Pernahkah anda mengalami suatu saat ketika anda membuka mushaf dan anda mulai membaca al-qur’an kemudian anak-anak anda datang mendekati anda sambil membawa buku Iqra’nya lalu mereka melakukan hal yang sama seperti apa yang tengah anda lakukan?, Pernahkah anda mendapatkan Mutarabbi anda mengerjakan shaum sunnah padahal anda secara eksplisit tidah pernah menyuruhnya atau menginstruksikannya ?, hal tersebut dilakukan oleh Mutarabbi anda hanya karena ia mendapatkan anda juga melakukan shaum sunnah pada hari-hari sebelumnya. Pernahkah anda mengalami khadimat anda perlahan-lahan menyesuaikan diri dan penampilannya di tengah-tengah keluarga anda, mulai terbiasa mengenakan gaun panjang, memakai kerudung walau pada awalnya cuma nempel di atas kepala, tapi toh lama kelamaan ia menjadi terbiasa berjilbab baik ketika ia bekerja di dalam rumah apalagi di luar rumah?, padahal isteri anda belum pernah berkata kepadanya bahwa memakai jilbab itu wajib, apalagi memperdengarkannya ayat al-Qur’an yang berkenaan dengan kewajiban menutup aurat baik dalam surat An-nur maupun Al-ahzab.
Itulah buah dari keteladanan, ketealadanan adalah cara berda’wah yang paling hemat karena tidak menguras energi dengan mengobral kata-kata, bahkan bahasa keteladanaan jauh lebih fasih dari bahasa perintah dan larangan, sebagaimaana adagium mengatakan : “Lisaanul hal afshohu min lisaanil maqaal”, bahasa kerja lebih fasih dari bahasa kata-kata. Dalam ungkapan lain keteladanan ibarat tonggak, dimana bayangan akan mengikuti secara alamiah sesuai dengan keadaan tonggak tersebut, lurusnya, bengkoknya, miringnya, tegaknya dan lain sebagainya, sebagaimana pepatah mengataakan : “Kaifa yastaqqimudzdzhillu wal ‘uudu a’waj”, bagaimana bayangan akan lurus bila tonggaknya bengkok.
Oleh karena itu penting bagi kita para Murabiyyin untuk berusaha semaksimal mungkin menjadi figur murabbi teladan, agar keteladanaan kita memberikan keberkahan bagi perkembangan da’wah dan peningkatan kualitas maupun kuantitas para Mutarabbi yang kita bina. Untuk memudahkan kita mencontoh hal-hal yang baik yang sepatutnya disikapi oleh seoarang figur Murabbi, maka melalui makalah ini kita akan berinteraksi dengan beberapa tokoh yang tercatat sebagai figur murabbi teladan dalam sejarah, dengan menampilkan “Suratun Hayawiyyah” atau gambaran kehidupan mereka khususnya dalam melakukan aktifitas pentarbiyahan.
