Pada tulisan sebelumnya, kita telah membahas sejumlah momentum yang dapat memicu upaya memperbaiki diri. Akan tetapi momentum-momentum tersebut sebenarnya hanya alat bantu. Bila digunakan dengan baik, insya Allah akan memberi hasil yang maksimal. Tetapi yang perlu disadari, bagaimana setiap muslim terus menerus mengenali tabiat dirinya sendiri. Kapan saat-saat ia mulai terasa akan bergeser dari jalan kebaikan ke jalan keburukan. Tabiat dan karakter orang berbeda-beda. Harus ada kesadaran yang hidup selalu. Karena syetan juga tidak akan pernah diam dari menggoda manusia. Allah Swt berfirman, ”Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was oleh syetan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahan-nya.”(QS. Al-A’raf:201).

Selain itu, setiap muslim juga harus mengenali dengan cara apa biasanya dia bisa kembali ke kondisi yang normal. Momentum-momentum tersebut bisa dipilih sesuai tabiat diri masing-masing, tapi sesudah itu perlu ditindaklanjuti dengan ibadah tertentu. Karena ibadah formal –selain do’a—tetap menjadi media kontak langsung seorang hamba dengan Rabb-nya.

baca selengkapnya..