Keimanan sunatullahnya naik dan turun. Begitu juga kesalehan, tak dapat diukur hanya dari sepotong label berjudul ikhwan, akhwat, anak ustadz, atau sekedar ngaji tak ngaji. Keimanan dan kesalehan lebih bermuara pada hati yang bersih, niat yang ikhlas, amal yang banyak manfaat dan perilaku yang mencerminkan akhlaqul karimah.
Seperti yang terungkap pada tulisan yang lalu, Hubungan Tanpa Status (HTS), sebuah fenomena pergaulan baru sebagai gejala rasionalisasi percintaan ala anak-anak muda yang mengaku aktivis dakwah. Ini jelas merusak kesucian hati. Mereka “punya rasa" satu sama lain, namun sedapat mungkin berupaya tidak melanggar pagar-pagar adab bergaul, yang kadang berhasil, kadang tidak. Mengaku tidak pacaran, tetapi kerap berdekatan. Secara fisik, juga emosi, Dalam rapat organisasi, dalam kegiatan kuliah, hingga aktivitas-aktivitas berlabel dakwah itu sendiri. Jalannya? Ya macam-macam. Pertemuan-pertemuan ‘tak’ disengaja, keperluan-keperluan yang terencana dengan memilih tempat-tempat umum dan terbuka bila ada perlu ‘berduaan’, atau saling telepon, sms, email hingga chatting yang bersambungan untuk bermacam urusan mulai dari yang penting hingga mengarah pada curhat soal pribadi. Itulah rasionalisasi. Makanya, meski tanpa ikrar maupun janji yang pasti, bisa dikatakan setiap orang tahu, siapa ‘punya’ siapa, atau siapa ‘ngetek’ siapa. Ya itulah yang terjadi pada ‘pelaku-pelaku’ HTS yang masih muda dan tengah menerima gempuran syahwat yang menerjang dari segala arah.
baca selengkapnya..