UncategorizedJanuary 18, 2007 10:46 pm

Menelusuri jalan hidup seperti melewati jalan di semua medan. Ada yang bersih lagi nyaman, ada yang kotor lagi gersang. Tanpa terasa, debu yang teranggap kecil kian menebal menutup wajah. Kalau bukan karena guyuran air dari langit, mungkin tak seorang pun mau melihat wajah kita.

Siapapun tak ingin selamanya hidup dalam bayang-bayang kesalahan. Memasrahkan diri terus diterpa debu-debu salah dan dosa. Tapi, perubahan menjadi sesuatu yang sangat berat. Bisikan lembut agar kembali dekat dengan Yang Maha Sayang menjadi sekadar lintasan Kadang muncul, kemudian tenggelam.

Seorang rnukmin bisa dibilang mustahil bisa betah dalam salah dan dosa. Selalu saja muncul sinyal-sinyal diri yang mengingatkan kalau salah telah ia lakukan. Persis seperti tubuh yang kemasukan racun. Badan tiba-tiba panas, radang, susah tidur, dan  menyusutnya nafsu makan.

baca selengkapnya..

UncategorizedJanuary 17, 2007 11:36 pm

Do’a itu intinya ibadah. Do’a adalah senjata. Do’a adalah benteng. Do’a adalah obat. Do’a adalah pintu segala kebaikan. Begitulah ungkapan yang menggambarkan dahsyatnya kekuatan do’a. Allah, tempat diarahkannya do’a, memiliki dua sifat agung, Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Tentang dua sifat itu, Abdullah Ibnul Mubarak berkata, “Ar-Rahman yaitu jika Dia diminta pasti memberi, sedang Ar-Rahim yaitu jika tidak dimintai maka Dia murka." (Fathul Bari 8/155).

Allah swt berfirman, “Katakanlah, ‘Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya, dan carilah jalan tengah di antara kedua itu." (QS.Al-lsra‘: 110).

baca selengkapnya..

UncategorizedJanuary 16, 2007 2:35 pm

Dalam berinteraksi dengan manusia, ada etika, sopan santun, dan adab. Menjaga pola interaksi dan komunikasi yang baik, akan menjamin hubungan yang baik dengan sesama. Begitupun sebaliknya. Tanpa etika, sopan santun dan adab, hubungan sesama manusia akan sulit menghasilkan sesuatu yang diharapkan. Ilustrasi ini, akan mengawali, bagaimana kita menjalin hubungan, komunikasi dan interaksi yang baik dengan Allah SWT melalui do’a.

Tentu ada beberapa langkah yang diajarkan Allah, Rasulullah dan para salafushalih agar kita bisa berdo’a dengan baik.

Pertama, pilihlah waktu-waktu yang tepat untuk berdo’a. Sebenarnya berdo’a itu tidak terikat dengan waktu, tetapi Islam memang mengajarkan ada waktu yang paling baik dan istimewa untuk berdo’a. Beberapa waktu istimewa untuk dikabulkannya do’a antara lain di malam qadar (sepuluh malam terakhir dalam bulan Ramadhan), di hari Arafah (9  Zulhijjah di kala jemaah haji wukuf di Arafah), di bulan Ramadhan, di hari Jum’at, di sepertiga malam yang terakhir (sesudah jam 2 malam), pada waktu sahur (sebelum fajar), sesudah berwudhu, usai azan sebelum iqamat, ketika sedang berpuasa, ketika dalam medan jihad, di setiap selesai shalat fardu, pada waktu sedang sujud (dalam sholat atau di luar sholat), ketika sedang musafir atau bepergian, dan sebagainya. Termasuk di sini, adalah tidak menyia-nyiakan untuk berdo’a di tempat-tempat yang istimewa, seperti di Masjidil Haram, misalnya.

baca selengkapnya..

UncategorizedJanuary 14, 2007 12:20 pm

Suatu hari, pada hari Jum’at. Saat itu Rasulullah sedang berkhutbah. Tiba-tiba seorang Badui berdiri seraya berkata, “Wahai Rasulullah, harta benda telah binasa, ternak-ternak telah sirna, keluarga kelaparan, maka mohonlah kepada Allah untuk kita semua," Rasulullah mengangkat tangannya dan berdo’a. "Ya Allah siramilah kami, Ya Allah siramilah kami, Ya Allah siramilah kami."

Waktu itu, seperti dituturkan Anas bin Malik, tidak ada mendung di langit. Bahkan nyaris tidak ada apa-apa. Namun tiba-tiba muncui awan pekat seperti tameng ke tengah langit, kemudian menyebar. Tiba-tiba turun hujan yang sangat lebat. Sesudah itu tidak terlihat matahari selama sepekan. Hingga pada Jum’at berikutnya, lelaki Badui itu menemui Rasulullah lagi ketika sedang khutbah, seraya berkata, "Wahai Rasulullah harta benda rusak binasa, jalan-jalan tertutup, berdo’alah kepada Allah, agar Ia menghentikannya." Maka, Rasulullah berdo‘a sambil mengangkat tangannya, "Ya Allah (jadikan ia) di sekeliling kami dan tidak menimpa kami, Ya Allah jadikan ia di atas dataran tinggi, gunung-gunung, benteng-benteng, bukit-bukit, lembah-lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan,” Setelah itu, hujan pun berhenti. Matahari pun bersinar terang. (HR. Bukhari).

baca selengkapnya..

TarbiyahJanuary 13, 2007 2:57 pm

MUQODDIMAH
Sudah menjadi hal yang lazim bagi setiap tugas atau pekerjaan yang akan dilaksanakan oleh seseorang. Harus adanya kesiapan dan persiapan terlebih dahulu. Sebagai contoh membangun sebuah rumah tidak mungkin bisa terlaksana kecuali ada ahli bangunan yang memiliki pengetahuan yang lengkap tentang semua permasalahan yang terkait dengan bangunan. Demikian pula membangun manusia dengan proses tarbiyah membutuhkan murobbi-murobbi profesional.

Mengawal proses tarbiyah adalah pekerjaan yang sangat berat lagi tidak mudah, karena tarbiyah berarti mempersiapkan manusia dengan membentuk dan memformatnya menjadi orang yang memiliki syakhsyiah muslimah da’iah (kepribadian muslim) setelah menghilangkan potensi negatif dan mengembangkan potensi positif pada dirinya.

Tarbiyah berarti berinteraksi dengan manusia, makhluk yang memiliki banyak dimensi dan permasalahan yang kompleks. Orang yang berinteraksi dengan makhluk selain manusia dengan mudah dapat menundukkan dan mengendalikannya namun berinteraksi dengan manusia tidak dapat disamakan dengan berinteraksi dengan binatang atau makhluk lainnya. Oleh karena itu tidak semua orang dapat mentarbiyah, bahkan orang yang sudah memiliki pemahaman yang bagus, latar belakang ilmiah yang memadai, kemampuan berbicara dan kemampuan berdialog yang baik sekalipun belum cukup untuk menjadi murobbi sukses.

Mengingat mentarbiyah manusia bukan pekerjaan yang ringan maka para murobbi dituntut untuk terus melakukan peningkatan kualitas diri agar menjadi murobbi yang profesional.

baca selengkapnya..

UncategorizedJanuary 11, 2007 3:40 am

Di lembah Makkah yang datar. Sepanjang hari matahari membakar. Pasir-pasir berbisik kepanasan. Fatamorgana meliuk-liuk perlahan. Di sanalah, di tanah yang gersang itu, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam baru saja meninggalkan istrinya, Hajar, bersama bayi kecilnya Ismail. Ia harus pergi atas perintah Allah, meninggalkan keluarganya tercinta. Sebuah ujian yang tidak ringan.

Tetapi Ibrahim tidak lantas berkecil rasa. Justru saat itu ia memasrahkan keluarganya kepada Allah, Dzat Yang memerintahkan dirinya untuk beranjak. Ibrahim pun berdo’a. “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman-tanaman, di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Ibrahim: 37). baca selengkapnya..

UncategorizedJanuary 10, 2007 2:38 am

Kota Madinah, di pagi yang masih sangat buta. Butir-butir pasir saling merapat kedinginan, Langit nampak hitam. Tanda malam masih menyisakan banyak potongan gelapnya. Suasana hening, nyaris tanpa suara. Rasulullah saw memasuki pagi itu dengan badan yang panas. Nampaknya, manusia mulia pilihan Allah itu terserang demam.

Aisyah, isteri Rasulullah juga sedang sakit kepala, “Aduhai kepalaku," gumam Aisyah. Rasulullah menyahut, "Justeru kepalaku, wahai Aisyah." Kemudian Rasulullah menambahkan, "Wahai Aisyah, tak usah risau bila engkau meninggal lebih dulu. Bukannya ada aku yang akan mengurusi, mengkafani, menyolatkan dan menguburkan engkau?” Aisyah menimpali, “Tapi setelah selesai, engkau akan pulang ke rumahku untuk bermalam bersama istri engkau yang lain.” Rasulullah tersenyum mendengar jawaban isterinya.

baca selengkapnya..

UncategorizedJanuary 7, 2007 10:30 pm

Hidup tanpa kesadaran ma’iyah (kebersamaan) adalah gersang gurun yang tak menumbuhkan pohon apa pun, selain kaktus dan dedurian yang keras dan menyakitkan, Kecuali ada oase, secercah harapan di tengah keputusasaan, apatisme dan kematian hati, Apa yang menulikan telinga hati tetangga masjid yang mendengar seruan adzan, tetapi terus saja menyambung dengkur dan mimpi. Ia yang rnenatap wajah jernih sang isteri kelelahan, tetapi tak pernah henti berselingkuh melecehkan perempuan, dengan atau tanpa bayaran. Ia yang memandang anak-anak yang manis, tetapi terus menjejali mulut mereka dengan harta haram. Ia yang menikmati betul hari-hari lebaran yang sumringah dan merasakan kasih sayang ummat yang penyabar, tetapi terus menistakan dirinya dalam korupsi, pengkhianatan, intrik, stigma yang tak henti-hentinya terhadap mereka.

Nama siapa yang terukir dalam di hati anak ummat yang ringkih jiwa (hazilurruh); memandang dunia sebagai terminal akhir, mencap teman-temannya sebagai militan yang ‘kesemangetan’ dan da’wah sebagai penguras isi kantung, penyita waktu dan pekerjaan orang-orang yang sok ikut campur urusan orang lain.

baca selengkapnya..

UncategorizedJanuary 4, 2007 4:04 am

“Aku menjumpai jaman di mana Islam kembali menjadi asing sebagaimana permulaannya dulu,” ungkap Ahmad bin Ashim Al-Anthoki. Lebih lanjut beliau mengatakan, "Menjelaskan kebenaran menjadi asing. Jika aku menemui seorang alim, aku dapati dia terfitnah oleh dunia, cinta popularitas dan kedudukan. Dan jika aku menemui seorang ahli ibadah, aku dapati dia bodoh dipermainkan oleh iblis. Dia merasa telah mencapai tingkat ibadah tertinggi, padahal dia tidak paham ibadah yang terendah sekali pun, maka bagaimana dia sampai pada tingkat ibadah yang tinggi. Sedangkan sisanya adalah manusia rusak sesat, serigala-serigala koruptor, binatang buas pemangsa dan musang yang berlarian."

Itulah suasana hidup yang dirasakan oleh Ahmad bin Ashim sebelas abad lalu. Padahal masa itu masih sangat dekat dengan masa orang-orang baik. Ternyata, umat telah berada di antara ulama yang teracuni dunia dan ahli ibadah yang beribadah tanpa dilandasi ilmu. Sementara sisanya hidup tak beraturan bagai binatang. Saling memangsa, saling menjerat, saling menyesatkan. baca selengkapnya..

UncategorizedJanuary 3, 2007 4:01 am

Memulai perbuatan baik, membiasakan diri beramal shalih, awalnya selalu berat. Sama seperti memutar sebuah roda, yang pasti memerlukan tenaga lebih besar saat putaran pertama. Tapi untuk putaran kedua, ketiga, dan seterusnya, tenaga yang diperlukan akan lebih sedikit. Dan akhirnya putaran roda itu bisa berjalan, bahkan tanpa memerlukan tenaga untuk memutarnya.

Bagaimana beratnya memulai bangun malam? Bagaimana beratnya memulai puasa sunnah? Atau bagaimana beratnya memulai melakukan shalat sunnah sebelum atau sesudah sholat fardhu? Bagaimana beratnya mengangkat kaki untuk melakukan sholat di awal waktu berjamaah di masjid? Bagaimana beratnya memulai membaca ayat-ayat Al Quran? Tapi yakinlah, semua itu selalu hanya akan terasa berat pada saat kita baru memulainya. Jika sudah dimulai, kondisinya bahkan bisa berbalik, justru kita akan sulit meninggalkan kebiasaan-kebiasaan baik tadi. Tidak heran bila Umar bin Khattab ra pernah mengatakan, “Saat hati seseorang bersih, maka ia tidak akan merasa puas membaca Al Quran.” Begitulah, jika sudah menjadi rutin, maka perasaan tidak puas seperti yang dikatakan Umar bin Khattab tadi, berarti orang itulah yang justeru merasakan tidak nyaman ketika  meninggalkan amal-amal ibadah yang biasa dilakukannya. Seperti ada sesuatu yang hilang. Maha Suci Allah…

baca selengkapnya..

«« Older Items •  Newer Items »»