mas’ud berkata, ”Maka saya bacakan surat An Nisa hingga sampai pada ayatFa kaifa idzaa ji’na min kulli ummatin bisyahidin waji’na bika ’ala ha’ula’i syahiida” (Bagaimanakah jika Kami telah mendatangkan untuk setiap ummat saksinya dan Kami jadikan engkau sebagai saksi atas semua ummat itu). Nabi bersabda, “Cukuplah sampai di sini”. Saya menoleh melihat nabi SAW sedang bercucuran air mata.“ {HR. Bukhori dan Muslim}.

baca selengkapnya..

UncategorizedApril 2, 2007 2:32 am

Kita melewati waktu yang mempunyai ruas-ruas. Ada batas pemisah setiap ruas waktu yang membedakan antara satu waktu dengan waktu lain yang berikutnya. Coba perhatikan, waktu fajar adalah pemisah antara malam dan siang. Maghrib adalah pemisah antara siang dan malam. Hari Jum’at adalah hari yang membatasi satu pekan dengan pekan berikutnya. Kemunculan hilal atau penampakan bulan yang paling kecil yang menghadap bumi beberapa saat setelah ijtima’, adalah rentang pemisah antara satu bulan dengan bulan berikutnya. Muharam adalah batas yang memisahkan satu tahun dengan tahun berikutnya. Apa sebenarnya rahasia di balik batas-batas pemisah antara ruas waktu itu?

Saudaraku,
Perhatikanlah, ternyata banyak sekali hadist Rasululah SAW yang menyebut waktu-waktu pemisah itu. Ada sejumlah dzikir yang diajarkan Rasulullah, untuk kita baca di waktu fajar, saat pemisahan waktu malam dan siang itu. Ada banyak dzikir juga yang disebutkan oleh Rasulullah SAW pada waktu menjelang maghrib, pemisah siang dan malam. Bagi mereka yang mengetahui keutamaan hari Jum’at, biasanya akan menyambut kedatangan hari itu sejak hari Kamis sorenya. Kemudian di pagi hari Jum’at, dia mandi dan memakai wewangian, memotong kuku dan merapihkan rambut. Itulah diantara yang disabdakan Rasul tentang hari Jum’at, “Antara Jum’at dan Jum’at ada pengampunan dosa diantaranya, selama seseorang tidak melakukan dosa besar,” (Hadist Riwayat Ibnu Majah). Betapa berharganya hari Jum’at.

baca selengkapnya..