Saudaraku yang kucintai,
Ingin sekali rasanya kebersamaan ini tak pernah berakhir. Ingin sekali rasanya iringan langkah kita tak pernah putus. Terus bersama dan beriring… Kita bahkan selalu berharap agar Allah berkenan memasukkan kita ke dalam surga-Nya, bersama pula. Saudaraku, begitulah ungkapan hati yang muncul kala kita menjalin pertemanan, persaudaraan, persahabatan, karena Allah swt. Kita telah mengawalinya dengan keimanan. Dan keimanan itu harusnya tetap memelihara kita sampai kehidupan abadi di akhirat….
Saudaraku..,
Semoga kita termasuk orang yang sungguh-sungguh bekerja untuk akhirat. Mungkin kita sudah terlalu hafal, dengan perkataan bahwa kehidupan ini merupakan ladang bagi akhirat. Sudah terlalu sering kita mendengar bahwa hidup ini tak lain merupakan tempat ujian. Tempat menanam, tempat menyernai, tempat bekerja dan berjuang. Ia hanya persinggahan, sama sekali bukan akhir perjalanan.Atau, dalam ungkapan Dr. Abdullah Azzam, tokoh jihad legendaris yang syahid di Afghanistan: "Hidup ini jihad, umat ini tidak akan hidup kecuali dengan jihad…"
Saudaraku..,
Jangan putuskan bait-bait do’a kepada Allah agar tetap mengikat hati kita. Sepanjang kebersamaan ini, mungkin sudah banyak amal yang kita lakukan. Di antara kita, banyak yang sudah mengalami letih, lelah, meneteskan peluh dan bahkan terluka, untuk sebuah kebaikan. Di antara kita juga, tak sedikit yang berlinang air mata untuk sebuah keyakinan. Mungkin kita merasa, telah mengukir dan menghiasi amal kita sebaik-baiknya untuk Allah swt. Ikhlas, bersih, tak ada tendensi, Tapi saudaraku, hati-hatilah …. “Berapa banyak lentera yang rnati tertiup angin, Berapa banyak amal ibadah yang dirusak oleh pelakunya sendiri…” begitu nasehat Muhammad Ahmad Rasyid, dalam Al-Awa‘iq.
