Semoga kita tak pernah putus berdo’a agar rahmat Allah menaungi kebersamaan kita.

Saudaraku,
Manusia, tetap manusia. Bukan malaikat. Rasulullah saw, sebagai hamba Allah teladan, juga manusia. Ia tetap memiliki tabiat kemanusiaan. Karena, andai sosok teladan untuk manusia itu bukan manusia, sudah tentu tak ada manusia yang bisa mengikutinya. Dan, artinya ia tak mungkin dijadikan teladan.

Karena itulah Rasulullah mengucapkan do’a: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku adalah manusia. Aku marah sebagaimana manusia marah. Maka siapa saja dari kaum muslimin yang merasa telah aku sakiti, aku caci, aku laknat dan aku cambuk, jadikanlah hal itu sebagai do’a dan pembersih yang akan mendekatkannya kepada-Mu pada hari kiamat." (HR. Bukhari dan Muslim).

Meski tetap dengan kemanusiaannya, Rasul tetap memiliki predikat Al-Ma’shum -yang terpelihara dari dosa –, karena keimanannya yang tinggi dan Allah swt merahmatinya dengan selalu meluruskannya dari kesalahan. Iman sajalah yang membuat Rasulullah memiliki kemauan baja, cita-cita tinggi dan mampu terhindar dari bisikan syetan melalui hawa nafsu.

baca selengkapnya..