Tarbiyah, AkhlaqApril 15, 2006 11:52 pm

PRIORITAS AMALAN HATI

Imam Ibnu Al Qayyim mengklasifikasikan ibadah dalam 3 (tiga) bagian, yaitu :

1. Amalan Hati, seperti : Tawakkal kepada Allah SWT., mahabatullah, tawadhu`, khusyû`, niat ikhlash, raja` dan lain sebagainya.

2. Amalan Lisan, seperti : Mengucapkan dua kalimat syahadatain, tasbîh, istighfar, bersumpah atas nama Allah SWT. , berdo`a dan lain sebagainya.

3. Amalan Anggota Badan, seperti : Shalat, puasa, jihad, menuntut ilmu, berdagang, berladang, dan lain sebagainya.

Amalan yang paling diprioritaskan atau paling afdhal di antara 3 (tiga) jenis amalan tersebut adalah amalan hati yang dilakukan oleh hati manusia beriman. Ada beberapa alasan asasi (dasar) yang menjadi dasar dari prioritas ini:

1. Amalan hati merupakan penentu sah atau tidaknya suatu amalan

Sesungguhnya amalan lahiriyah yang dilakukan oleh lisan dan anggota tubuh lainnya tidak akan diterima oleh Allah SWT., selama tidak disertai dengan amalan hati (niat) yang merupakan dasar bagi diterimanya suatu amal lahiriah. Sabda Rasûlullah SAW:

"Sesungguhnya seluruh amalan harus disertai dengan niat." (Muttafaqun `Alaihi dari Umar bin al-Khaththab ra.)

Karena itu suatu amal atau pekerjaan atau aktifitas (apapun bentuknya) sangat bergantung dan terkait dengan niatnya. Suatu amal tanpa disertai dengan suatu niat yang benar, seperti halnya badan tanpa ruh atau seperti pohon tanpa buah, tidak berfungsi, dan tidak menguntungkan sedikitpun.

Hatilah yang dinilai oleh Allah SWT, karena bila bersih niatnya, maka Allah SWT. akan menerima amalannya dan apabila kotor hatinya (niatnya tidak benar atau berbau syirik atau tidak ikhlash), maka dengan sendirinya amal tersebut akan ditolak, sabda Rasûlullah SAW:

"Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat kepada bentuk tubuh dan rupamu, tetapi Dia melihat kepada hatimu sambil Beliau mengarahkan jari-jariNya ke dadanya" (H.R. Muslim dari Abû Hurairah ra ).

2. Hati merupakan cerminan hakikat pemiliknya

Dalam shahîh Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Nabî SAW bersabda:

"Ketahuilah sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal darah, apabila dia baik maka baiklah seluruh tubuhnya, dan apabila dia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu ialah hati." (Muttafaqun `Alaihi, dari Nu`man bin Basyîr).

Untuk lebih memperjelas pemahaman hadîts di atas marilah kita mengingat kembali firman Allah SWT yang termuat dalam surat Asy-Syams, ayat 8 - 10 :

"Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan, (QS. 91:8) sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, (QS. 91:9) dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS. 91:10)."

Dalam hati manusia terdapat dua jenis "bibit penentu", yang satu kita sebut saja sebagai "bibit kebaikan" yang merangsang dan mendorong manusia untuk melakukan amal kebaikan atau perbuatan yang mendekatkan dirinya kepada Allah SWT., sedang yang lainnya kita sebut dengan "bibit kejahatan" yang merangsang manusia untuk melakukan melakukan perbuatan fahsya (keji) atau kemungkaran kepada Allah SWT.

Al-Fujûr merupakan "benih kejahatan" yang dengan istilah lainnya dikenal sebagai nafsu syahwat syaithaniyah yang senantiasa membisiki dan menghembusi manusia untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan tercela lagi berdosa yang akan mengantarkannya ke jalan kefasikan dan berhilir di neraka. Sedang at-Taqwa merupakan "benih kebaikan" yang senantiasa memotifasi dan memobilisasi manusia untuk melakukan amal kebajikan dan pekerjaan yang mendekatkan dirinya kepada Allah SWT.

Dari sini kita dapat mengetahui bahwa pada hati manusia terdapat 2 (dua) kekuatan yaitu kekuatan "Fujur" dan "Taqwa" (sebagaimana yang dipaparkan dalam surat Asy-Syams di atas) yang selalu bertempur untuk saling mengalahkan satu dengan yang lainnya sehingga salah satu dari keduanya menjadi pemenang atau lebih mempunyai pengaruh dalam menentukan perilaku kehidupan "tuannya". Apabila setiap rangsangan "benih kebaikan (At-Taqwa)" ini yang timbul dalam diri manusia selalu direspon dalam bentuk amal shalih secara benar dan kontinue (berkesinambungan) maka dengan sendirinya "benih kebaikan" akan semakin berkembang dan akan mendominasi atau mengusai hati "tuannya". Sehingga ide, pola fikir, keperibadian dan seluruh anggota tubuhnya akan menjadi baik karena mengikuti instruksi-instruksi yang datang dari hati yang dipenuhi dengan "benih kebaikan". Maka jadilah "tuannya" ini termasuk orang-orang beruntung yang mampu membersihkan jiwanya dari nafsu syahwat syaithaniyah karena ia hanya mau merespon bisikan dan panggilan kebaikan (taqwa) saja. Sebagaimana firman Allah SWT:

"Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, (QS. 91:9)

Dan sebaliknya bagi manusia yang lebih sering merespon tuntutan nafsu syahwat syaithaniyahnya maka tindakan tercela lagi berdosa itu dengan otomatis memberikan kontribusi dan mempercepat pertumbuhan serta peluasan "benih-benih kejahatan (fujûr)" sehingga benih ini akan mendominasi hatinya. Dari Abû Hurairah ra bahwa Rasûlullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya orang mukmin, ketika ia berbuat dosa maka (saat itu juga) akan menempel titik hitam di hatinya, jika ia bertaubat dan mencabut (dirinya dari perbuatan dosa tersebut) dan memohon ampunan maka hatinya (kembali) bersih, jika ia menambahinya (dengan perbuatan dosa lagi) maka titik hitam itu bertambah pula di dalam hatinya. Selanjutnya itulah "ran" yang disebutkan dalam firman Allah SWT:

"(Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka)."

Hadits hasan, dikeluarkan oleh Ibnu Majah dalam "Kitab Az-Zuhd, bab Dzikru Adz-Dzunûb.

Pada saat hati manusia dikuasai oleh "benih-benih kejahatan (fujûr)" maka ide, pola fikir, keperibadian dan seluruh anggota tubuhnya akan menjadi buruk karena mengikuti instruksi-instruksi yang datang dari hati yang dipenuhi dengan "benih kejahatan", sehingga jadilah ia termasuk orang-orang yang merugi karena ia telah mengotori dan mencemari jiwanya dengan selalu menuruti nafsu syahwat syaithani, sebagaimana firman Allah SWT:

"Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS. 91:10)."

Dalam kitab Minhajul Qashidîn dikatakan:

Bahwa sesuatu yang paling berharga, paling bernilai dan paling mulia pada diri manusia adalah hatinya. Sedang anggota tubuh hanya sekedar mengikuti dan menjadi pelayan hati, sebagaimana seorang tuan yang memerintahkan hamba sahayanya sebagai pelayannya.

Wallahu’alam

Tarbiyah, Akhlaq 11:28 pm
Ada sebuah fenomena yang terus menggelitik benak saya. Betapa produktifnya para penyanyi menciptakan syair-syair lagu cinta. Dari yang lembut seperti gayanya Ebiet atau Katon, hingga yang kocak dan kadang kelewatan seperti Iwan Fals dan Doel Sumbang. Kalau mendengar lirik-lirik lagu dangdut, bukan main, benar-benar diaduk-aduk emosi cinta itu sedemikian rupa. Dan, sungguh, banyak orang menjadi penggemar dan hanyut dalam lirik-lirik lagu itu.
 
Saya juga melihat fenomena larisnya film-film tema cinta remaja. Jaman saya remaja, dunia layar lebar dihiasi Gita Cinta dari SMA, Kabut Sutra Ungu, dan judul-judul lain yang saya sudah lupa. Beberapa diantara film itu diangkat dari cerbung-cerbung Eddy D. Iskandar dan di-sound track-i lagu-lagu Chrisye. Beberapa tahun lalu diantara film yang dianggap menjadi momentum kebangkitan kembali perfileman nasional adalah Ada Apa dengan Cinta dan dilanjutkan film lain seperti Eiffel, I’m in Love. Saya tidak tahu apa film yang ngetop saat ini. Yang saya dengar televisi kebanjiran sinetron-sinetron Korea dan Jepang yang memang sangat dalem ketika menyibak suasana kejiwaan orang yang kasmaran. Winter Sonata misalnya, bukan hanya menggocang Indonesia, tapi juga di banyak negara Asia lain.
 
Ya, saya bertanya-tanya kenapa tema cinta tak pernah ada habis- habisnya ditulis, disusun liriknya dan kemudian dinyanyikan atau difilemkan. Sampai kemudian saya menemukan tulisan-tulisan Anis Matta dalam Thumuhat (Gelora) Cinta pada majalah Tarbawi. Dia cukup sering mengangkat kisah dari tulisan Ibnul Qayyim; Sampai kemudian seorang sahabat saya memperlihatkan "Taman Orang-orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu" yang ditulis Ibnul Qayyim.
 
Ya, ya … saya menemukan masalah cinta ini disibak Ibnul Qayyim dengan sangat detil dan gamblang. Tadinya saya menduga beliau akan menulis bahwa cinta tertinggi itu bagi Allah dan cinta lain haruslah demi cinta pamuncak itu, selebihnya tulisan akan mengungkap penjabarannya. Saya salah. Ternyata beliau terus menuliskan sisi-sisi kejiwaan orang-orang yang jatuh cinta. Jadi buku ini betul-betul berbicara tentang manusia yang tak mungkin lepas dari jatuh cinta dan merindukan orang yang dicintai.
 
[Saya membuka lagi halaman-halaman awal buku. Cinta dalam bahasa Arab diwakili dengan lima puluh kata berbeda. Tidak! Bahkan ada banyak lagi kata yang bermakna cinta, hanya saja beliau membatasi pada kata-kata yang terkait dengan bahasannya pada buku itu.]
 
Oh, ternyata para ulama dulu pun bicara cinta. Cinta buta, cinta yang membuat gila, cinta yang membuat sakit dan bahkan membuat si pencinta mati karenanya. Ibnul Qayyim engungkapkan gejolak-gejolak cinta yang melanda seorang pemuda yang terkenal shalih dan wara’ kepada seorang perempuan yang ia dengar suara nyanyiannya hingga tanya jawab seorang khalifah kaum muslimin dengan para ulama seputar makna cinta buta. Untuk itu di beberapa tempat pandangan Aristoteles pun dikutipnya. Beliau juga mengangkat tanya-jawab dan fatwa-fatwa ulama terkenal seputar cinta. Bahkan kisah cinta buta ini dijumpai pada masa ketika Nabi Muhammad saw masih hidup, pada kisah Mugits yang begitu tergila-gila mencintai Barirah. Dan Nabi mendiamkan kondisi Mugits dan memakluminya. Ini menjadi salah satu diskusi yang dikembangkan Ibnul Qayyim pada topik apakah cinta buta itu takdir atau sesuatu yang dibuat.
 
Kesimpulan sementara yang saya fahami, cinta itu bak penyakit yang menyerang jiwa. Si pencinta tak pernah tahu kapan cinta merasuk jiwanya dan gejolak cinta itu akan terus mendorongnya untuk memuaskan hasrat cintanya. Karenanya Anis Matta pernah menulis satu kolom berjudul "Kasihanilah Para Pencinta" pada Thumuhat-nya. Tahulah saya tema cinta itu tak akan pernah sepi dari kehidupan manusia. Tema cinta bukanlah untuk dihentikan, tapi untuk diarahkan.
 
Saat saya menulis ini, buku Taman Orang-orang yang Jatuh Cinta tidak di dekat saya, sehingga saya tidak bisa mengutip syair-syair cinta yang buanyak tersebar di dalamnya. Ada beberapa yang saya ingat maknanya. Ini salah satunya:
 
cinta itu membuat engkau buta
akan cela yang dicinta
dan engkau rela
pada apapun keadaannya
cinta itu ketika menghujam membuatmu siap
berkorban untuk yang dicinta
 
Saya masih membaca buku itu (maklum dibaca ketika sudah agak malam saja, sepulang dari kampus). Ada beberapa tujuan. Yang paling dekat adalah untuk memahami diri sendiri yang belakangan kok sedang jatuh cinta (lagi) dan juga sesak memendam rindu … . Yang berikutnya adalah untuk memahami anak-anak yang menjelang remaja. Saya ingin mengajarkan makna cinta yang indah ini secara benar kepada mereka. Jangan sampai mereka menyimpulkan cinta dari tontonan dan bacaan yang tidak benar atau paling tidak manipulatif. Yang berikutnya lagi, saya cukup sering bertemu sahabat-sahabat yang dirundung penyakit cinta dan rindu. Kisah cinta dan rindu ini nampaknya sederhana, tapi setelah diselami permasalahannya tidak sesimpel yang ibayangkan. Dan berikutnya yang terakhir, paling tidak untuk menutup tulisan ini, masalah cinta ini menjadi masalah sosial yang akut. Bukan hanya menimpa para remaja yang terseok-seok atau tersesat ketika mencoba memahaminya, akan tetapi juga pada keluarga-keluarga yang sudah lama menikah tapi masih saja penuh kesulitan saling mengeja arti cinta di rumah masing-masing.
 
Wa Allahu a’lamu bish shawwab.
 
Ust. Adi Junjunan Mustafa, Chiba, Jepang
Tarbiyah 2:02 pm

JAKARTA - Khutbah Iedul Fitri tahun 1424 mengangkat tema "Membangun Kemandirian Bangsa" yang merupakan salah satu syarat kebangkitan sebuah bangsa dari keterpurukan. Selamat menyimak!

 

Jama’ah Shalat Idul Fitri Yang Berbahagia

 

Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam, yang telah menyempurnakan anugerah nikmat-Nya dengan menghadirkan agama Islam ke tengah-tengah kehidupan manusia sehingga mereka dapat memakmurkan dunia secara lurus dan benar.

 

Salawat serta salam kita sampaikan kepada Muhammad Rasulullah SAW yang telah memperjuangkan dakwah Islam ini dengan seluruh waktu dan potensi di sepanjang hidupnya. Demikian pula doa keselamatan kita sampaikan kepada para pengikut dan penerus perjuangan beliau dari generasi sahabat, tabi’in, tabiit tabi’in dan seterusnya hingga nanti tatkala datang hari pembalasan.

 

Kami bersaksi bahwa tiada Tuhan yang patut disembah, dipuja dan ditakuti kecuali Allah dan kami bersaksi bahwa Muhammad itu adalah rasul-Nya dan nabi-Nya. Kami bersaksi bahwa sesungguhnya penyembahan kami, pengabdian kami, kehidupan kami dan kematian kami hanyalah semata-mata bagi-Mu ya Allah, Tuhan Yang Maha Besar dan Maha Bijaksana. Kami juga bersaksi bahwa tiada pembalasan yang lebih kami takuti atas seluruh dosa dan pengingkaran kami, selain kehinaan di dunia dan neraka-Mu yang sangat pedih di akhirat nanti.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laailaha illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd.

 

Jama’ah Shalat Idul Fitri Yang Mudah-Mudahan Dirahmati Allah.

 

Idul Fitri yang dijalani oleh bangsa Indonesia pada hari ini sesungguhnya masih sama dengan yang kita alami pada tahun yang lalu. Kita masih beridul fitri dengan lilitan krisis multidimensi yang menimpa bangsa Indonesia. Kita masih beridul fitri dalam status sebagai bangsa yang terkorup di Asia dan bahkan dunia. Kita masih beridul fitri dengan skandal-skandal besar berbau korupsi, kolusi dan nepotisme dan kondisi masyarakat yang carut marut dengan berbagai penyakit sosial seperti kekerasan, perampokan, minuman keras dan perjudian. Kita masih menjadi bangsa kotor yang jauh dari fitrah kemanusiaan kita sendiri.

 

Ketika kita terus menghadapi krisis berkepanjangan ini, banyak orang yang berupaya untuk mencari akar masalahnya dengan fikiran mereka sendiri. Sebagian orang yang berpikir “kebarat-baratan” menganggap bahwa akar masalah dari krisis ini adalah karena kita tidak berorientasi ke Barat. Sedangkan sebagian orang yang berpikir “ketimur-timuran” menganggap bahwa akar masalah krisis multidimensi Indonesia disebabkan bangsa ini tidak mau berorientasi ke Timur. Apakah yang salah dalam sistem kehidupan kita berbangsa dan bernegara ? Apakah benar orientasi ke barat atau ke timur menjadi biang keladi kemunduran besar bangsa ini ? Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah SWT telah memberikan peringatan yang paling hakiki dalam masalah ini dengan firman-Nya :

 

“Bukanlah menghadapkan wajah kamu ke timur dan ke barat itu suatu kebajikan. Tetapi sesungguhnya kebajikan itu adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta, serta (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, serta orang-orang yang menepati janjinya apabila berjanji, serta orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (Surat Al baqarah ayat 177).

 

Jelas bahwa akar krisis bangsa ini bukan terletak pada formalitas apakah kita menghadapkan wajah bangsa ini ke arah barat atau timur, ke utara atau selatan, ke atas atau bawah. Akar dari krisis ini juga bukan terletak pada berkuasanya partai barat atau partai timur, partai utara atau partai selatan, partai atas atau partai bawah. Tetapi akar krisis itu terletak pada ketidak-fahaman kita tentang makna kebajikan itu sendiri yang sesungguhnya harus hadir dalam diri kita. Kebajikan itu seseungguhnya hanya datang dari ajaran, syari’at dan petunjuk Allah SWT karena sesungguhnya barat dan timur itu kepunyaan Allah SWT.

 

“Kepunyaan Allah-lah timur dan barat. Dia memberi pimpinan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (Surat Al Baqarah ayat 144).

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laailaha illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd.

 

Jama’ah Shalat Idul Fitri Yang Mudah-Mudahan Dicintai Allah.

 

Sesungguhnya Allah telah memberi kita kemampuan untuk menjadi bangsa yang mandiri – tidak tergantung kepada orientasi nilai-nilai barat atau nilai-nilai timur – asalkan saja syarat-syarat sebagaimana yang tercantum dalam Surat Al Baqarah ayat 177 itu dapat dipenuhi dengan baik oleh kita. Syarat-syarat itu adalah syarat-syarat fundamental bagi manusia untuk membangun kebajikan kehidupan mereka yaitu :

 

Pertama, adanya keimanan pada diri pribadi, masyarakat, bangsa dan negara Indonesia ini. Inilah syarat pertama dan utama terbangunnya kebajikan yang akan menjadi sumber kekuatan negeri ini. Benar bahwa sila pertama dasar negara kita adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, tetapi kenyataannya kita selalu mengelak dari prinsip yang sangat mendasar ini dengan menyatakan bahwa negara kita bukan negara agama dan juga bukan negara sekuler. Kita juga tidak mau disebut sebagai negara yang bukan-bukan. Dengan tidak mengakui prinsip kewajiban menjalankan ajaran agama bagi para pemeluknya, bagi seluruh warga negara, maka berarti kita telah mengingkari hakikat utama dari prinsip pertama dasar negara kita sendiri. Tetapi kita malu untuk mengakui bahwa negara kita sesungguhnya adalah negara sekuler yang menempatkan Tuhan hanya sebagai pajangan belaka.

 

Akibat dari iklim kehidupan seperti ini banyak diantara kaum muslimin yang mengaku mempertuhankan Allah, akan tetapi menempatkannya lebih rendah dari seorang direktur perusahaan. Mereka tidak memiliki rasa takut ketika melanggar perintah Allah atau mengerjakan larangan-Nya. Mereka merasa tidak diawasi kehidupannya oleh para malaikat yang mencatat segala perilaku mereka. Mereka tidak peduli dengan kehidupan lain setelah kehidupan mereka di dunia ini dimana segala perbuatan akan diganjar dengan pahala dan siksa. Mereka memiliki peraturan hidup dalam kitab suci tetapi tidak pernah disentuhnya, apalagi dipahami dan diamalkan isinya. Mereka mendengar utusan-utusan Allah datang ke dunia tetapi tak peduli dengan misi dan sepak terjang utusan yang datang itu, apalagi menjadikannya sebagai suri teladan bagi dirinya. Harus kita akui bahwa dalam kehidupan bangsa ini Tuhan lebih banyak menempati wilayah slogan yang hanya disebut dalam upacara-upacara dan perayaan-perayaan. Tuhan tidak hadir dalam kenyataan perilaku kehidupan kita sehari-hari.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laailaha illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd.

 

Jama’ah Kaum Muslimin Yang Mudah-Mudahan Diridloi Allah.

 

Syarat kedua untuk memperoleh kebajikan yang hakiki adalah dengan menggiatkan semangat berkorban kepada pihak-pihak yang membutuhkannya seperti kerabat dekat, orang-orang miskin, anak-anak yatim, orang yang meminta-minta, orang-orang yang terlantar dalam perjalanan (musafir) dan membebaskan hamba sahaya dari perbudakan. Allah SWT menekankan tentang perlunya semangat yang tinggi dalam berkorban dengan pernyataan bahwa sesuatu yang dikorbankan adalah sesuatu yang sangat dicintainya. Ini berarti pengorbanan yang diharapkan adalah pengorbanan yang prima karena melepaskan sesuatu yang disenangi dan dicintai bukanlah sebuah perkara yang mudah. Dengan hidupnya jiwa pengorbanan maka hak-hak sosial warga masyarakat akan senantiasa terjaga dan terlindungi.

 

Tetapi apa yang terjadi pada diri sebagian bangsa kita hari ini adalah sebaliknya, bukannya jiwa pengorbanan yang dimiliki tetapi justru jiwa penyabotan dan penyerobotan yakni senang merampas harta dan milik orang lain. Seolah-olah negeri ini tak putus-putusnya dari rongrongan korupsi yang menghabiskan seluruh potensi bangsa. Kebijakan penguasa lama yang korup telah menyebabkan sendi-sendi perekonomian negeri ini tidak memiliki daya tahan menghadapi badai krisis ekonomi. Tetapi anehnya, penguasa baru yang seharusnya datang sebagai penyelamat justru ikut menyabot kekayaan rakyat dalam berbagai kasus yang lebih mengerikan. Kita tentu masih ingat pada penyelewengan dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), kasus Bank Bali, penjualan harta negara dengan sangat murah demi mengejar keuntungan komisi, pengeluaran harta negara untuk membeli barang-barang tak perlu dengan transaksi yang tidak transparan dan lain sebagainya.

 

Bahkan baru-baru ini kita dihebohkan kembali oleh dua peristiwa memalukan. Pertama pembobolan Bank BNI seniali 1,7 triliun dan kedua tragedi pencurian kayu dari hutan-hutan lindung yang telah mendatangkan dampak kesengsaraan luar biasa. Musibah banjir besar sungai Bohorok telah menghancurkan harta benda rakyat dan menyebabkan ratusan nyawa melayang dalam sekejab. Bencana itu terjadi karena para pencuri kayu dan perampok hutan yang sesungguhnya mudah dikenali itu terus menerus dilindungi oleh para penguasa kita sendiri. Jiwa berkorban dapat dikatakan hampir mati pada bangsa kita tetapi yang merajalela adalah jiwa perompak dan penyabotan atas hak-hak orang lain.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laailaha illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd.

 

Jama’ah Shalat Idul Fitri Yang Berbahagia.

 

Syarat ketiga untuk memperoleh kebajikan hakiki adalah dengan mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Keimanan manusia dapat dipelihara dengan cara terus menerus mengadakan hubungan dengan Sang Pencipta, diantaranya melalui pelaksanaan shalat. Sesungguhnya bacaan dalam shalat adalah nasihat spiritual agung yang senantiasa dibacakan manusia kepada dirinya sendiri. Nasehat yang diingat oleh diri sendiri seharusnya menjadi nasehat yang sangat efektip. Oleh karenanya bagaimana mungkin seorang ahli shalat akan melakukan tindakan keji dan munkar jika dalam sehari semalam tujuh belas kali ia berdoa : ihdinas shirotol mustaqim (tunjukkan kami jalan yang lurus).

 

Zakat adalah sarana awal penumbuhan jiwa pengorbanan bagi seorang muslim karena dengan kewajiban itu seseorang harus mengakui bahwa dalam hartanya terdapat hak sosial yang tak terhindarkan. Oleh karena itu pemerintah dapat memaksa seseorang yang tidak mau mengeluarkan zakat atas hartanya yang telah memenuhi standar minimal (nishab). Tidak mungkin bagi seseorang yang mengabaikan kewajiban zakat tumbuh jiwa pengorbanannya, apalagi atas harta yang sangat dicintainya.

 

Sayangnya, kewajiban-kewajiban minimal dan asasi seorang hamba seperti shalat dan zakat pun masih banyak diabaikan oleh kaum muslimin. Jika kewajiban-kewajiban seperti ini ditunaikan dengan benar niscaya tidak akan terjadi kerusakan yang begitu parah pada negeri ini. Masalahnya, seringkali kewajiban ini – kalaupun dilakukan - hanya menjadi ritual dan formalitas belaka tanpa penghayatan yang sungguh-sungguh sehingga kontradiksi-kontradiksi sering terjadi. Bagaimana mungkin seorang yang melaksnakan shalat terlibat dalam korupsi dan penipuan keji yang mengatasnamakan rakyat ? Tetapi kenyataannya hal itu terjadi. Bagaimana mungkin seorang yang dikenal sering memperlihatkan sedekahnya, terutama pada hari-hari raya Islam, pada saat yang sama juga menjadi seorang perampok kelas satu yang menguras harta negara ? Tetapi kenyataannya hal itu juga terjadi.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laailaha illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd.

 

Jama’ah Shalat Idul Fitri Yang Mudah-Mudahan Dirahmati Allah.

 

Syarat keempat untuk memperoleh kebajikan hakiki adalah dengan menunaikan janji apabila ia berjanji. Sesungguhnya janji itu sendiri mempunyai nilai positip bagi orang yang mengeluarkannya karena akan menguatkan azam untuk berbuat sesuatu. Ucapan syahadat sendiri sesungguhnya merupakan janji seorang muslim kepada Rabb-nya dan hal ini terus menerus diulangi dalam shalat mereka. Tak hanya syahadat, masih banyak lagi dalam momen-momen kehidupan manusia janji-janji diucapkan dan diikrarkan.

 

Seorang presiden, seorang menteri, seorang anggota dewan, seorang gubernur, bupati, camat dan lurah ketika dilantik mengucapkan janji. Seorang pemimpin partai, organisasi masyarakat, organisasi profesi ketika dilantik mengucapkan janji. Bahkan sepasang pengantin pun ketika melaksanakan akad nikah juga mengucapkan janji. Kehidupan manusia dipenuhi oleh janji-janjinya sendiri. Oleh karena itu sudah dapat dibayangkan bagaimana nasib suatu bangsa apabila baik para penguasanya maupun rakyatnya ternyata adalah orang-orang yang senang mengingakari janjinya.

 

Justru inilah yang kita hadapi dalam banyak kenyataan kehidupan kita. Janji lebih banyak dikeluarkan hanya sebagai pemanis bibir dan penghibur belaka bagi orang yang mendengarnya. Maka tidaklah heran jika ada presiden atau pejabat yang anak-anak dan keluarganya mendirikan perusahaan-perusahaan pencaplok proyek-proyek yang berada di sekitar kekuasaan. Padahal ketika dilantik presiden atau pejabat itu berjanji tidak akan melakukan KKN dan tidak akan membiarkan keluarganya memanfaatkan kekuasaannya untuk berbisnis. Tidak heran jika ada seorang menteri yang membiarkan korupsi dan kejahatan merajalela di lingkungan kerjanya padahal ketika di lantik ia berjanji akan memberantas tikus-tikus di instansinya sampai ke akar-akarnya. Tidak heran pula jika ada pemimpin partai yang berjanji akan memperjuangkan Syari’at Islam tetapi tenang-tenang saja membiarkan pelanggaran syari’at Islam terjadi di sekitar diri, keluarga, kepengurusan partai dan ruang lingkup kerjanya.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laailaha illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd.

 

Jama’ah Shalat Idul Fitri Yang Mudah-Mudahan Dicintai Allah.

 

Syarat kelima adalah bersabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Kesabaran apakah yang diperlukan dalam sebuah situasi yang serba sulit ? Kesabaran itu tidak lain adalah kesabaran untuk bertahan dan pantang menyerah atau bersikap istiqomah. Justru seharusnya dalam situasi krisis seperti ini kreativitas dan keberanian diperlukan dalam upaya memecahkan kebekuan dan kebuntuan persoalan. Sebaliknya kepanikan dan ketakutan akan membuat seseorang mati langkah dan menyerah sebelum waktunya. Syarat kesabaran juga mengisyaratkan bahwa ujian-ujian akan datang kepada orang-orang yang teguh keimanannya, rela berkorban, taat beribadah dan konsisten terhadap janji-janjinya. Kepada orang-orang seperti inilah biasanya musuh-musuh Allah akan melancarkan serangan dan kebenciannya.

 

Sebagai individu orang-orang yang istiqomah biasanya akan mendapat tekanan dari orang-orang yang maksiat kepada Allah. Mereka diteror, diganjal, difitnah dan bahkan tak jarang disiksa dan dilenyapkan eksistensinya. Inilah resiko-resiko yang harus ditanggungnya. Apabila kesabaran ini tidak ada maka tak jarang orang-orang yang pada awalnya baik pada akhirnya terjerumus ke dalam komunitas orang-orang maksiat. Kebaikan dirinya hanya tinggal kenangan lama karena ia kini telah menjadi bagian dari sistem yang korup dan menindas. Ia berada dalam istana yang sesungguhnya penjara bagi dirinya karena keberadaannya tidak lagi bermanfaat bagi dirinya apalagi bagi masyarakatnya.

 

Sebagai bangsa yang berupaya untuk mempertahan kemandirian ekonomi, sosial dan politiknya biasanya bangsa itu juga akan mengalami tekanan-tekanan dari bangsa-bangsa besar yang menghendaki bangsa ini mengekor kepada kebijakannya. Semakin kuat keinginan untuk melepaskan diri maka semakin kuat pula tekanan diberikan kepadanya. Inilah yang biasanya membuat para penguasa yang lebih menginginkan perlidungan negara asing daripada pembelaan rakyatnya dan pemimpin bangsa ini rela bertekuk lutut di hadapan para penjajahnya.

 

Bangsa Indonesia merasakan hal ini dalam percaturan politik internasional sekarang ini. Betapa bangsa ini telah didikte oleh kekuatan-kekuatan asing dalam bidang ekonomi, sosial dan politik. Kita sebagai rakyat telah menentang invasi Amerika dan sekutunya ke Afghanistan dan Irak tetapi dunia tidak mempedulikannya. Apa yang kita lihat kini adalah kebohongan yang dilakukan oleh negara-negara tersebut terbongkar dengan sangat nyata oleh bangsa mereka sendiri. Tetapi pemimpin-pemimpin yang tidak sabar di berbagai belahan dunia telah memaksakan isu-isu terorisme menjadi agenda terhadap rakyatnya sendiri seraya melupakan siapa yang sesungguhnya merupakan teroris sejati di jagad ini.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laailaha illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd.

 

Jama’ah Shalat Idul Fitri Yang Mudah-Mudahan Dirahmati Allah.

 

Sesungguhnya jika kita akan membenahi krisis bangsa ini tidak ada jalan lain kecuali kita harus teguh memegang nilai-nilai yang diajarkan dan disyariatkan Allah SWT kepada kita. Sesungguhnya Islam adalah kekayaan yang tak ternilai harganya bagi kehidupan kita tetapi kita telah mengabaikan dan bahkan memendamnya dalam-dalam. Kaum muslimin adalah bagian terbesar dari bangsa ini dan bahkan bagian terbesar dari komunitas kaum muslimin di dunia. Nasib masa depan kita akan sangat tergantung pada penyikapan kita terhadap ajaran agama kita, apakah akan kita jadikan slogan semata atau akan kita hidupkan dalam tingkahlaku pribadi, bermasyarakat dan bernegara kita.

 

Inilah saatnya kita menentukan sikap dengan tegas. Inilah saatnya kita memilih jalan hidup yang menjanjikan masa depan. Inilah saatnya bagi kita untuk tidak bersifat ragu-ragu dan inilah saatnya untuk tidak membebek terhadap kekuasaan yang tirani dan menjajah. Ketika kita meninggalkan orientasi barat dan timur, utara dan selatan, atas dan bawah, kemudian kita hanya menghadapkan wajah kita kepada qiblat yang satu, maka hanya ada satu pilihan hidup kita yaitu sabar dalam istiqamah. Kita tinggalkan orang-orang yang hatinya berat untuk berpihak kepada Allah SWT karena mereka lebih senang dengan pujian dan keterikatan kepada musuh-musuh Allah. Mereka merasa tidak memiliki percaya diri untuk bersikap tegas terhadap kezaliman dan kemungkaran karena mereka telah tergoda untuk menikmati hasil-hasil dari sikap-sikap tersebut. Kita tidak pedulikan orang-orang yang merasa iri, dengki, hasad dan benci terhadap keberhasilan-keberhasilan orang-orang yang beriman ketika mereka mengamalkan ajaran Allah dengan konsisten. Firman Allah SWT :

 

“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (ummat Islam) ummat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menjadikan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah amat Pengasih dan Penyayang kepada manusia.” (Surat Al Baqarah ayat 143)

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laailaha illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd.

 

Jama’ah Shalat Idul Fitri Yang Mudah-Mudahan Dicintai Allah.

 

Demikianlah dalam khutbah yang singkat ini kita mengingat-ingat kembali tuntunan Allah SWT dalam bersikap dan bertindak sebagai seorang muslim, terutama dalam menumbuhkan jiwa kemandirian, tidak bergantung kepada kekuatan Barat maupun Timur. Tetapi hanya bergantung kepada kekuatan Allah SWT saja dan orang-orang beriman yang mendukungnya. Akhirnya marilah kita berdoa kepada Allah SWT semoga kita diberi keselamatan dan kesabaran dalam mengarungi lautan kehidupan baik sebagai diri, bangsa dan negara. [PKS-OL]