Hidup tanpa kesadaran ma’iyah (kebersamaan) adalah gersang gurun yang tak menumbuhkan pohon apa pun, selain kaktus dan dedurian yang keras dan menyakitkan, Kecuali ada oase, secercah harapan di tengah keputusasaan, apatisme dan kematian hati, Apa yang menulikan telinga hati tetangga masjid yang mendengar seruan adzan, tetapi terus saja menyambung dengkur dan mimpi. Ia yang rnenatap wajah jernih sang isteri kelelahan, tetapi tak pernah henti berselingkuh melecehkan perempuan, dengan atau tanpa bayaran. Ia yang memandang anak-anak yang manis, tetapi terus menjejali mulut mereka dengan harta haram. Ia yang menikmati betul hari-hari lebaran yang sumringah dan merasakan kasih sayang ummat yang penyabar, tetapi terus menistakan dirinya dalam korupsi, pengkhianatan, intrik, stigma yang tak henti-hentinya terhadap mereka.
Nama siapa yang terukir dalam di hati anak ummat yang ringkih jiwa (hazilurruh); memandang dunia sebagai terminal akhir, mencap teman-temannya sebagai militan yang ‘kesemangetan’ dan da’wah sebagai penguras isi kantung, penyita waktu dan pekerjaan orang-orang yang sok ikut campur urusan orang lain.
