Alangkah singkatnya waktu untuk mencapai tujuan bila jalan yang ditempuh lurus, kendaraannya handal dan pengendaranya bersabar. Alangkah panjangnya perjalanan yang singkat bila para penjelajah membuang-buang waktu, intervensi rute yang bukan hak mereka dan tak punya keteguhan hati.
Bila para ilmuwan menjelaskan, bahwa sel-sel darah putih dan sistim ketahanan tubuh itu bagian dari ayat-ayat Allah, publik tak perlu risau berapa jam pelajaran agama digelar di sekolah-sekolah. Demikian pula dengan kerja jantung, aliran darah, sistim syaraf, antariksa, alam bawah lautan, aroma dan rasa, hidup dan mati, semua ayat-ayat kauniyah-Nya.
Tetapi berapa guru, dosen dan ilmuwan yang mau membahasakan kuasa-Nya yang besar itu dalam konteks ilmiah? Seseorang bisa langsung disebut fatalis bila menisbahkan semua itu kepada-Nya, tak peduli apakah ia sangat berprestasi di bidangnya dan beradab dalam kehidupannya. Dan, sebaliknya tukang cap itu tak mampu memberi jawaban memuaskan tentang misteri alam yang tak mampu mereka ingkari ketertiban, kecermatan, keseimbangan gravitasi, harmoni dan keindahannya. Ataukah soal penguasaan kitab kuning yang menjadi jaminan? Soalnya bukan hafal berapa kitab kuning, menguasai berapa jenis mantera atau menghafal sungsang kitab Alfiah, seribu bait qaidah-qaidah bahasa Arab. Bukankah semua itu tidak otomatis membuat pemiliknya imun terhadap pelecehan perempuan atau arogansi terhadap hamba-hamba-Nya atau mulut lancang berfatwa: Darah si Fulan halal dan farj si Fulanah halal! Mereka telah kacaukan wilayah ilmiah dan wilayah hawa nafsu.
baca selengkapnya..