Sepintas judul di atas tampak kontradiktif. Dakwah dan nyaman. Dapatkah kedua hal itu bertemu pada seseorang? Sejarah dakwah, sejak zaman para nabi, adalah sejarah perjuangan, pengorbanan, tantangan, ujian, kesulitan, dan bentuk-bentuk “penderitaan" lainnya. Tak kurang Rasulullah saw. mendapat berbagai ‘hadiah’ dari orang-orang kafir Quraisy, gara-gara beliau aktif melancarkan dakwah. Dari mulai kata-kata yang menyakitkan dan menghina sampai ancaman pembunuhan. Itu digambarkan oleh Allah swt. dalam ayat-Nya:
"Dan ingatlah ketika orang-orang kafir Quraisy membuat makar terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya." (Al-Anfal 30)
Dakwah di masa kini pun tidak akan terhindar dari hal-hal yang merenggut kenyamanan itu. Sebab adalah memang merupakan sunnatullah bahwa ajakan kebenaran akan mendapatkan perlawanan dari pecinta kebejatan; dan ajaran keadilan akan mendapatkan gempuran dari pembela kezaliman; seruan untuk mentauhidkan Allah akan mendapatkan hadangan dari para agen-agen kemusyrikan. Lebih-lebih bila dakwah yang digulirkan itu adalah dakwah yang bersifat komprehensif, holistik, integeral dan universal. Dakwah mencita-citakan perombakan total dalam setiap aspek kehidupan.
baca selengkapnya..