UncategorizedFebruary 28, 2007 4:17 pm

Saudaraku,

Tak terasa, sudah cukup panjang kita menempuh perjalanan bersama kafilah da’wah yang diberkahi ini. Entah seperberapa bagian usia telah kita gunakan bersama para sahabat dan kawan seperjuangan di jalan ini. Suasana gembira, bahagia bercampur sedih, peluh, letih, lelah, mungkin air mata, atau mungkin juga darah, ada di sana. Dan kita tidak pernah tahu, berapa panjang lagi jarak perjalanan yang tersisa di hadapan.

Sehabis menempuh perjalanan cukup panjang, kita pasti merasa penat. Kita perlu beristirahat, mengumpulkan tenaga, agar kita mampu menuntaskan perjalanan ini. Agar tubuh kita menjadi gesit kembali, setelah banyak menanggung beban dan tanggung jawab yang cukup berat. Mari kita beristirahat.

baca selengkapnya..

DakwahFebruary 25, 2007 8:38 am

Sejarah menunjukkan, jumlah kader inti perjuangan da’wah selalu sedikit. Namun itulah sesungguhnya rahasia kekuatan mereka. Seperti terlihat dalam peperangan yang dilakukan Rasulullah:

Perang Badar
Inilah perang pertama yang dilakukan kaum muslimin. Sekaligus peristiwa paling penting bagi sejarah perkembangan da’wah Islam. Meski dengan kekuatan yang jauh lebih kecil dibanding kekuatan musuh, dengan pertolongan Allah, kaum muslimin berhasil menang menaklukkan pasukan kafir.

Rasulullah SAW berangkat bersama tigaratusan orang sahabat dalam perang Badar. Ada yang mengatakan mereka berjumlah 313, 314, dan 31 7 orang. Mereka kira-kira terdiri dari 82 atau 86 Muhajirin serta 61 kabilah Aus dan 170 kabilah Khazraj. Kaum muslimin memang tidak berkumpul dalam jumlah besar dan tidak melakukan persiapan sempurna. mereka hanya memiliki dua ekor kuda, milik Zubair bin Awwam dan Miqdad bin Aswad al-Kindi. Di samping itu mereka hanya membawa tujuh puluh onta yang dikendarai secara bergantian, setiap onta untuk dua atau tiga orang. Rasulullah saw sendiri bergantian mengendarai onta dengan Ali dan Murtsid bin Abi Murtsid Al-Ghanawi.

baca selengkapnya..

DakwahFebruary 24, 2007 5:06 am

Setiap perjuangan berhajat pada kader inti. Itu umum dikenal, sampai oleh para pejuang komunis-sosialis sekali pun. Keberadaan kader-kader inti bagi perjuangan Islam sangat vital. Peran dan fungsinya pun amat penting. Sebab, merekalah yang diharapkan menjadi mesin utama sekaligus pusat aktivitas dari seluruh perjuangan Islam dimaksud. Sirah Rasulullah menunjukkan, ada berbagai alternatif peran yang bisa dipilih kaum muslimin yang ingin menjadi kader inti perjuangan Islam. Adanya berbagai alternatif tersebut, memberi peluang lebih besar, bahwa setiap mukmin bisa menjadi kader inti bagi perjuangan Islam:

Pertama, Kader Terikat
Ialah mereka yang secara khusus mengikatkan diri kepada perjuangan Islam. Berjanji kepada Allah bahwa seluruh jiwanya ia peruntukkan bagi Allah, di atas jalan perjuangan menegakkan agama ini bersama para pejuang lainnya. Orang-orang seperti itu terikat oleh rencana-rencana perjuangan yang telah disusun bersama berdasarkan berbagai pertimbangan. Mereka juga terikat oleh perintah dan larangan. Terikat oleh hak dan kewajiban. Contoh operasional (amali) dari para kader terikat adalah para sahabat yang melakukan bai’at Aqabah Pertama dan Kedua. Di Aqabah kedua bahkan, mereka berjanji setia untuk membela agama Islam, melindungi Rasulullah seperti mereka melindugi anak dan istri mereka. Balasan untuk orang-orang itu, seperti ditegaskan oleh Rasulullah adalah surga.

baca selengkapnya..

DakwahFebruary 23, 2007 1:59 am

Selain melakukan dakwah secara umum, Rasulullah juga menjalankan proses kaderisasi intensif kepada sejumlah sahabatnya. Dalam sejarah disebutkan, Rasulullah SAW menggelar pertemuan rutin di Darul Arqam untuk mengikat para kader dengan pimpinan mereka yakni diri Rasulullah SAW sendiri. Selain itu, Rasulullah ingin menumbuhkan rasa percaya diri para kadernya, agar tekad melanjutkan perjalanan dakwah makin kuat.

Dalam pertemuan itu, setiap sahabat yang datang ke Darul Arqam menceritakan apa yang ia alami. Mereka juga bicara tentang perbincangan yang ia lakukan, serta sanggahan yang ia sampaikan kepada kaum kafir. Nabi SAW, lalu memberi pengarahan yang sesuai, memuji sikapnya, atau meluruskan kesalahannya.

Secara teknis, Rasulullah SAW melakukan pola-pola pendekatan yang intensif kepada para sahabat dalam rangka mencetak kader-kader dawah yang handal. Di antara pola pendekatan kaderisasi Rasulullah itu adalah:

Pertama, Rasulullah menumbuhkan suasana perkenalan antara para sahabat agar hubungan hati antar mereka kian terikat serta tumbuh rasa cinta. Rasulullah mengenal baik nama, keturunan, status sosial dan karakter para sahabatnya. Rasulullah juga kerap menanyakan bagaimana keadaan para sahabat untuk lebih mengenal mereka secara lebih jauh. Itu sebabnya, ketika ditanya tentang amal apa yang paling utama, Rasulullah memberi jawaban yang sesuai dengan penanya-nya.
baca selengkapnya..

DakwahFebruary 22, 2007 1:34 am

Menjadi penolong agama Allah merupakan profesi yang sangat mulia. Menjadi penolong agama Allah artinya kita menegakkan Islam di muka bumi ini. Menegakkannya dalam jiwa kita, dalam diri kita, dalam keluarga kita, dalam lingkungan kerja kita, dalam masyarakat kita, dalam kehidupan berbangsa kita. Bahkan juga menegakkannya dalam urusan-urusan kecil keseharian kita. Bukankah makan dengan tangan kanan adalah tuntunan agama Islam? Bukankah tersenyum kepada saudara seiman adalah ajakan agama kita? Bukankah menghormati yang lebih tua merupakan ajaran agama Allah? Bukankah berbakti dan mendo’akan ayah dan ibu kita adalah seruan agama Allah?  Bukankah membaca do’a sebelum masuk kamar kecil anjuran agama Allah? Tentu. Semua menjadi bukti bahwa tak ada yang disebut perkara remeh dalam Islam, meskipun perkara itu kecil.

Menjadi penolong agama Allah, sekali lagi, merupakan amal dan profesi yang sangat mulia. Apa dasarnya? Banyak sekali. Antara lain: Pertama, Allah sendiri telah memberikan label, bahwa menjadi penolong agama Allah – dalam bentuk berda’wah dan menyeru manusia – merupakan amal yang sangat mulia. Lihat dan perhatikan firman-Nya, yang artinya, "Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru (manusia) kepada Allah, mengerjakan amal shalih, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’” (Qs. Fushilat: 33).

baca selengkapnya..

UncategorizedFebruary 21, 2007 9:44 am

Bersyukurlah atas segala curahan nikmat Allah yang tak pernah berhenti dan tak pernah bisa dihitung. Tanam dan lipatgandakan kesabaran atas segala ujian dan kesulitan yang kita alami.

Saudaraku,
Syukur dan sabar, dua senjata paling ampuh dalam mengarungi gelombang hidup. Gelombang hidup yang selalu menguji ketangguhan iman. Gelombang hidup yang tak selalu sama antara harapan dan kenyataan. Syukuri segala karunia, kenikmatan, kemudahan, kesehatan, kelapangan dari Allah Yang Maha Pemberi Rah-mat. Sabar terhadap segala kepahitan, kesulitan, kesempitan, dan keadaan yang tidak sesuai dengan harapan. Menurut Rasulullah saw, syukur dan sabarlah yang akan menjadikan keadaan apapun menjadi baik. “Dan dua sikap itu, tidak akan terjadi kecuali pada diri orang yang beriman," ujar Rasulullah saw.

baca selengkapnya..

UncategorizedFebruary 18, 2007 3:33 pm

Saudaraku,
Tahukah kita, bila ternyata bagi para shalihin, musim di mana cuaca lebih dingin dan sejuk itu adalah musim mereka menunaikan amal-amal ibadah yang lebih banyak? Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Abu Sa’id Al Khudri yang menyebutkan sabda Rasulullah saw, "Musim dingin itu, penyejuk hati orang beriman.” Imam Al Baihaqi bahkan meriwayatkan kebiasaan Rasulullah saw yang “Memanjangkan malam dengan shalat dan memendekkan siang dengan puasa.”

Kenapa musim saat cuacanya lebih dingin, bisa menjadi penyejuk bagi orang beriman? Jawabannya adalah, karena musim cuaca seperti itu seorang mukmin lebih banyak mendapat kemudahan dalam melakukan ketaatan. “Di musim dingin, seorang mukmin lebih mampu berpuasa di siang hari tanpa kesulitan sebagaimana di musim panas. Ia tidak mengalami haus dan lapar seperti di musim panas…," demikian tulis Ibnu Rajab. Karena itulah, Rasulullah saw juga mengatakan, “Puasa di musim dingin adalah harta ghanimah yang dingin.” (HR. Ahmad) 

baca selengkapnya..

UncategorizedFebruary 17, 2007 3:45 pm

”Bila aku tidur di waktu siang, berarti aku menyia-nyiakan hak rakyat. Dan bila aku tidur di waktu malam, berarti aku menyia-nyiakan hak diriku untuk bersama Allah… Bagaimana saya tidur dalam dua kesempatan itu…” Itulah jawaban yang keluar dari lisan khalifah Umar bin Khattab tatkala salah seorang komandan pasukan Islam, Mu’awiyah bin Khadij datang menghadapnya di Madinah.

Kisahnya berawal saat Mu’awiyah mencari Umar guna memberi kabar gembira tentang kemenangan yang diraih di Iskandariyah dengan mundurnya pasukan Romawi. Suasana panas yang cukup menyengat siang hari itu memunculkan dugaan dalam diri Mu’awiyah bahwa sang Khalifah tengah melakukan tidur siang (qailulah) di masjid. Ia pun mendatangi masjid untuk mencari Khalifah Umar, namun ternyata Umar tak ada di sana. Mu’awiyah kemudian beralih ke rumah Umar yang ternyata Umar memang tengah berada di sana dan tidak sedang tidur. “Apa yang mendorongmu pergi ke masjid mencariku wahai Mu’awiyah?” Tanya Umar. Mu’awiyah menjawab, “Tadinya aku menduga engkau tengah beristirahat tidur siang di sebuah sudut masjid ya Umar…"

baca selengkapnya..

UncategorizedFebruary 15, 2007 2:10 pm

Berbuat baik, meski sedikit, kadang terasa sulit. Terlebih bila harus terus-menerus. Kadangkala, kendala itu datang dari luar diri kita. Seperti lingkungan yang tidak baik, godaan yang begitu besar, atau tekanan-tekanan hidup yang bermacam-macam.

Tetapi, kalau kita renungkan secara jujur, ada batas minimal dimana seorang muslim bisa tetap bertahan melakukan kebaikan. Rahasianya, terletak pada sejauh mana kemampuan kita menyiasati lika-liku hidup agar tetap dalam irama kebaikan. Kuncinya terletak pada bagaimana menjaga nafas-nafas kebaikan. Beberapa langkah berikut, barangkali bisa membantu.

Pertama, yakini setiap amal ada nilainya

Dalam Islam, tidak ada kebaikan yang tak bernilai. Justru di antara bentuk keadilan dan rahmat yang ditebarkan Islam adalah penghargaannya terhadap segala bentuk kebaikan, meski hanya kecil. Seorang muslim tidak boleh menganggap remeh amal kebaikan yang ia lakukan. Ini tentu dalam kaitan menjaga semangat beramal, bukan dalam pengertian merasa amal kita sudah banyak.

baca selengkapnya..

UncategorizedFebruary 14, 2007 11:00 pm

Tak ada kebahagiaan yang diperoleh secara mudah. Bahkan tingkat sulit dan mudahnya proses mencapai kebahagiaan, akan menjadi bagian penting yang menentukan kadar kebahagiaan yang kita peroleh. Ingat, semua manfaat takkan bisa datang kecuali dengan rasa lelah. Kenikmatan itu bahkan datang sesuai kadar kelelahan untuk memperolehnya. Begitupun kebahagiaan di akirat harus ditempuh dengan kelelahan dalam beramal dan kesulitan untuk meraihnya. Allah SWT menyebutkan bahwa untuk masuk surga sekalipun orang-orang yang beriman harus melalui proses ujian dan penyaringan. Seperti dijelaskan dalam surat Al Ankabut 1-4.

Kontinuitas dalam beramal memang sulit. Perlu pengorbanan, perlu kekuatan mujahadah (kesungguhan) melawan keinginan yang bisa mematahkan kontinuitas amal. Perlu kepasrahan dan ketundukan penuh pada Allah, untuk meraih suplai energi yang mampu mengalahkan rasa sombong dan ujub. Perlu kesabaran berlipat untuk bisa bertahan menjalani ragam tantangan dan halangan yang pasti dijumpai dalam memelihara kontinuitas amal. Tapi, itulah harga yang mesti dibayar untuk kenikmatan surga di akhirat. Bahkan bukan hanya di akhirat, sesungguhnya buah kontinuitas amal itu, meski sedikit, sudah bisa dipetik sejak di dunia.

baca selengkapnya..

«« Older Items •