Mawas diriOctober 12, 2006 10:18 pm

Perilaku ‘bercermin dan menjadi cermin’ memiliki pengaruh yang besar dalam pembentukan kepribadian seorang mukmin. Saat ‘bercermin’ ia menerima pelajaran berharga dari saudaranya, dan kala ‘menjadi cermin’ sesungguhnya ia telah berbuat baik pada sudaranya. Jika perilaku ini dibudayakan dalam kehidupan sehari-hari, niscaya akan memberikan kontribusi besar bagi pembentukan karakter umat pilihan.

Namun sayang, adakalanya kita tak suka bercermin. Kita menjadi orang yang tidak peduli dengan penampilan diri. Kalau kebetulan menemukan cermin yang memantulkan bayangan dirinya sendiri, kita tak ambil pusing dan tak mau bereaksi. Kalau pun ada, cenderung naïf dan apologis. “Ah cerminnya yang jelek dan kotor, ngga bisa memperlihatkan diri kita yang sebenarnya”.

baca selengkapnya..

Mawas diriOctober 10, 2006 10:11 pm

Apakah anda mencintai saudara anda? Jika ya, maka ukurannya adalah seberapa banyak nasehat ikhlas dan jujur telah anda berikan kepadanya. Sebab menyayangi orang lain berarti menerima tanggung jawab untuk menunjukkan kesalahan mereka. Jika tidak, kecintaan kita hanya di mulut saja, bukan perasaan yang hangat dan sepenuh hati. Benarkah kita mencintai saudara kita jika kita membiarkannya tampil di keramaian dengan wajah yang coreng moreng atau melangkah menuju batu yang akan menggelincirkannya sementara ia tidak menyadarinya. Dalam sebuah hadits dikatakan, ”Tidak beriman seseorang sampai ia menyayangi saudaranya sebagaimana ia menyayangi dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).  baca selengkapnya..

Potret 12:11 am

Saat-saat menjelang berbuka puasa di bulan ramadhan adalah saat-saat yang paling menyenangkan. Apalagi bila bisa dilakukan bersama-sama teman-teman dekat. Alhamdulillah, pada hari Jum’at tgl 6 Oktober 2006 yang lalu, saya mendapat undangan  mengikuti acara Grand Ifthor Ramadhan 2006 di Departemen Fisika, FMIPA-UI. Acara ini dihadiri oleh kurang lebih 600 orang dari kalangan mahasiswa dan staf pengajar di lingkungan Departemen Fisika. Subhanallah, saya bersyukur bisa hadir dan bisa menikmati siraman ruhani yang sangat menyentuh dan menggugah semangat motivasi untuk beramal sholeh.  Sesuatu yang sangat mahal untuk didapat selama tinggal di Fukuoka, Jepang.

baca selengkapnya..

UncategorizedOctober 8, 2006 3:56 pm

Dari Salmân al-Fârisî ra. ia berkata bahwa Rasulullah SAW di akhir bulan Sya`ban berkhutbah kepada kami, beliau bersabda, "Wahai manusia, telah datang kepada kalian bulan yang agung dan penuh berkah. Di dalamnya terdapat satu malam yang nilai (ibadah) di dalamnya lebih baik dari 1. 000 bulan. Allah menjadikan puasa pada siang harinya sebagai sebuah kewajiban, dan menghidupkan malamnya sebagai perbuatan sunnah (tathawwu`). Barangsiapa (pada bulan itu) mendekatkan diri (kepada Allah) dengan satu kebaikan, ia seolah-olah mengerjakan satu ibadah wajib pada bulan yang lain. Barangsiapa yang mengerjakan satu perbuatan wajib, ia seolah-olah mengerjakan 70 kebaikan di bulan yang lain. Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan kesabaran itu balasannya surga. Ia (juga) bulan tolong-menolong, di mana di dalamnya rezki seorang Mukmin bertambah (ditambah). Barangsiapa (pada bulan itu) memberikan bukaan (ifthâr) kepada seorang yang berpuasa, maka itu menjadi maghfirah (pengampunan) atas dosa-dosanya, penyelamatnya dari api neraka dan ia memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa (itu) sedikitpun." Kemudian para Sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, tidak semua dari kita memiliki makanan untuk diberikan sebagai bukaan orang yang berpuasa." Rasulullah SAW berkata, " Allah memberikan pahala tersebut kepada orang yang memberikan bukaan dari sebutir kurma, atau satu teguk air atau sedikit susu. Ramadhan adalah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya maghfirah (ampunan) dan akhirnya pembebasan dari api neraka." (HR Baihaqî)

baca selengkapnya..

UncategorizedOctober 7, 2006 10:53 pm

Saat ini kita sedang berada di bulan suci Ramadhan. Kalau kita kembali mengingat tahun lalu pada saat yang sama, Ramadhan juga hadir dan kita pun berpuasa. Lalu sekarang kita sedang menanti Ramadhan berikutnya. Ramadhan selalu datang silih berganti setiap tahun. Kita mesti merenungkan waktu yang terus berlalu. Bila kita berusia 20 tahun, 30 tahun, atau lebih tua lagi, maka perhatikanlah waktu yang berlalu menghabiskan sisa umur kita. Suatu saat, bila Allah Swt mengizinkan, kita akan mencapai usia 60 tahun. Pada saat itupun mungkin kita sedang menanti Ramadhan sebagaimana orang tua kita sekarang. Kita harus memanfaatkan waktu yang Allah berikan sepanjang bulan suci Ramadhan. Hari ini, saya tidak ingin membahas tentang tata cara berpuasa dan juga tidak membahas tentang apa-apa yang biasanya kita lakukan di bulan Ramadhan. Karena insya Allah kita semua sudah memahaminya sebagaimana yang kita lakukan selama ini. Sekarang, saya ingin mengingatkan diri saya sendiri dan para hadirin sekalian bahwa kita perlu meraih peluang emas selama Ramadhan untuk beribadah sebaik mungkin. Kalau kita mampu meraih peluang tersebut, kita akan mendapatkan banyak pahala. Namun bila kita gagal, kita akan kehilangan banyak hal. 

baca selengkapnya..

Mawas diriOctober 3, 2006 10:32 pm

Suatu ketika, mungkin kita pernah berfikir betapa berat dan kerasnya perjalanan hidup ini. Saat hati kita tak mampu lagi menahan beban masalah. Saat kita merasa lunglai, lemah dan berat melangkahkan kaki, merasa tak kuat dan bingung menghadapi berbagai suasana hidup yang sulit dan berat. Ketika kita tak lagi merasa mampu berdiri menopang beban berat yang harus dipikul.

Tidak, itu bukan tanda-tanda kelemahan yang patut disesali. Sebab manusia memang diciptakan dalam keadaan serba lemah. Tapi Allah berjanji tidak akan menimpakan beban masalah kepada seseorang, di atas batas kemampuan orang tersebut untuk memikulnya.

baca selengkapnya..

Mawas diriOctober 2, 2006 2:35 pm

Pada tulisan sebelumnya, kita telah membahas sejumlah momentum yang dapat memicu upaya memperbaiki diri. Akan tetapi momentum-momentum tersebut sebenarnya hanya alat bantu. Bila digunakan dengan baik, insya Allah akan memberi hasil yang maksimal. Tetapi yang perlu disadari, bagaimana setiap muslim terus menerus mengenali tabiat dirinya sendiri. Kapan saat-saat ia mulai terasa akan bergeser dari jalan kebaikan ke jalan keburukan. Tabiat dan karakter orang berbeda-beda. Harus ada kesadaran yang hidup selalu. Karena syetan juga tidak akan pernah diam dari menggoda manusia. Allah Swt berfirman, ”Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was oleh syetan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahan-nya.”(QS. Al-A’raf:201).

Selain itu, setiap muslim juga harus mengenali dengan cara apa biasanya dia bisa kembali ke kondisi yang normal. Momentum-momentum tersebut bisa dipilih sesuai tabiat diri masing-masing, tapi sesudah itu perlu ditindaklanjuti dengan ibadah tertentu. Karena ibadah formal –selain do’a—tetap menjadi media kontak langsung seorang hamba dengan Rabb-nya.

baca selengkapnya..

Mawas diriOctober 1, 2006 11:03 pm

Proses perbaikan diri, menggapai ridha dan ampunan ilahi, kadang-kadang dipengaruhi banyak hal. Tidak saja faktor internal orangnya, tapi juga lingkungan yang mengitarinya. Walaupun variabel diluar diri manusia sebenarnya lebih bersifat pendukung semata. Selebihnya banyak unsur dikembalikan kepada diri orang tersebut.

Namun begitu, menganggap remeh faktor lingkungan juga kurang tepat. Bila proses perbaikan diri selalu terkalahkan oleh lingkungan, itu memang ironis. Tapi kalau lingkungan bisa direkayasa untuk menyukseskan proses perbaikan diri apa salahnya. Lingkungan –baik waktu, tempat, maupun peristiwa— sebenarnya bisa menjadi momentum perbaikan diri yang luar biasa. Karenanya, tidak harus seorang muslim membuang muka dengan lingkungan. Lebih baik menjadikannya sebagai momentum perbaikan diri. Berikut ini beberapa contoh momentum penting yang sangat strategis bagi upaya perbaikan diri. Setiap muslim bisa memanfaatkannya sesuai kapasitas masing-masing: 

  1. Tertimpa musibah atau ujian
  2. Bertafakkur alam
  3. Pergantian waktu dan peristiwa
  4. Melakukan muhasabah dan kontemplasi
baca selengkapnya..

Newer Items »»