UncategorizedJuly 24, 2006 10:03 am

Ketika engkau terjamah tangan-tangan srigala,
Ketika timah panas menghempaskan jiwa,
Kau coba menghalau duka,
Dengan asa tersisa,
Hanya air mata iringi do’a.

Palestina terluka,
Al-Aqso-pun tlah ternista
Tumpah darah, bakar amarah
Hancurkan makar durjana
Janji Allah tlah pasti
Terlaknat kaum yahudi
Kota suci para nabi
Medan jihad abadi
Batu-batu intifadhah
Menjadi saksi

Hapuslah air matamu
Duhai al-aqso
Kami tak akan pernah rela engkau ternoda
Kami pasti kan membela
kau kan bebas merdeka
Gema takbir intifadhah
terus mengangkasa

syair: Fathurrahman - irama 3/4
Kenangan Latsar thn 2003 di Gn. Bunder, Kab. Bogor

Dakwah 1:41 am

tulisan (alm) KH. Rahmat Abdullah 

Suatu malam menjelang fajar, dalam inspeksi rutinnya, Khalifah II Umar bin Khattab mendengar dialog menarik antara seorang ibu dengan gadis kencurnya.

"Cepatlah bangun, perah susu kambing kita dan campurkan dengan air sebelum orang bangun dan melihat kerja kita."
"Bu, saya tak berani, ada yang selalu melihat gerak-gerik kita."
"Siapa sih sepagi ini mengintai kita?" sang ibu balik bertanya.
"Bu, Allah tak pernah lepas memperhatikan kita."

Khalifah segera kembali dengan satu tekad yang esok dilaksanakannya, melamar sang gadis untuk puteranya, ‘Ashim bin Umar. Kelak dari pernikahan ini lahir seorang cucu : Umar bin Abdul Aziz, khalifah kelima.
baca selengkapnya..