Keikhlasan hati, kebersihan hati nurani, kesucian jiwa, ketulusan kata-kata, dan amanah dalam menunaikan tugas, semuanya itu merupakan akhlak mulia. Untuk menyempunakan akhlak itulah Rasulullah saw diutus agar setiap orang menjadi batu bata bagi pembangunan masyarakat yang baik.
baca selengkapnya..Rasulullah saw tidak mempunyai manhaj selain Al Quran. Beliau tidak mempunyai fakultas, institut, sekolah untuk mendidik selain masjid. Murid-muridnya adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan sahabat-sahabat lainnya. Dari madrasah itulah peradaban Islam bertolak untuk mengubah dunia dengan manhaj-nya. Adakah Anda melihat sebuah madrasah yang lebih bersih dan lebih cerdas dari madrasah itu? Satu kaum yang duduk di atas pasir. Universitasnya dihampari pelepah kurma. Mereka sering diguyur hujan sambil menunggu sesuatu turun dari langit. Pembatasnya adalah iman. Dan kesatuan hati menambah ikatan mereka. Mereka para penggembala kambing, tanpa alas kaki dan dengan pakaian bersahaja. Namun mereka menjadi berwibawa dengan agama ini.
baca selengkapnya..Salah satu aspek yang sering kita lupakan dalam mendidik anak-anak adalah tarbiyah ruhiyah. Jangankan untuk anak, untuk diri sendiri pun kita sering lupa dengan tarbiyah bentuk ini. Padahal, seperti halnya akal dan pikiran perlu mendapat pendidikan, ruh kitapun wajib mendapatkan haknya.
baca selengkapnya..AMAL saleh merupakan padanan keimanan. Amal saleh sebagai bentuk kebaikan dan kebajikan kepada sesama manusia (hablum minannas). Sedangkan keimanan merupakan bentuk ketaatan kepada Allah SWT (hablum minallah). Kedua unsur ini saling mengisi dan menunjang. Belum lengkap keimanan seseorang bila tidak disertai amal saleh. Belum sempurna amal saleh seseorang bila tidak disertai keimanan kepada Allah SWT. Tunduk patuh kepada aturan dan perintah-Nya.
baca selengkapnya..Zakat menurut bahasa artinya adalah “berkembang” (an namaa`) atau “pensucian” (at tath-hiir). Adapun menurut syara’, zakat adalah hak yang telah ditentukan besarnya yang wajib dikeluarkan pada harta-harta tertentu (haqqun muqaddarun yajibu fi amwalin mu’ayyanah) (Zallum, 1983 : 147).
baca selengkapnya..Kisah ini sangat penting untuk memberikan pelajaran pelajaran berharga tentang makna keikhlasan sekaligus juga tentang istiqomah dan iltizam seorang hamba ketika dia memilih untuk menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya tempat untuk menyandarkan ke-tawakal-an sang hamba. Tawakal dan berserahnya pemuda itu kepada Allah SWT menyebabkan bukan saja dia seorang, malah keseluruhan rakyat mendapat hidayah dan beriman kepada Allah SWT. Begitu mulianya kisah ini sehingga Allah SWT berkehendak mengabadikannya dalam Al-Quran di surat Al-Buruj (Gugusan Bintang) dalam juz-amma, dan kemudian diterangkan dengan jelas oleh Nabi kita Muhammad SAW dalam hadits beliau seperti berikut ;
baca selengkapnya..Ushul Fiqh
Bab 1: Hukum Syara’
Pengarang: Prof. Muhammad Abu Zahrah
(Review Bab Pendahuluan)
Ditinjau dari segi ethymologi, ushul fiqh terdiri dari mudahf (lafazh ”ushul”) dan mudhaf ilaih (lafazh ”fiqh”). Fiqh (secara ethymologi) berarti pemahaman yang mendalam tentang tujuan suatu ucapan dan perbuatan . Fiqh secara terminologi adalah ”Pengetahuan tentang hukum-hukum syara’ mengenai perbuatan manusia, yang diambil dari dalil-dalil yang terinci (mendetail)”. Adapun ’ashl (jamaknya: ”ushul”) menurut ethymologi adalah dasar (fundamen) yang diatasnya dibangun sesuatu. Pengertian ini sama dengan pengertian ushul secara terminologi, karena ushul fiqh secara terminologi adalah ”dasar yang dijadikan pijakan oleh ilmu Fiqh”.
baca selengkapnya..Waktu engkau masih kanak-kanak
Bagiku kau laksana kawan sejati,
Dengan wudhu, Aku, kau sentuh……..
Dalam keadaan suci Aku kau pegang……….
Kau junjung…., kau pelajari…..
Setiap hari…… aku, kau baca dengan suara
lirih….atau bahkan dengan lantangnya,
Dan seusainya, kau cium Aku dengan sepenuh
mesra….
Kini, engkau telah dewasa, atau bahkan kian
matang…….
Namun, nampaknya kini, engkau sudah tak berminat
lagi padaku……
Barangkali….., menurutmu, Aku hanya bacaan usang
yang menjadi bagian sejarah kanak-kanakmu….
Aku, barangkali….., hanya bacaan yang menurutmu
tidak menambah pengetahuan dan wawasan sama
sekali…….
Kini, Aku kau simpan….., sedemikian
rapihnya…………..
Rapih….. sekali……
Hingga kadang engkau bahkan lupa….., di mana
menyimpannya…..
Atau mungkin aku sudah kau anggap sekedar penghias
rumah, pelengkap koleksi buku-bukumu…..
Atau kadangkala….., aku kau jadikan mas kawin,
agar engkau dianggap bertaqwa…
Atau aku kau buat penangkal bencana, untuk
menakuti hantu, setan, tuyul, jin dan
sebangsanya…..
Kini aku tersingkir……
Sendiri…..
Kesepian…..
Di atas, atau di dalam lemari,
di dalam laci….,
di sudut-sudut ruang……
Kau acuhkan Aku……
Dulu….. pagi-pagi sekali……
Surat-surat yang ada padaku engkau baca beberapa
halaman….
Sorenya…, kembali kau baca aku, ramai-ramai,
dengan teman-temanmu di surau…..
Kini…..,
pagi-pagi…..,
Engkau membaca koran pagi, atau menonton berita di
TV….,
sambil minum kopi…..
Di waktu senggang…..
Kau sempatkan membaca buku karangan manusia……,
yang sesekali kau bahas dan jadikan topik
perbincangan dengan kolega-kolegamu….
Sementara aku……
Aku adalah rangkaian ayat-ayat Cinta dari Sang
Maha Pencipta…..
Namun, engkau sampai hati untuk
mencampakkannya……,
mengabaikannya,
melupakannnya………
Waktu berangkat kerjapun, kadang kau lupa untuk
sekedar membaca pembuka surat-suratku….
"Bismillahirrahmaanirrahiim"
Di perjalanan….
Engkau pun asyik menikmati musik-musik duniawi…
Tidak ada kaset yang berisi ayat-ayat Cinta dari
Rabb-mu, di laci mobilmu….
Di meja kerjamu….
Tidak ada aku, untuk kau baca sebelum memulai
kerja…,
dan pelipur penat batin di tengah-tengah kesibukan
harimu…..
Email temanmu yang kau dahulukan….., sementara
aku tersiakan…
Engkau terlalu sibuk kini…..
Dengan segala urusan dunia yang melenakan…
Benarlah dugaanku, bahwa engkau kini sudah
benar-benar melupakanku……
Saat malam tiba…, engkau tahan duduk berjam-jam
di depan TV,
untuk menyaksikan pertandingan liga Italia,
sinetron, atau
tayangan-tayangan komersial buatan manusia….
Membawa tugas-tugas kantor yang bertumpuk……
Bergadang hingga larut untuk
menyelesaikannya…………..
Engkau tahan duduk berjam-jam di depan komputer
untuk itu…….
Engkau tahan untuk yang lain….., namun kau
sisakan kantuk dan letih untukku…….
Waktu pun terus bergulir
Aku semakin terlihat kusam di tempatnya…..
Bersimbah debu, atau bahkan dimakan kutu……
Seingatku………..
Hanya sesekali kini kau sentuh aku…..
Di awal Ramadhan…., dan itupun hanya beberapa
lembar dariku saja yang sempat terbaca….
Bacaanmu pun tak lagi semerdu dulu….
Lafadzmu pun terasa kaku….
Engkau kini membacaku dengan terbata-bata……
Padahal…, setiap waktu yang mengalir….,
mengantarkanmu semakin cepat ke liang kubur……
Duhai…………
Apakah koran, TV, radio dan komputer, dapat
memberimu syafa’at…..,
saat engkau sendiri di dalam kubur, menanti
tibanya hari kiamat….?
Saat engkau diperiksa oleh para malaikat
pesuruhNYA…..?
Hanya ayat-ayat CintaNYA yang ada padaku, dapat
menyelamatkanmu…..
Seandainyalah kau baca aku selalu…….,
Kau resapi dan amalkan……., niscaya aku akan
datang menolongmu….
Sebagai pemuda gagah nan tampan…..
Aku akan membantumu membela diri…….
Bukan koran……, TV, radio atau apapun teknologi
buatan manusia…….
yang kau agungkan dan kau dewakan itu…..
Duhai sahabatku……
Peganglah aku lagi…….., bacalah aku lagi
setiap hari…..
Karena di dalamnya ada Lafadz-lafadz Cinta dari
PenciptaMu….
Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha
Mengetahui…….
Dari Sang Penguasa alam semesta……
Yang tersampaikan melalui kejadian-kejadian
mulia…, oleh Jibril kepada Muhammad SAW…..
Duhai sahabatku…..
Sentuhlah aku kembali…, seperti dulu……
Baca dan pelajarilah aku lagi……
Di setiap datangnya pagi dan petang……
Seperti dulu…..,
dulu sekali…….. di surau itu……
Jangan kau biarkan aku dalam sepi yang bisu…..
Karena aku ada……, untuk menuntun
jalanmu………
Akulah panduan hidup dari Sang Maha Hidup……..
Aku yang akan memberimu keindahan hidup sejati….
dunia-akhirat…….
————————————–
Itulah ayat-ayat Allah, Kami bacakan ayat-ayat itu
kepadamu dengan benar; dan tiadalah Allah
berkehendak untuk menganiaya hamba-hamba-Nya.
(QS:3:108)
Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang
dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan
atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya
orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentu
Al Qur’an itulah dia). Sebenarnya segala itu adalah
kepunyaan Allah. Maka tidakkah orang-orang yang
beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah
menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah
memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Dan
orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana
disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu
terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga
datanglah janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak
menyalahi janji.
(QS: 13:31)
Katakanlah: "Al Qur’an itu diturunkan oleh (Allah)
yang mengetahui rahasia di langit
dan di bumi". Sesungguhnya Dia adalah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS : 25:6)
Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik
(yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya)
lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit
orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian
menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu
mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab
itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan
barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada
seorang pun pemberi petunjuk baginya.
(QS : 39 : 23)
Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur’an ini
kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya
tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah.
Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk
manusia supaya mereka berpikir.
(QS : 59 : 21)
Saduran dan modifikasi
Dikutip dari buku
" Majmu’ Syafaat - Mengambil Manfaat Al Quran"
