“Istafti qolbak (mintalah fatwa pada hatimu). Kebaikan itu adalah sesuatu yang membuat jiwa dan hatimu tenang. Sedangkan dosa itu adalah sesuatu yang memunculkan keraguan dan kegelisahan dalam dada….” Itu jawaban Rasulullah saw saat ditanya tentang definisi al-birr atau kebaikan oleh seorang sahabat bernama Wabishah bin Ma’bad ra. Rasul mengatakannya sambil meletakkan kelima jarinya di dada Wabishah. Dan Wabishah sangat terkesan dengan nasihat Nabi tersebut.
Secara singkat, Rasul memberi definisi tegas untuk membedakan baik dan buruk. Timbangannya ada pada suara hati, ada pada nurani. Hati memiliki kedudukan sangat strategis sehingga setiap muslim dianjurkan untuk mendengarkan, dan mengikuti suara hatinya dalam menentukan sikap. Hadits itu bahkan ditutup dengan perkataan Rasul, bahwa seseorang harus tetap lebih mengutamakan suara hatinya betapapun banyak orang yang memiliki pandangan berbeda. Parameternya kembali pada sabda Rasul bahwa kesalahan dan dosa itu adalah yang membuat hati gelisah. Sementara kebaikan itu adalah yang membuat hati tenteram dan tenang.
Itu sebabnya setiap orang harus bisa melatih diri peka mendengar suara hati nurani. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk tujuan ini.
baca selengkapnya..