Bertemu Allah, di ujung malam, tentu dan pasti, memberi makna spritual. Bahkan inilah utamanya, pada pengertian penghambaan, ia memberi penekanan makna yang lebih mendalam. Pengharapan itu bahkan, melayang jauh, nun jauh di sana, pada hamparan surga Allah yang dijanjikan untuk hamba-hamba-Nya yang beriman. “Sesungguhnya, di surga itu ada kamar yang sisi luarnya terlihat dari dalam dan sisi dalamnya terlihat dari luar. Disediakan untuk mereka yang memberi makan orang-orang yang perlu makan, menyebarkan salam, serta mendirikan shalat pada saat manusia terlelap dalam tidur malam." (HR, Ibnu Hibban, dalam shahihnya). Al-Qur’an bahkan dengan jelas menyebutkan, "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di taman-taman (surga) dan di mata air-mata air….. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam." (QS.Adz-Dzariyat: 15-17).
Dari ujung malam itulah benih-benih pengharapan ditanam, disemai, dan ditumbuh suburkan. Selain tentu saja, pengharapan akan ampunan, maaf dan penjagaan dari dosa. “Hendaklah kalian mendirikan qiyamul lail. Sebab itu adalah jalan orang-orang shalih sebelum kalian, sarana bertaqarrub kepada Tuhan kalian, penghapus kesalahan, dan pelindung dari tindakan dosa."
baca selengkapnya..