Perilaku ‘bercermin dan menjadi cermin’ memiliki pengaruh yang besar dalam pembentukan kepribadian seorang mukmin. Saat ‘bercermin’ ia menerima pelajaran berharga dari saudaranya, dan kala ‘menjadi cermin’ sesungguhnya ia telah berbuat baik pada sudaranya. Jika perilaku ini dibudayakan dalam kehidupan sehari-hari, niscaya akan memberikan kontribusi besar bagi pembentukan karakter umat pilihan.

Namun sayang, adakalanya kita tak suka bercermin. Kita menjadi orang yang tidak peduli dengan penampilan diri. Kalau kebetulan menemukan cermin yang memantulkan bayangan dirinya sendiri, kita tak ambil pusing dan tak mau bereaksi. Kalau pun ada, cenderung naïf dan apologis. “Ah cerminnya yang jelek dan kotor, ngga bisa memperlihatkan diri kita yang sebenarnya”.

baca selengkapnya..