Di lembah Makkah yang datar. Sepanjang hari matahari membakar. Pasir-pasir berbisik kepanasan. Fatamorgana meliuk-liuk perlahan. Di sanalah, di tanah yang gersang itu, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam baru saja meninggalkan istrinya, Hajar, bersama bayi kecilnya Ismail. Ia harus pergi atas perintah Allah, meninggalkan keluarganya tercinta. Sebuah ujian yang tidak ringan.
Tetapi Ibrahim tidak lantas berkecil rasa. Justru saat itu ia memasrahkan keluarganya kepada Allah, Dzat Yang memerintahkan dirinya untuk beranjak. Ibrahim pun berdo’a. “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman-tanaman, di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Ibrahim: 37). baca selengkapnya..
