UncategorizedFebruary 13, 2007 3:56 pm

Melakukan amal ibadah, amal shalih, dan seluruh perbuatan baik secara terus menerus, setahap demi setahap, ibarat membangun benteng diri yang kokoh. Menata batu-bata satu persatu secara terus menerus, hingga akhirnya berdirilah sebuah bangunan yang megah. Inilah amal yang dicintai Allah, yakni melakukan kebaikan dan ibadah tanpa henti, meskipun hanya sedikit.

Beramal sedikit demi sedikit tetapi terus menerus, juga ibarat menanam benih pohon, memberinya pupuk dan menyiraminya dengan air. Pohon itu adalah jiwa kita sendiri. Pupuk dan airnya adalah amal-amal ibadah dan keimanan. Sedikit dalam beramal yang dilakukan terus-menerus juga sama dengan memupuk dan menyiram pohon iman sehingga ia akan tetap tumbuh segar dan tak layu. Alhasil, jiwa terus terangkat menuju derajat yang lebih baik, menapaki tangga-tangga ke arah kesempurnaan.

baca selengkapnya..

Uncategorized 4:36 am

Ketika ia diturunkan pertama kali, kebanyakan pendukungnya adalah orang-orang yang tak dikenal, para budak dan orang-orang miskin. Ia mendobrak kebiasaan lama, saat sejarah hanya peduli pada orang-orang ningrat, raja-raja dan anak-anak raja. Nabi-nya ummi, buta huruf, untuk suatu hikmah yang dijelaskannya sendiri. (Qs. 29;48).

Namun dengan ketulusannya yang luar biasa, kesabarannya yang diatas rata-rata dan optimismenya yang melampaui batas-batas harapan orang biasa, ia menjadi akhlaknya, seperti jawaban Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu’anha; Akhlaqnya adalah Al-Quran.

Beberapa orang kaya dengan pengalaman perjalanan ke manca negara, kebiasaan berdagang dalam suasana merdeka dan fikiran jernih asli dalam kemasan fitrah, telah menjadi pendukung, pendana bahkan pelaksana langsung bagi da’wah yang diberkati ini. 

baca selengkapnya..

Mawas diriFebruary 12, 2007 1:46 am

Dari data penelitian, ditemukan banyak faktor yang menjadikan kendala seseorang enggan untuk menjadi penyeru kebaikan. Antara lain, kurang percaya diri, kemudian disusul tidak adanya skill. Kalau kita runut, keduanya mempunyai korelasi yang sangat erat. Sebenarnya akar masalah orang yang tidak percaya diri terletak pada skill (keterampilan). Dan, skill utama bagi seorang penyeru kebaikan terletak pada kemampuan penguasaan materi, pemahaman terhadap nilai-nilai yang disampaikan, serta penguasaan skill penyampaian.

Untuk menumbuhkan ketiga hal tersebut perlu sebuah usaha pembiasaan. Dan untuk menjadikan hal itu sebagai sebuah kebiasaan dalam diri seseorang secara permanen, maka perlu ditanamkan beberapa faktor: Pertama, paham. Tanpa pemahaman yang utuh, orang tidak akan dapat bekerja dengan ikhlas, lemah produktiftas, dan tidak akan tahan lama. Kedua, memiliki skill. Orang yang tidak memilki skill biasanya akan bekerja dengan cemas dan minder. Ketiga, kemauan. Dengan kemauan, kita dapat beramal secara konsisten dalam rentang waktu yang lebih lama.

baca selengkapnya..

UncategorizedFebruary 10, 2007 2:56 am

Pekerjaan-pekerjaan besar yang mempertemukan seorang pahlawan mukmin sejati dengan takdir kepahlawanannya, selalu melibatkan seluruh instrumen kepribadian sang pahlawan ketika ia sedang melakoni pekerjaan tersebut. Pekerjaan-pekerjaan itu pastilah menyedot energi fisik, jiwa spiritual dan pemikirannya.

Tidak ada pahlawan yang dapat menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan besar dengan hanya mengandalkan satu sumber energi. Misalnya dengan hanya mengandalkan energi jiwa tanpa bantuan energi lainnya. Jadi seorang pahlawan bekerja dengan keterlibatan yang penuh dari seluruh instrumen kepribadiannya.

baca selengkapnya..

UncategorizedFebruary 9, 2007 1:57 am

Kita telah melewati detik, menit, jam, hari, pekan dan tahun-tahun yang cukup panjang dan melelahkan. Semuanya sudah berlalu… Berapa banyak amal yang sudah kita lakukan selama itu? Mari kita mereka-reka jawabannya. Ya, ternyata baru itulah, kesungguhan yang kita lakukan untuk menyongsong sebuah kehidupan yang pasti dan abadi. Ternyata, hanya sebanyak itu bekal yang kita kumpulkan untuk menebus kebahagiaan akhirat… Sudah cukup? Pasti tidak. Sementara kita sama sekali tidak tahu, berapa detik, menit, jam, hari pekan dan tahun lagi yang tersisa di hadapan.

Saudaraku,

Sekarang, kita berada di sini. Di detik, menit, jam, hari pekan dan tahun ini. Mari berdo’a, semoga keadaan kita lebih baik dari yang dulu. Mari bersungguh-sungguh, karena hanya di sini kesempatan kita untuk mengukir amal. “Dunia ini hanyalah tiga hari,” nasihat Imam Hasan Al-Bashri. Ia melanjutkan, tiga hari itu adalah: “Hari kemarin yang sudah berlalu, dan kita tidak bisa lagi untuk mengubahnya. Hari esok, yang kita tidak tahu apakah kita akan masih memiliki kesempatan di dalamnya. Dan hari ini, kesempatan untuk kita melakukan amal sholih. Maka, beramallah sebanyak-banyaknya…”

baca selengkapnya..

UncategorizedFebruary 8, 2007 3:10 am

Cepat sekali waktu berlalu. Mengalir tak pernah berhenti. Jam demi jam, menit demi menit, detik demi detik, bergerak. Waktu tak dapat ditunda, tak dapat ditahan dan tak mungkin ada yang mampu mengulang. Dan itu artinya, usia kita pun berkurang. Kita… Semakin dekat ke liang lahat. Saudaraku, entah, apakah pertambahan dan perguliran waktu itu berarti mendekatkan diri kepada kenikmatan surga. Atau mendekatkan kesengsaraan neraka. Na’udzubillah.

Rasul menyifatkan cepatnya perjalanan waktu kehidupan seperti perjalanan seorang musafir yang hanya sejenak berhenti di bawah pohon di tengah perjalanan yang amat panjang. Para ulama juga banyak menguraikan ilustrasi tentang hidup yang amat singkat ini. Salah satunya Imam Ibnul Jauzi. "Umurmu akan mencair seperti mencairnya es,” katanya. (Luthfu fil Waz, 31)

baca selengkapnya..

UncategorizedFebruary 7, 2007 5:04 am

Persaudaraan dan persahabatan sejati hanya tumbuh di atas iman. Hubungan persaudaraan dan persahabatan akan cacat dan rusak bila tumbuh di atas kepentingan individu maupun kelompok yang bersifat duniawi. Pilar paling penting bagi  terbangunnya suasana ukhuwah di kalangan para sahabat dahulu, seiring-sejalan dengan iman yang tertanam kuat dalam diri mereka.

Itu yang menjadi ciri pembinaan Rasulullah selama 13 tahun dalam periode Makkah kepada para sahabatnya. Periode itu, lebih lama dari masa perjuangan Rasul sepanjang 10 tahun pada periode Madinah. Di Makkah-lah, tempat Rasul pertama kali menanam benih, menumbuhsuburkan dan memperkokoh akar keimanan dalam diri para sahabatnya. Itulah yang menjadi landasan berdirinya bangunan besar persaudaraan dan ukhuwah di antara para sahabat. Tingkat ukhuwah para sahabat, seperti yang kerap diceritakan dalam kitab-kitab sejarah, bahkan hingga tahap mengorbankan kepentingan diri sendiri untuk kepentingan  saudaranya.

Persahabatan dan persaudaraan memang tak muncul secara instan. Ibarat pohon, harus dipupuk dan disirami. Sebagaimana Rasulullah pun sering mengarahkan sahabat-sahabatnya kepada perilaku yang membuat persaudaraan itu semakin kuat di antara mereka. Hal ini membutuhkan proses yang sangat panjang dan harus terus menerus dilakukan.

baca selengkapnya..

UncategorizedFebruary 5, 2007 4:02 pm

Iman memang bisa mengubah segalanya. Bermula dari hati, segala prilaku akan bisa berubah. Begitulah perubahan pribadi yang dialami para sahabat Rasulullah. Tapi penting diingat, bagaimanapun kuatnya, iman seseorang tetap mengalami fluktuasi, naik dan turun. Itu memang sudah fitrahnya. Karenanya, berukhuwah dengan sesama orang beriman, tetap tidak dapat menolak munculnya sifat-sifat kemanusiaan yang akan mengganggu proses persaudaraan tersebut, “Orang yang mencari saudara yang tak memiliki kesalahan, maka ia tidak akan memiliki saudara," begitu pepatah Arab menyebutkan. baca selengkapnya..

TarbiyahFebruary 3, 2007 3:49 pm

Tiada arti sebuah keberhasilan proses tarbiyah rasmiyah (pendidikan: formal) tanpa di barengi kemampuan seorang mutarabbi (anak didik) dalam mengaktualisasikan dirinya sebagai nukhbah (kader) yang dinamis, sensitif dan bijak (hay, hassas, hakim). Cermatilah kecermelangan tarbiyah dzatiyah (pendidikan diri) tokoh-tokoh sejarah berikut.

Keluarga Nabi Ibrahim, AS.

Ummu Ismail tak berhasil mencari jawaban dari Nabi Ibrahim kenapa sang suami tega meninggalkan mereka di lembah tak bertanaman, tanpa kerabat dan bekal, kecuali sekantung makanan dan minuman untuk hari itu. Maka ia mencoba mencari pertanyaan lain yang mencairkan segala yang beku, membukakan segala yang buntu, dan memudahkan segala yang mustahil, “Allah kah yang menyuruhmu meninggalkan kami disini?" tanya Ummu Ismail. “Ya,” jawab Ibrahim. "Bila demikian, pastilah Ia tak akan menyia-nyiakan kami”, sahut Ummu Ismail.

Pada kondisi paling kritis dan dilematis itu, ia berhasil mengambil keputusan terbaik. Padahal sangat manusiawi, bila ia meminta agar Allah melimpahkan bahan makanan. Tapi yang dilakukan justru berdoa agar keturunannya menegakkan shalat, agar sebagian umat manusia mencintai mereka, baru kemudian ia minta agar Allah memberikan mereka rezeki buah-buahan (QS. 14;37). Ia memang pemimpin visioner. 

Atau betapa bijaknya Ismail alaihissalam ketika ayahnya mengungkapkan, “Aku melihat dalam mimpi, bahwa aku menyembelihmu." Ismail menjawab, “Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan temukan daku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. 37:102)

baca selengkapnya..

UncategorizedFebruary 1, 2007 3:39 pm

Kehilangan memang menyakitkan. Apapun yang terlepas, baik dalam konteks pribadi atau yang lebih luas, tentu terasa menyedihkan. Karena apa yang kita miliki lekat sebagai bagian dari hidup kita. Bahkan ketergantungan terhadapnya mungkin telah tercipta. Ketika itu dicabut atau hilang, kita merasa hilanglah sebagian dari diri kita. Maka sangatlah wajar kalau kemudian ada tangis, minimal kesedihan yang menggumpal di dada. Mungkin tangis ini bisa meringankan sebagian beban hati. Boleh jadi air mata pun bisa membasahi panas hati yang terasa tak menentu. Namun tangis saja tidaklah cukup. Mesti ada tindakan lain yang kita lakukan ketika didera musibah kehilangan. Alternatif dibawah ini mungkin bisa menjadi beberapa solusi.

1. Ingat Kembali Sebab Kehilangan Kita
Kita bisa kehilangan suatu benda. Kita pun bisa kehilangan akhlak dan ketaatan pada Allah yang dulu pernah kita miliki. Kita bisa kehilangan generasi. Mungkin banyak manusia berkualitas yang telah pergi mendahului, hingga kita merindukan mereka. Atau kita merasa kehilangan teman sejati, karena meski banyak teman di sekeliling, namun tak satupun yang sejalan dengan hati kita.

baca selengkapnya..

Newer Items »»