Tarbiyah, Dakwah, PotretNovember 30, 2006 5:21 pm

Keimanan sunatullahnya naik dan turun. Begitu juga kesalehan, tak dapat diukur hanya dari sepotong label berjudul ikhwan, akhwat, anak ustadz, atau sekedar ngaji tak ngaji. Keimanan dan kesalehan lebih bermuara pada hati yang bersih, niat yang ikhlas, amal yang banyak manfaat dan perilaku yang mencerminkan akhlaqul karimah. 

Seperti yang terungkap pada tulisan yang lalu, Hubungan Tanpa Status (HTS), sebuah fenomena pergaulan baru sebagai gejala rasionalisasi percintaan ala anak-anak muda yang mengaku aktivis dakwah. Ini jelas merusak kesucian hati. Mereka “punya rasa" satu sama lain, namun sedapat mungkin berupaya tidak melanggar pagar-pagar adab bergaul, yang kadang berhasil, kadang tidak. Mengaku tidak pacaran, tetapi kerap berdekatan. Secara fisik, juga emosi, Dalam rapat organisasi, dalam kegiatan kuliah, hingga aktivitas-aktivitas berlabel dakwah itu sendiri. Jalannya? Ya macam-macam. Pertemuan-pertemuan ‘tak’ disengaja, keperluan-keperluan yang terencana dengan memilih tempat-tempat umum dan terbuka bila ada perlu ‘berduaan’, atau saling telepon, sms, email hingga chatting yang bersambungan untuk bermacam urusan mulai dari yang penting hingga mengarah pada curhat soal pribadi. Itulah rasionalisasi. Makanya, meski tanpa ikrar maupun janji yang pasti, bisa dikatakan setiap orang tahu, siapa ‘punya’ siapa, atau siapa ‘ngetek’ siapa. Ya itulah yang terjadi pada ‘pelaku-pelaku’ HTS yang masih muda dan tengah menerima gempuran syahwat yang menerjang dari segala arah. 

baca selengkapnya..

PotretNovember 27, 2006 3:39 pm

-Kami Tak Ingin Disebut ’Pacaran’-
Saya paham bahwa dalam Islam kita harus menjaga pandangan dan tidak boleh  bersentuhan. Namun, dalam kondisi tertentu hal tersebut sulit dijalankan. Saya pernah memiliki perasaan suka yang berbalas dengan seorang ikhwan. Saya adalah tipe orang yang dengan kondisi perasaan berbalas akan cenderung mengungkapkan perasaan saya agar hati saya lega. Awalnya hubungan kami dimulai dari SMS, yang kemudian berlanjut dengan saling telepon. Pembicaraan pun awalnya tentang organisasi yang sama-sama kami ikuti, kemudian kegiatan sehari-hari. Lama-kelamaan, pembicaraan berkembang ke seputar hal yang sebenarnya tidak penting, yang lebih menjurus kepada pribadi masing-masing. Hubungan kami pun lebih dari teman biasa. Kata-kata yang meluncur dalam pembicaraan kami pun, yah, selayaknya orang pacaran. Namun tetap, kami tidak ingin hal itu disebut pacaran. Ketika menjalani hubungan tersebut, saya merasa tidak nyaman. Saya bagai penjahat di antara orang-orang baik. Saya memang merasakan adanya kesenangan dari hubungan ini. Diperhatikan, diajak bicara, dan sang ikhwan pun memang menyatakan bahwa proses ini adalah ta’aruf versi dia. Lumrah kan? Namun, karena lingkungan kami yang memang dekat dengan nilai agama, kami pun menyembunyikan hubungan kami. Guru ngaji dan teman-teman satu pengajian tidak ada yang mengetahui. Saat rapat organisasi pun, kami berusaha menekan perasaan, sehingga tidak nampak hubungan dekat di antara kami. Jadi, ketika keluarga saya mulai bertanya-tanya mengenai hubungan kami, saya pun bisa dengan mudah menjawab bahwa kami banya teman, karena statusnya memang tidak ada. (Akhwat,21 tahun, mahasiswi di Jakarta) baca selengkapnya..

DakwahNovember 24, 2006 10:51 pm

DI ANTARA prioritas yang sangat dianjurkan di sini,  khususnya dalam  bidang  pemberian  fatwa  dan  da’wah  ialah  prioritas terhadap persoalan yang ringan dan mudah atas  persoalan  yang berat dan sulit. 

Berbagai  nash yang ada di dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw menunjukkan bahwa yang mudah dan  ringan  itu  lebih  dicintai oleh Allah dan rasul-Nya.

Allah SWT berfirman: 

   "… Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…" (al-Baqarah: 185)

   "Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah." (an-Nisa’: 28) 

   "… Allah tidak hendak menyulitkan kamu…"  (al-Maidah: 6)

Rasulullah saw yang mulia bersabda,  

   "Sebaik-baik agamamu ialah yang paling mudah darinya."1

baca selengkapnya..

UncategorizedNovember 23, 2006 11:06 pm

”Sesungguhnya Shafa dan Marwa termasuk syi‘ar-syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan (dengan kerelaan hati sendiri), maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.” (QS 2:158)

Ada beberapa riwayat tentang sebab turunnya ayat ini. Riwayat yang paling dekat dengan logika psikologis yang disimpulkan dari tabi’at tashawwur (konsepsi) yang ditumbuhkan Islam di dalam jiwa generasi Islam pertama dari kalangan Muhajirin dan Anshar.. adalah riwayat yang mengatakan: Bahwa ada sebagian kaum Muslimin yang merasa keberatan melakukan sa’i di Shafa dan Marwa dalam ibadah haji dan umrah, sebab dahulu mereka juga melakukan sa’i antara dua bukit itu di masa Jahiliyah dan di atas kedua bukit itu dahulu ada dua berhala Asaf dan Na’ilah. Kemudian kaum Muslimin tidak suka melakukan sa’i sebagaimana dahulu mereka melakukan sa’i di masa Jahiliyah.

baca selengkapnya..

Mawas diriNovember 22, 2006 10:17 pm

Kegagalan memang resiko dari sebuah usaha dan kekecewaan adalah resiko dari keinginan. Kegagalan dan kekecewaan itu jelas pahit. Malangnya lagi kemungkinan terjadinya kegagalan atau keberhasilan adalah sama yaitu 50 = 50. Jadi setiap kita pasti pernah mengalami kegagalan dan kekecewaan ini dan dimasa yang akan datang kenyataan ini akan berulang lagi. Lalu siapkah kita menghadapinya dan bagaimana caranya agar kegagalan itu tak membawa keperihan yang berkepanjangan?

Sebenarnya ada tiga tipe penyebab kegagalan. Dua dari ketiga tipe ini adalah akibat kesalahan kita sendiri, yaitu kelemahan perencanaan dan rendahnya komitmen pelaksanaan. Kemudian yang ketiga adalah penyebab yang di luar dugaan.

Kelemahan perencanaan adalah penyebab kegagalan yang pertama. Ini terjadi akibat tidak realistisnya keinginan kita dan karena kurangnya penguasaan terhadap masalah yang berkaitan dengan keinginan tersebut. Ketidakrealistisan itu mencakup target yang ingin dicapai dan waktu pencapainnya. Ambil contoh: seorang yang baru saja menyelesaikan pendidikan kesarjanaan, langsung berkeinginan untuk melamar kerja di sebuah perusahaan besar sebagai seorang manajer. Tentu Anda tersenyum membaca keinginan orang tersebut, karena Anda paham bahwa untuk menjadi seorang manajer di perusahaan besar dibutuhkan pengalaman kerja bertahun-tahun dan orang yang baru lulus kuliah akan sangat sulit meraih posisi tersebut. Tapi, sadarkah kita bahwa sekali waktu kita pernah melakukan hal yang sama! “Kita harus optimis.” Kilah Anda.

baca selengkapnya..

UncategorizedNovember 20, 2006 11:51 pm

“Berikan padaku sepuluh orang pemuda, maka aku akan ubah seisi dunia”, begitulah kalimat yang konon pernah terucap dari Bung Karno. Tak salah memang, masa muda adalah masa-masa dimana kondisi tubuh seseorang berada pada puncak kekuatannya. Dan bila kekuatan itu bersanding dengan cita-cita tinggi dan akhlaq yang mulia, maka semua itu akan menjadi modal besar untuk melakukan perubahan.

Sunnatullah menggariskan bahwa kekuatan dikaruniakan Allah kepada manusia melewati tahap-tahap pertumbuhan usianya. Dan pada akhirnya, kekuatan itupun akan dicabut secara bertahap pula mulai ketika manusia melewati usia empat puluh tahun. Allah berfirman. “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban.”(Ar-Rum: 54).

Jadi kekuatan seseorang itu sebenarnya antara dua kelemahannya, sebagaimana  kehidupannya pun diapit oleh dua kematiannya. Dari awal, air mani. kemudian segumpal darah, segumpal daging. kemudian janin di perut. Sesudah dilahirkan ia menjadi anak. Ketika masih di bawah tujuh hari ia disebut sebagai shadigh yang berarti masih lemah. Selanjutnya, ketika sudah menyusu maka ia disebut radhi’. Ketika disapih ia disebut fathim. ketika sudah merangkak dan berguling-guling ia disebut darij. 

baca selengkapnya..

Tarbiyah 3:56 am

Ustadz Muhammad Mahmud Mansur – salah seorang pengelola konsultasi dakwah di islam-Online mengatakan: “Untuk membangun motivasi pada diri seseorang (mutarobbi) agar memiliki kesadaran secara mandiri dalam melakukan berbagai pekerjaan, hendaklah dilakukan langkah-langkah berikut:

1. Jalinlah hubungan yang baik dengan orang yang hendak dibangun motivasinya dengan cara menanyakan keadaannya, ikut serta dengannya dalam kegembiraan dan kesedihannya, memberikan khidmah (pelayanan) kepadanya, dan semacamnya.

2. Jadikanlah diri anda qudwah shalihah (teladan yang baik) baginya. Janganlah berbuat sesuatu kepadanya dan juga kepada selainnya kecuali perbuatan-perbuatan yang baik. Yang demikian ini dilakukan dalam rangka meraih tsiqoh (kepercayaan) dari nya -tentunya setelah didahului dengan niat yang ikhlash kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Jika rasa percaya (trust) darinya telah diraih, maka dengan mudah dia akan menerima saran, bimbingan dan arahan, dan dengan penuh semangat ia akan segera melaksanakan dan menerapkannya.

baca selengkapnya..

Mawas diriNovember 17, 2006 4:48 pm

"APA sih potensi saya?” Pasti pertanyaan ini pernah kita lontarkan. Tapi tahukah Anda ada kalanya pertanyaan itu menyesatkan diri Anda sendiri?

Pertanyaan semacam itu biasanya menghantui para remaja. Maklum, itu usia pencarian identitas. Tapi, tak jarang lho ditanyakan juga oleh orang dewasa. Itu bukan berarti mereka kehilangan identitas, namun biasanya terjadi saat harus memilih ulang pekerjaan yang akan ia geluti. Misalnya, pada sarjana yang baru lulus, pekerja yang baru kena PHK, atau pada orang yang selalu gagal berwirausaha.

Situasi seperti itu kerap memaksa orang untuk menilai ulang dirinya. Jadi, pertanyaan seperti di atas sah-sah saja dilontarkan. Harapannya tentu saja kita mendapat jawaban yang tepat. Dengan begitu keputusan kita dalam memilih dunia kerja yang akan kita geluti bisa pas.

baca selengkapnya..

Uncategorized 1:20 am

Betapa mahalnya harga ketenangan jiwa. Banyak yang mengorbankan apa saja untuk meraihnya. Namun, tak sedikit yang salah arah. Lihat saja orang rela menghabiskan berjam-jam nongkrong di tempat hiburan sembari minum minuman keras. Tak sedikit yang menghabiskan uang jutaan untuk mengkonsumsi pil-pil penenang. Sementara, ketenangan yang diproleh cuma sesaat. Itu pun sifatnya semu. Alih-alih ingin meraih ketenangan jiwa yang ada malah kehancuran.

Berbagai persoalan sehari-hari bisa menjadi pemicu stress. Apalagi di kehidupan yang serba cepat seperti sekarang ini. Banyak hal yang membuat seseorang merasa tertekan, kecewa dan tegang. Masalahnya tinggal pada intensitas. Bila stress itu terjadi terus menerus akan menjadi distress yang berujung pada depresi. Pada tingkat ini penderita kerap melakukan tindakan di luar akal sehat.

Faktanya, tak ada seorang pun terbebas dari persoalan hidup. Itulah sunatullah yang berlaku di dunia. Kekayaan, pangkat dan kedudukan takkan mampu menghalanginya. 

baca selengkapnya..

UncategorizedNovember 15, 2006 10:12 pm

“Sungguh hati ini berduka dan air mataku mengalir karena kepergianmu. Akan tetapi aku tidak akan mengucapkan selain apa yang Allah ridhoi.” Itulah kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Rasulullah saw. saat Ibrahim, puteranva,meninggal dunia.

Di lain kesempatan, Rasulullah saw. melihat seorang ibu yang sedang meraung-raung menangisi kematian anaknya. Rasulullah saw. menasihatinya, “Bersabarlah dan carilah ridho Allah." Dengan nada marah – karena tidak menyadari bahwa yang memberinya nasihat adalah Rasulullah saw,- si wanita itu menyahut, “Kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan." Setelah sadar siapa sesungguhnya orang yang menasihatinya itu, segera ia menghampiri Rasulullah saw. seraya mengatakan, “Saya tadi tidak tahu bahwa yang menasihati saya itu adalah engkau.” Jawaban Rasulullah saw. adalah, “Sabar itu justru pada benturan pertama."

baca selengkapnya..

«« Older Items •