UncategorizedNovember 13, 2006 10:18 pm

Stress adalah respon fisiologis, psikologis, dan perilaku dari seseorang untuk mencari penyesuaian terhadap tekanan yang sifatnya internal maupun eksternal.

Stress adalah bagian dari kehidupan. Apapun yang terjadi pada fisik maupun di sekeliling yang merupakan gelombang-gelombang kehidupan, menuntut kita untuk menyesuaikan diri. Stress merupakan reaksi awal dari penyesuaian diri tersebut. Sedikit stress membuat manusia menjadi waspada dan ini dibutuhkan agar kita mampu memotivasi diri, menyesuaikan diri, dan segera mencari cara untuk mengatasi stress tersebut. Stress jenis ini dinamakan eustress, yaitu stress yang membuat seseorang jadi bertambah kuat dan mampu menyesuaikan diri.

baca selengkapnya..

UncategorizedNovember 12, 2006 9:56 pm

Wafatnya Rasulullah menyisakan begitu banyal hal. Semuanya masih tertegun mengikuti kekosongan itu seakan tak percaya bahwa Sang Pembimbing telah tiada. Dari keterkejutan yang amat sangat, ketiadaan telah menjadi kenyataan yang tak bisa dicegah oleh siapapun. Umar bin Khattab yang kelihatan paling terpukul atas kejadian itu masih sempat berujar keras, “Siapa yang mengatakan bahwa Muhammad telah mati, aku tebas lehernya…" Namun waktu menyodorkan bukti bahawa Rasulullah adalah manusia biasa juga. Sudah saatnya ia menghadap Pencipta yang dikasihinya. Bahkan ketika Rasulullah menyatu dengan bumi, Mekkah masih diselimuti duka.

Tapi itu jelas tak boleh berkepanjangan. Umat ini memerlukan sebuah arahan yang jelas. Bolehlah beberapa saat kaum muslimin merasakan kegetiran, tapi bukankah kehidupan masih terus berjalan? Maka segenap sahabat segera berkumpul. Harus ada yang meneruskan kepemimpinan. Tapi siapa? Masyarakat muslim dalam kebingungan. Rasulullah sampai akhir hayatnya tidak sekalipun menunjuk seseorang untuk menggantikannya. Pun tidak dari golongan Muhajirin dan Anshor. Kedua golongan itu masing-masing berusaha mengajukan tokoh-nya sebagai penerus Rasul.

baca selengkapnya..

Mawas diriNovember 11, 2006 9:01 am

Masalah futur (kemalasan beribadah) dan syirah (ke”rakus”an beribadah) adalah sunnatullah fil hayah (sunnatullah dalam kehidupan). Walaupun tensi semangat ibadah kita naik turun, kita harus tetap komitmen pada petunjuk Rasulullah saw., yaitu berusaha untuk tidak berlebih-lebihan dalam beramal dan jangan sampai turun level kepada hal-hal yang makruh, apalagi haram.

Dalam suatu hadits Rasulullah saw, "Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah swt. daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masing mukmin ada kebaikan. Bersemangatlah pada apa saja yang bermanfaat bagimu, dan meminta tolonglah kepada Allah swt, dan jangan merasa tidak mampu. Jika ada musibah menimpamu janganlah berkata, "Kalau saja saya melakukan perbuatan ini, niscaya saya tidak tertimpa ini," akan tetapi katakanlah, “Qadar,Allah, dan apa yang dikehendaki-Nya niscaya Dia laksanakan,” sebab, “kalau saja-kalau saja" itu membuka pekerjaan hagi syetan. (HR.Muslim).

baca selengkapnya..

Mawas diriNovember 8, 2006 9:46 am

Bisakah Anda jelaskan apa yang jadi impian Anda lima tahun mendatang? Inikah jawaban Anda, “Pokoknya bagaimana nantilah, yang penting kita lakukan saja apa yang ada di depan kita saat ini.” Jika ya, artinya Anda orang tipe bagaimana nanti bukan nanti bagaimana. Lho, apa bedanya?

Perbedaannya tipis sekali. Yang pertama menyiratkan makna bahwa seolah-olah perencanaan hidup sukses tidak sepenting dibanding pencapaian sukses itu sendiri. Sedangkan yang kedua mengatakan, merencanakan hidup sukses merupakan sebagian jalan yang harus ditempuh untuk mencapai sukses hidup.

Dan, setiap orang punya potensi yang sama untuk sukses. Anehnya, mengapa ada yang berhasil dan yang lain gagal? Jawabannya ternyata sederhana: orang itu gagal karena potensinya masih tersembunyi atau belum muncul ke permukaan. Bisa juga karena belum memfungsikannya secara optimal. Jadi, sumber kegagalan orang itu adalah impotensi. Pemberian rangsangan adalah cara jitu agar yang bersangkutan dapat berpikir dan bertindak lebih powerful. 

baca selengkapnya..

Tarbiyah, DakwahNovember 7, 2006 3:42 pm

Sepintas judul di atas tampak kontradiktif. Dakwah dan nyaman. Dapatkah kedua hal itu bertemu pada seseorang? Sejarah dakwah, sejak zaman para nabi, adalah sejarah perjuangan, pengorbanan, tantangan, ujian, kesulitan, dan bentuk-bentuk “penderitaan" lainnya. Tak kurang Rasulullah saw. mendapat berbagai ‘hadiah’ dari orang-orang kafir Quraisy, gara-gara beliau aktif melancarkan dakwah. Dari mulai kata-kata yang menyakitkan dan menghina sampai ancaman pembunuhan. Itu digambarkan oleh Allah swt. dalam ayat-Nya:

"Dan ingatlah ketika orang-orang kafir Quraisy membuat makar terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya." (Al-Anfal 30)

Dakwah di masa kini pun tidak akan terhindar dari hal-hal yang merenggut kenyamanan itu. Sebab adalah memang merupakan sunnatullah bahwa ajakan kebenaran akan mendapatkan perlawanan dari pecinta kebejatan; dan ajaran keadilan akan mendapatkan gempuran dari pembela kezaliman; seruan untuk mentauhidkan Allah akan mendapatkan hadangan dari para agen-agen kemusyrikan. Lebih-lebih bila dakwah yang digulirkan itu adalah dakwah yang bersifat komprehensif, holistik, integeral dan universal. Dakwah  mencita-citakan perombakan total dalam setiap aspek kehidupan.

baca selengkapnya..

Tarbiyah 3:26 am

Sejak awal dakwahnya, Rasulullah saw. selalu berpesan kepada orang-orang yang baru masuk Islam dan menerima berbagai ilmu dari beliau untuk mengajarkan dan menyampaikan ilmu itu kepada orang lain, terutama keluarga. "Sekarang pulanglah kamu ke kampungmu, dan ajarkanlah kepada mereka apa yang telah kamu peroleh dariku," begitulah antara lain pesan yang disampaikan Rasulullah saw. kepada seseorang yang datang dari kampung yang jauh.

Terbentuknya syakhsiyyah islamiyyah (kepribadian Islam) bukanlah tujuan akhir tarbiyah. Menjadi orang yang memiliki syakhsiyyah islamiyyah berarti "hanyalah" menjadi agen rahmat Allah. Masih ada tugas lain bagi seorang muslim, yakni memperbanyak jumlah agen rahmat Allah itu. Dengan semakin banyak agen rahmat Allah maka akan semakin terasa makna firman Allah swt., "Dan tidaklah Kami mengutusmu (wahai Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam." (Qs. Al-Anbiya: 107)

Kepribadian Dakwah

Dengan kata lain, tarbiyah mempunyai peran untuk membentuk pribadi-pribadi yang siap dan mampu untuk mengemban risalah Nabi Muhammad saw. Pribadi-pribadi penyambung lidah dan langkah Rasulullah saw, yang disebut sebagai orang yang memiliki syakhsiyyah da’awiyyah (kepribadian dakwah).

baca selengkapnya..

DakwahNovember 1, 2006 11:07 pm

Alangkah terkejutnya Saad bin Abi Waqash ketika melihat sahabat karibnya, Umar bin Khatab berjalan begitu tergesa-gesa sambil menghunus pedang. Sejumput amarah tampak terbaca pada raut wajah satu dari dua orang yang sangat berpengaruh di Mekkah itu. Segera Saad bin Abi Waqash menghampiri Umar, “Hai, Ibnul Khattab, akan pergi kemanakah engkau?”

Umar mendengus, “Mencari Muhammad. Celaka orang itu. Ia sudah berani mendirikan agama baru dan memutuskan persaudaraan kita, memecah belah persatuan bangsa kita, membodohkan orang-orang pandai kita, mencaki maki agama nenek moyang kita, menghina tuhan-tuhan kita, dan merendahkan kemuliaan kita. Jika aku bertemu dengannya, akan langsung aku bunuh!!!”

baca selengkapnya..

Newer Items »»