Mawas diriOctober 28, 2006 9:05 pm

“Sesungguhnya hari ini adalah satu hari di antara hari-hari Allah, tidak pantas diisi dengan kebanggan dan keangkuhan. Ikhlaskanlah jihadmu dan tujulah Allah dengan amalmu. Karena hari ini menentukan hari-hari yang akan datang.” Demikian kata-kata Khalid bin Walid di tengah-tengah berkecamuknya perang Yarmuk.

Kata ikhlas sudah begitu sering kita dengar dalam berbagai kesempatan. Bagi kader dakwah, semestinya ikhlas tidak boleh lagi menjadi sekadar retorika belaka, melainkan ia harus hadir dan ada dalam diri kita, menyatu dalam pikiran, hati, bersenyawa dengan jiwa, seirama dengan detak jantung dan tarikan nafas. Bersamanya kita memulai hari-hari, dengannya kita bekerja, membangun ukhuwah dan menapaki jalan dakwah ini.

Sungguh perlu kita sadari bahwa hati seorang hamba senantiasa dikepung dari berbagai penjuru oleh hawa nafsu, kepentingan sesaat, ambisi duniawi, rasa malas, hasrat kemaksiatan dan gejolak ingin dipuji serta disanjung. Kesemuanya ini mengintai kondisi lemah hati kita. Dan ketika kondisi lemah dan lalai mereka dapatkan, dengan segera mereka menembus hati kita dan menguasainya. Naudzubillah.. 

baca selengkapnya..

UncategorizedOctober 22, 2006 10:29 pm

Qais sebenarnya tidak harus bunuh diri. Hidup tetap bisa dilanjutkan tanpa Layla. Tapi itulah masalahnya. Ia tak sanggup. Ia menyerah. Hidup tak lagi berarti baginya tanpa Layla. Ia memang tidak minum racun. Atau gantung diri. Atau memutus urat nadinya. Tapi ia membiarkan dirinya tenggelam dalam duka sampai nafas terakhir. Tidak bunuh diri. Tapi jalannya seperti itu.

Orang-orang romantis selalu begitu: rapuh. Bukan karena romantis mengharuskan mereka rapuh. Tapi di dalam jiwa mereka ada bias besar. Mereka punya jiwa yang halus. Tetapi kehalusan itu berbaur dengan kelemahan. Dan itu bukan kombinasi yang bagus. Sebab batasnya jadi kabur: kehalusan dan kelemahan jadi tampak sama. Qais lelaki yang halus. Sekaligus lemah.

baca selengkapnya..

Uncategorized 10:47 am

Yang biasa kita dengar dimana-mana pada bulan Ramadhan, salah satunya adalah berita gembira dari Rasulullah Saw. bahwa di bulan Ramadhan ini dijanjikan oleh Allah, maghfiroh (ampunan), wa rahmah (kasih sayang), wa itkun minan nar (dijauhkan dari neraka). Ketiga-tiganya itu adalah pahala atau medali, yang akan diberikan Allah Swt, kepada seorang muslim yang memenangkan Ramadhan karena ia mengisinya dengan berbagai amaliyah Ramadhan.

Untuk bisa meraih medali itu, kita mesti merealisasi makna dari Ramadhan itu sendiri, yaitu imsak (kemampuan menahan diri). Kemampuan mengendalikan diri adalah hal yang paling mendasar yang harus dicapai di dalam Ramadhan dan terus dibawa di luar Ramadhan. Kita mampu menahan nafsu makan disiang hari, padahal makanan yang halal dan thoyib tersedia di meja makan dan itu milik kita. Kita dilatih untuk menjaga pandangan, menahan omongan dari bicara yang tidak baik, mengontrol diri dari perilaku dan perangangai yang buruk. Bahkan dalam hadits, kita diperintahkan untuk meninggalkan perbuatan yang sia-sia. Artinya, dengan semangat imsak, sesuatu yang halal saja bisa kita tahan, apalagi sesuatu yang haram. Dan kalau kemampuan menahan diri ini dibawa terus hingga di luar Ramadhan, insya Allah banyak keberkahan yang bisa kita raih.

baca selengkapnya..

Uncategorized 12:09 am

Padi. Ia tumbuh hening ditengah sawah. Tatap ia lamat-lamat. Disana, dalam heningnya, ada banyak kebijakan yang menyiur melambai. Sebelum berbuah, ia berdiri tegap. Mendongak ke atas. Begitu berbuah, ia merunduk ke bawah. Begitu meninggi, ia merendah. 

Mungkin itu pelajaran kekuasaan yang paling berat. Sekilas pelajaran ini mengandung antagonisme. Sang raja harus belajar peran-peran antagonis. Tapi tidak antagonis pada dirinya sendiri. Merendah berarti mengerti asal usul diri. Merendah berarti memahami bedanya manusia dengan Tuhan. Merendah berarti mengakui kesetaraan manusia. Merendah berarti percaya diri.

baca selengkapnya..

UncategorizedOctober 20, 2006 3:23 pm

Kita memang tidak punya pilihan di depan takdir Allah Swt seperti ini: bahwa kita dilahirkan di atas tanah apa, pada zaman apa, dari etnis apa, pada situasi seperti apa. Itulah nasib yang tidak mungkin diubah. Kumulasi dari itu semua yang selanjutnya kita sebut lingkungan. Para ahli pendidikan kemudian memberikan porsi yang sangat besar terhadap lingkungan sebagai faktor determinan yang mempengaruhi dan mewarnai pertumbuhan seseorang.

Tapi sejarah memberikan beberapa kesaksian yang mungkin bisa disebut pengecualian. Dan para pahlawan memang merupakan pengecualian. Mereka pada mulanya juga lahir dari kumulasi lingkungan yang sama, tapi pada akhirnya muncul dengan warna yang sama sekali berbeda dengan  generasi angkatannya yang lahir dari lingkungan tersebut. Jadi input lingkungannya sama, tapi output efeknya berbeda.

baca selengkapnya..

UncategorizedOctober 19, 2006 11:47 pm

Seekor anjing tampak menatapi tingkah seekor kuda yang berlari-lari tak jauh dari hadapannya. Sang kuda begitu ceria. Sesekali, kuda menggoyangkan kepalanya seperti sedang berdendang riang. Anjing pun rnengubah wajah cemberutnya dengan bersuara ke arah kuda.

”Kamu begitu behagia, kuda?" tanya sang anjing menampakkan wajah penasaran. Padahal, di masa kering seperti ini, sebagian besar penghuni padang rumput terjebak kehidupan yang begitu sulit.

Ya, aku bahagia!” ucap kuda sambil terus berlari kecil seraya tetap mengungkapkan keceriaannya.

baca selengkapnya..

Pendidikan anak, Mawas diri 12:01 am

Dua kelompok anak SD diminta untuk membaca suatu tulisan. Satu kelompok diberitahu bahwa mereka akan diuji mengenai bacaan mereka; kelompok lain tidak diberitahu mengenai ujian tersebut. Saat kedua kelompok itu diuji, kelompok yang diberitahu akan ada ujian menunjukkan ingatan mekanik yang lebih baik, tapi kelompok yang tidak diberitahu akan ada ujian memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai konsep yang terkandung didalam bacaan. Yang menarik, satu minggu setelah ujian, para peneliti kembali lagi untuk menguji masing-masing kelompok tadi. Seperti yang mereka kira, tidak satupun dari anak-anak itu mengingat bacaan sebanyak ujian yang pertama. Meskipun begitu, yang mengherankan adalah, anak-anak yang pada awalnya diberitahu akan ada ujian sudah banyak yang lupa daripada anak-anak yang hanya membaca bacaan tanpa diminta ikut ujian. baca selengkapnya..

Pendidikan anakOctober 14, 2006 4:50 pm

Jika anak-anak yang dididik tanpa sekolah tidak terikat untuk mengikuti kurikulum tertentu dan tidak perlu mengerjakan tugas pelajaran formal, lalu bagaimana mereka menghabiskan waktu mereka? Jika orang tua tidak mengawasi anak-anak yang belum mengerjakan pekerjaan rumah serta tidak mengevaluasi apa saja yang telah mereka pelajari, apa yang terjadi? Seperti apa rumah yang memberikan pendidikan tanpa sekolah?

Pendidikan tanpa sekolah relatif jauh lebih mudah dari pada pendekatan belajar yang lebih terstruktur, karena ada sedikit tugas formal yang harus dikerjakan. Tidak ada jadwal pelajaran, tidak ada tugas yang perlu diberikan, tidak ada tes tertulis untuk dinilai. Namun pendidikan tanpa sekolah juga lebih sulit dalam hal bahwa setiap orang harus selalu siap untuk belajar. Apa saja, kapan saja dan dimana saja bisa diubah menjadi kegiatan belajar dan mendidik. Jadi pendidikan tanpa sekolah jauh dari anggapan ’tidak melakukan apa-apa’. Bahkan para orang tua yang memilih cara pendidikan tanpa sekolah akan sangat terlibat dalam setiap jenak proses pembelajaran anak-anak mereka. Tetapi bedanya, proses itu bukan proses yang dipaksakan kepada anak-anak mereka, melainkan merupakan proses yang sangat kolaboratif dengan semangat kerjasama. Bukan pengawasan yang bersifat memaksa dan royal dalam memberi hukuman, bentakan, cubitan, sabetan rotan, jepretan karet bahkan tamparan sebagai bentuk kemarahan orang tua yang melihat anaknya tak mau mengerjakan PR atau tak mampu mengerjakannya.

baca selengkapnya..

Pendidikan anak 9:40 am

Di dalam buku Frames of Mind yang terbit tahun 1983, seorang psikolog bernama Howard Gardner menyimpulkan hasil risetnya yang mengatakan bahwa sedikitnya ada tujuh jenis kecerdasan:

  1. Kecerdasan linguistik, berkaitan dengan kemampuan bahasa dan penggunaannya. Orang-orang yang berbakat dalam bidang ini senang bermain-main dengan bahasa, gemar membaca dan menulis, tertarik dengan suara, arti dan narasi. Mereka seringkali pengeja yang baik dan mudah mengingat tanggal, tempat dan nama.
  2. baca selengkapnya..

Mawas diriOctober 13, 2006 5:14 pm

Ada beberapa prinsip yang perlu dipahami ketika kita berada dalam posisi sebagai pemberi nasehat. Pertama, hal penting yang perlu diperhatikan dalam menasehati saudara kita adalah masalah niat. Sampaikanlah nasehat semata-mata karena Allah, bukan karena tujuan keduniawian atau nafsu dan hasrat pribadi. Dengan begitu, kita tidak perlu berkecil hati bila nasehat kita tidak diterima dengan baik. Anggaplah respon negatif tersebut sebagai ujian kesabaran. Pengalaman mengajarkan, orang-orang yang kecewa –sekalipun karena nasehat yang terbuka dan korektif- pada waktunya akan menghargai dan berterimakasih dalam hati mereka. Mengapa berkecil hati, bukankah nasehat itu ibarat pohon kebaikan yang kita tanam dan kita tidak tahu kapan akan tumbuh dan berbuah (QS. Al-A’raf:164). baca selengkapnya..

«« Older Items •