Di bukit Uhud yang memerah, pertempuran besar baru saja usai. Orang-orang mulai beranjak. Perlahan. Dalam sisa-sisa tenaga yang berserakan. Darah pekat bergumul dengan debu. Ada banyak perih memagut tulang dan daging yang koyak. Mayat-mayat bergelimpangan. Rasulullah terluka. Orang-orang besar gugur dalam puncak kehormatannya. Hamzah bin Abdul Muthalib, Anas bin Nadhar, Mus’ab bin Umair, dan puluhan sahabat lainnya menghadap Allah sebagai syuhada yang agung.
Rasulullah SAW menguburkan mayat-mayat itu. Dua-dua dalam satu kain. Lalu Rasulullah bertanya, "Siapakah yang paling banyak hafal Al-Qur’an?" Setelah diberitahukan mana dari mayat itu yang paling banyak hafal Al-Qur’an, Rasulullah SAW lantas memasukkannya terlebih dahulu ke liang lahat. Sesudah itu Rasulullah SAW bersabda, "Aku menjadi saksi bagi mereka pada hari kiamat.” Para syuhada itu dikuburkan berikut pakaian dan darah mereka. Apa adanya, tidak dimandikan dan dishalatkan.
Perang Uhud menorehkan berpuluh-puluh prinsip berharga bagi kehidupan. Tidak saja soal strategi perang, soal pengorbanan, ketabahan, harga sebuah kekhilafan, sunnah perputaran, dan siklus hidup. Tetapi dari Uhud kita bisa belajar tentang hal lain: bahwa hidup harus bergerak, Meski setiap gerak punya risiko yang beragam.
baca selengkapnya..